Di Jakarta, mungkin tak lama lagi juga akan ‘merebak’ ke kota besar lainnya, praktik penyedia jasa pacar sewaan atau rental pacar mulai lumrah ditemui. Penyedia jasa mematok tarif puluhan ribu Rupiah sekadar jasa mengirim foto maupun  PAP (post a picture), hingga ratusan ribu Rupiah untuk menemani ‘pacaran’ beberapa jam saja.

Jasa sewa pacar ini dinilai sebagai cara instan bagi para pengguna jasa, khususnya anak muda atas keresahan atau masalah yang mereka hadapi. Hal tersebut tidak luput dari kebutuhan manusia untuk ditemani orang lain (being relate to another person). Kebutuhan berhubungan dengan orang lain karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Inilah salah satu faktor penyebab hadirnya jenis jasa baru ini. Saat kecil, kita dengan orangtua atau pengasuh. Seiring waktu dan bertambahnya usia, kebutuhan tidak hanya orangtua saja, tetapi juga dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Kebutuhan inilah yang mungkin kurang terpenuhi pada beberapa orang, sehingga akhirnya butuh ‘jasa’ penyewaan.

Perasaan kesepian juga menjadi salah satu faktor hadirnya pacar sewaan. Situasi ini membuat orang ingin ditemani. Secara psikologis belum tentu apa yang ada di sekelilingnya memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk sosial. Perasaan kesepian tidak terbentuk pada satu negara saja. Di Jepang banyak didengar. Di Indonesia pun banyak yang mengalami kesepian. Kesepian bisa dimiliki siapa saja, di mana saja, dan umur berapa pun.  Orang bisa merasa kesepian saat berada di tengah teman yang sangat banyak. Perasaan kesepian bisa kita miliki karena berada di bawah alam sadar. Kita tidak bisa menilai orang yang banyak temannya tidak bakal mengalami kesepian. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi timbulnya rasa kesepian.

Memenuhi ekspektasi orang lain juga bisa menjadi faktor seseorang menggunakan jasa pacar sewaan. Tuntutan terhadap seseorang untuk memiliki pasangan dari keluarga atau teman sekitar, menyebabkan jasa sewa pacar menjadi cara cepat, singkat, ringkas, dan instan.  Mungkin ada ekspektasi yang ditujukan kepada orang tersebut.  Sehingga muncullah anggapan, “Saya merasa lebih aman kalau ke resepsi pernikahan teman bila membawa pacar!” Atau, “Saya akan bawa pacar dalam pertemuan keluarga supaya tidak ditanya-tanya terus!”

Adakah perbedaan pacar sewaan dengan fenomena serupa seperti open booking (BO), friends with benefits (FWB), prostitusi online atau mencari seseorang via dating apps” Perbedaan terlihat dari ada atau tidak adanya kontak secara seksual.  Perbedaannya antara berkaitan kegiatan seksual dan tidak. Apakah hanya chatting curhat per jam berbayar atau ada kemungkinan mengarah pada kegiatan seksual? Selama tidak ada, itulah yang menjadi batasan fenomena ini dengan yang lainnya.  Ada hal menarik yang diungkap survei Populix pada 16-17 September 2022. Lima puluh dua persen masyarakat Indonesia mengaku mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Faktor kesepian menjadi pemicu kedua, sebesar 46 persen, terhadap gangguan mental masyarakat Indonesia.

Apakah praktik jasa sewa pacar ini solusi instan terhadap masalah yang dihadapi seseorang? Sebenarnya, praktik ini tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Bukan satu solusi jangka panjang. Sebab itu, lebih penting menjadi akar permasalahannya untuk selanjutnya bisa mengubah pola mental yang merugikan psikologis. Cari akar masalahnya: mengapa kita butuh orang untuk mendengarkan kita? Kenapa kita belum menemukan orang yang tepat untuk mengisi kesepian ini? Penting bagi orang yang punya ‘masalah’ untuk meng-encourage pada diri sendiri. Harus bisa introspeksi sendiri! Sebaiknya, orang yang punya masalah kesepian atau kebutuhan orang lain dapat mencari solusi jangka panjang.

Bagi orang muda, bisa jadi kesepian karena luka batin masa lalu yang belum sempat dibenahi. Janganlah takut ke psikolog klinis atau psikiater, untuk mengecek kondisi mental kita! Seberapa segar dan fresh kita? Dengan demikian  kita tidak menggunakan cara instan. Seiring waktu, maka fenomena pacar sewaan berpotensi terus bertumbuh dan berkembang, apalagi di kota-kota yang super sibuk. Namun, di sisi lain, solusi jangka panjang perlu terus dikedepankan untuk mengatasi gangguan mental. (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *