“Dari Kupang untuk Nusantara”

Spirit penyelenggaraan: Mewujudkan dan Menguatkan Persaudaraan Sejati dan Persaudaraan Umat Katolik, dan Persaudaraan Antarumat Beragama, Persaudaraan Sebangsa dan Tanah Air, dan Persaudaraan Kemanusiaan.

Tema: Dengan Pesparani Katolik Nasional II, Kita Tingkatkan Kualitas Iman, Perkuat Toleransi dan Moderasi Agama untuk  Indonesia Jaya.

Tempat lomba:

  • Paduan Suara Dewasa Campuran/PSDC: Aula Utama El Tari Kompleks Kantor Gubernur NTT Kupang.
  • Tutur Kitab Suci: Auditorium St. Paulus Rektorat Universitas Wiyata Mandira (Unwira) Kupang.
  • Mazmur Anak dan Remaja: Unika Widya Mandira Kupang.
  • Mazmur OMK dan Dewasa: Unika Widya Mandira Kupang.
  • Cerdas Cermat Rohani Anak: Aula Paroki St. Yoseph Naikoten Kupang.
  • Cerdas Cermat Rohani Remaja: Aula Paroki St. Maria Assumpta Kupang.
  • Pembukaan dan Penutupan Pesparani: Stadion Oepoi Kupang.

Pengamanan: Kepolisian Resor Kota (Polresta) Kupang ikut mengamankan kegiatan dengan menerjunkan 300 personil (250 orang bersiaga, 50 orang cadangan).

Peserta: kontingen dari 34 provinsi se-Indonesia tersebar pada 15 titik di Kupang. Peserta menginap di enam belas hotel. Jumlah delegasi mencapai 2.154 orang (terdiri 964 peserta lomba dan 1.190 sebagai tim pendukung). Kontingen terbesar dari Provinsi Papua Barat (254 orang), paling sedikit dari Provinsi Atjeh Darussalam (6 orang). Khusus dari Keuskupan Padang, terdapat dua kontingen; yakni kontingen Provinsi Sumatera Barat (47 orang) dan Provinsi Riau (35 orang).

Lomba: terdapat 13 jenis lomba yang dilaksanakan. Lima di antaranya secara online/virtual, yakni: Paduan Suara (PS) Anak, PS Remaja Gregorian, PS OMK Campuran, PS Dewasa Wanita, PS Dewasa Pria. Selebihnya, 8 mata lomba secara offline/tatap muka di lapangan, yaitu: PS Dewasa Campuran, Mazmur Anak, Mazmur Remaja, Mazmur OMK, Mazmur Dewasa, Cerdas Cermat Rohani Anak, CC Rohani Remaja, Tutur Kitab Suci.

Pembiayaan: Pesparani Nasional II menghabiskan biaya Rp 7 Miliar. Pendanaan berasal dari APBD NTT Rp 3 Miliar dan APBN Rp 4 Miliar – melalui DIPA Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI, serta sumbangan dari masyarakat yang tidak mengikat. Dana tersebut untuk keperluan akomodasi, konsumsi, transportasi lokal selama berada di Kupang. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *