“Untuk membangun persaudaraan yang sejati, dibutuhkan martir! Ketika Yesus menjalani kemartiran, murid-murid yang tercerai berai dipersatukan kembali. Untuk menjadi martir, tentu tidak harus selalu dengan menumpahkan darah! Menjadi martir berarti rela berbagi hidup! Contoh jelasnya, Pesparani Nasional II ini tidak akan terlaksana, kalau tidak ada LP3KN, LP3KD, panitia pusat dan daerah, peserta yang rela berkorban, pendukung lain yang memungkinkan Pesparani II berlangsung. Pengorbanan inilah yang dimaksudkan dengan kemartiran, sangat konkrit,” kata Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Jumat (28/10) sore.

Hal tersebut disampaikan Bapa Kardinal saat menyampaikan homili dalam Perayaan Ekaristi pada pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional II 2022 di Stadion Oeipoi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bapa Kardinal menambahkan, “Gereja pun tidak akan tetap bersatu kalau tidak ada pribadi-pribadi yang rela memberikan diri, merawat, dan mengembangkan kesatuan kita. Begitupun pula kesatuan kita sebagai bangsa – yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda – tidak akan lestari kalau kita tidak rela ikut ambil tanggung jawab sejarah untuk merawat, mencari jalan-jalan baru untuk mengembangkan persaudaraan dan kesatuan. Semoga Pesparani Nasional II ini menjadi pendorong kita membangkitkan bakti untuk Tuhan dan tanah air.” Bapa Kardinal juga mengajak hadirin di stadion untuk berdiri dan mengungkapkan bakti bagi bangsa dengan menyanyikan bersama lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.

Perayaan Ekaristi menandai awal pembukaan Pesparani Nasional II 2022. Selain Bapa Kardinal sebagai selebran utama, juga dipersembahkan bersama sejumlah uskup dan para imam. Usai Misa Kudus, berlangsung seremoni pembuka Pesparani. Pada kesempatan ini, hadir Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi, Ketua LP3KN Adrianus Eliasta Meliala, Ketua KWI, Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, para biarawati, ribuan umat Katolik, serta umat lintas agama yang memenuhi seluruh tribun stadion. Pesparani diikuti diikuti anggota kontingen dari 34 provinsi se-Indonesia. Acara pembukaan Pesparani berlangsung sangat meriah, apalagi dengan menghadirkan tarian kolosal – diikuti sepuluh ribu penari, pesta kembang api. Semakin semarak dengan partisipasi beberapa kelompok paduan suara dan penyanyi lokal. Pesparani Nasional II (selanjutnya: Pesparani) berlangsung 28-31 Oktober 2022.

Pesparani dibuka resmi oleh Menteri Agama RI Yaqut Cholil Quomas secara virtual yang ditayangkan pada dua layar videotron stadion. Dalam sambutannya, Menteri Yaqut mengatakan, “Pesparani menjadi sarana pembinaan umat Katolik Indonesia serta mendorong pengembangan seni budaya Gereja dengan sentuhan lokal. Saya berharap umat Katolik dapat menunjukkan sportivitas dan kreativitas dalam mengapresiasi seni budaya Indonesia, menginkulturasikan diri dalam tradisi dan kebiasaan dan budaya musik, serta nyanyian dalam lingkungan Gereja Katolik.”

Menteri Yaqut menambahkan, “momentum ini (Pesparani) menjadi sarana berkontribusi umat Katolik Indonesia dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai penguatan nilai-nilai keberagaman dan toleransi melalui pelibatan umat beragama dalam perhelatan ini. Saya berharap NTT mendapat dampak positif dari perayaan Pesparani ini yang berkelanjutan dan semoga keceriaan dalam Pesparani ini menjadi semangat dan pendukung bagi seni dan budaya dalam beribadah.  Saya doakan kesuksesan penyelenggaraan Pesparani Nasional II di Kupang ini. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa meridhoi segala ikhtiar yang kita lakukan ini untuk mewujudkan Indonesia Maju melalui persaudaraan yang dibangun dengan penyelenggaraan Pesparani Katolik Tingkat Nasional II di Kupang, Nusa Tenggara Timur.”

Sebelum peresmian Pesparani secara virtual oleh Menteri Agama RI, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan sambutannya penuh semangat, “Kita tidak lagi melihat perbedaan-perbedaan sebagai sesuatu yang memisahkan kita. Tapi, itu bagaikan bagian tubuh yang tidak bisa kita penggal satu sama lainnya. Kita satu walaupun berbeda-beda, beragam; namun menjadi satu kekuatan dan energi yang besar dalam membangun bangsa ini. Sebab itu, sebagai orang Kristen, saya tidak suka menggunakan (istilah) minoritas. Saya anak bangsa Indonesia. Tidak ada mayoritas – minoritas. Saya berharap, kita semua bersikap seperti itu. Pada hari ini, pada kesempatan ini, kita suarakan hal itu dalam semangat Pesparani. Bernyanyi dengan indah, Simponi yang menyatukan kita, keragaman warna-warni yang menjadikan kita satu. Itu kekayaan terbesar dari bangsa ini. Jangan dirusak karena kita bisa hancur berkeping-keping jadinya!”

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, pada awal laporannya, Ketua Panitia Pesparani Nasional II 2022 yang juga mantan Ketua NU NTT Drs. H. Jamaludin Ahmad, MM berterima kasih dan bersyukur atas tanggung jawab yang diberikan langsung oleh Gubernur NTT dan mendapat respon positif banyak pihak. “Saya merasa dikuatkan saat menerima tanggung jawab ini dengan suka cita. Bagi saya, ini bentuk/wujud dari kepercayaan yang besar, ekspresi yang besar dari semangat keberagaman umat beragama di NTT, yang dikenal ungkapan ‘ nusa terindah dengan toleransinya’ dengan slogan ‘Katong Semua Bersaudara’,” ucapnya. H. Jamaludin menyampaikan laporan seputar penyelenggaraan Pesparani.

Dua Kontingen Keuskupan Padang

Sementara itu, di Keuskupan Padang terdapat dua kontingen Pesparani Nasional II, yakni Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau. Pelepasan kontingen Sumatera Barat berlangsung di salah ruang VIP Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM), Rabu, 26 Oktober 2022, oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Syaifullah. Ketua LP3KD Provinsi Sumatera Barat dan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat ikut serta dalam pelepasan kontingen ini. Di depan 47 personil kontingen (35 peserta lomba dan 12 peserta pendukung), Syaifullah menyampaikan permohonan maaf Gubernur Sumatera Barat (H. Mahyeldi Ansharullah) tidak bisa melepas kontingen, karena selepas kegiatan dinas di Jakarta bersambung ke Palembang.

“Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat/Kesra Kantor Gubernur Sumbar pun masih berada di Jakarta. Saya pun baru tiba pagi ini di Padang. Atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, saya sampaikan selamat mengikuti Pesparani Nasional II ini. Semoga sukses, lancar dalam perjalanan, dan diberi banyak kemudahan. Pun, dalam lindungan Yang Mahakuasa di lokasi kegiatan, kesehatan dan stamina terjaga. Hati-hati dalam hal makanan dan cuaca yang kadang kurang bersahabat akhir-akhir ini,” ujar Syaifullah.

Pada bagian akhir sambutan singkatnya sebelum melepas resmi, Syaifullah menambahkan, “untuk momen yang bersifat lomba semacam ini, perlu persiapan fisik, mental, psikologis. Janganlah terjadi segala persiapan yang telah dilakukan perlu kesiapan fisik, mental, psikologis. Janganlah terjadi, segala persiapan yang telah dilakukan di sini, terkena mental kita di Kupang. Semua persiapan selama ini seakan hilang dan lenyap. Maka, sungguh perlu dipersiapkan psikologis kita. Perhatikan juga percakapan, pergaulan selama berada di lokasi. Jangan sampai menyinggung perasaan dari teman yang berasal dari provinsi lainnya.”

Sementara itu, kontributor GEMA dalam kontingen Riau, Ciska Debora Sihombing menyampaikan kabar pelepasan kontingen Riau secara resmi oleh Gubernur Riau – diwakili Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Riau (Jenri Salmon Ginting) – di Aula Pastoran Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru, Selasa (25/10). Pelepasan kontingen ditandai pemukulan gong Kaban Kesbangpol Provinsi Riau, didampingi Ketua Panitia Keberangkatan (Jolly Tinambunan). Pada kesempatan ini turut hadir Penasehat Rohani LP3KD Riau (P. Emilius Sakoikoi, Pr), Ketua LP3KD Provinsi Riau (Saurman Sitanggang),  Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Riau (Alimasa Gea), Kabid Kewaspadaan Nasional & Penanganan Konflik (Hendriyadi Wijaya Kusuma), para staf Bimas Katolik Kanwil Kemenag Riau serta anggota DPRD Provinsi Riau (Tumpal Hutabarat) – yang menyatakan kesediaan mendampingi Kontingen Riau di Kupang.

Selama berpesparani di Kota Kupang (28-31 Oktober 2022), Kontingen Sumatera Barat mendapat dukungan penuh dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Inspektorat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur/NTT. Hal yang sama juga dialami kontingen dari provinsi se-Indonesia. Semua OPD yang ada di Provinsi NTT dikerahkan untuk memfasilitasi kebutuhan kontingen-kontingen. Kontingen Riau didukung oleh OPD Dinas Energi dan Sumber Daya Provinsi NTT.

Setelah melalui serangkaian aktivitas lomba 8 mata lomba secara tatap muka, dewan juri mengumumkan hasil penilaian pada penutupan Pesparani II. Kontingen Provinsi Maluku menjadi juara umum dengan meraih nilai tertinggi/ pemenang (champion) 5 mata lomba dan menyabet 11 medali emas (gold). Pengumuman pemenang merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu semua pihak dan merupakan bagian dari penutupan Pesparani II. Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, H. Zainut Tauhid Sa’adi menyerahkan piala bergilir Pesparani kepada kontingen Maluku. Wamenag berpesan agar Pesparani terus maju dan menjadi pelopor dalam berkreasi mengembangkan budaya musik dan lagu Gereja Katolik. Dalam sambutannya, Wamenag mengatakan, “Pesparani harus berkontribusi dalam kekayaan khazanah budaya nusantara. Semua peserta Pesparani hendaknya menjadi duta damai, persatuan, dan persaudaraan!”

Umat Katolik Juga Setara

Sebelum seremoni penutupan Pesparani II di Stadion Oepoi Kupang, berlangsung Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang beserta sejumlah uskup dan imam. Dalam salah satu bagian homilinya, Uskup Turang mengatakan, “Iman kristiani dalam Gereja Katolik yang terungkap dalam Pesparani II merupakan bagian dari undangan Kristus untuk berbaur dalam pelbagai program. Agar kehadiran kita memperindah penghayatan dan penghiburan hidup – yang dianugerahkan dalam menata kerapian hidup di dalam Yesus Kristus, sumber keindahan hidup. Jalan keindahan menjadi ‘bekal’ dalam penghayatan iman yang tidak luput dari tantangan dan kesulitan.  Segala bentuk partisipasi dalam Pesparani II ini mengundang kita untuk menggerakkan hati mewujudkan peradaban kasih – melalui perlombaan paduan suara, pemazmur, tutur Kitab Suci, dan lain-lain. Pada gilirannya, inti kepuasan partisipatif tidak lagi diukur oleh peringkat kemenangan melainkan keutuhan partisipatif dalam gerakan bersaudara, persaudaraan tanpa kekerasan, diskriminasi, dan korupsi.”

Uskup Turang menambahkan, “secara berberbangsa, Pesparani II adalah anugerah ketetapan pemerintah Indonesia untuk menyetarakan kehadiran umat Katolik – dalam upaya bersama memperindah kehidupan berbangsa – demi kerukunan hidup antarumat beragama. Juga sebagai kekuatan moral kemajuan tanah air kita, Indonesia.”

Di bagian penutup homilinya, Uskup Turang menyatakan dirinya prihatin mendengar beberapa provinsi yang tidak memperhatikan kontingen provinsinya. “Para Gubernur, Ketua DPRD Provinsi harus tahu: umat Katolik melaksanakan Pesparani berdasarkan Peraturan Pemerintah. Berdasarkan ketetapan pemerintah. Pemerintah daerah yang tidak mendukung Pesparani adalah pemerintah yang tidak Pancasilais. Pancasila seutuhnya harus ada di provinsi, kabupaten, dan kota. Orang Katolik – walau kawanan kecil – juga setara! Saya doakan dalam Pesparani III, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota sungguh menghargai kehadiran umat Katolik sebagai bagian utuh dalam masyarakat,” ucapnya.(hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *