Saat menjadi tua, kita semakin mengerti saudara laki-laki dan perempuan adalah “hadiah paling berharga” yang ditinggalkan orangtua di dunia ini. Saat masih kecil, saudara lelaki dan perempuan menjadi teman bermain terdekat dan menghabiskan masa kecil yang menyenangkan. Bermain, berkejar-kejaran, dan membuat keributan tiap hari.

Ketika beranjak dewasa, saudara dan saudari menikah dan memulai usaha bisnis sendiri. Mereka punya kehidupan sendiri. Dalam kondisi ini, biasanya jarang bisa bertemu dan saling bertatap muka. Hanya orangtualah satu-satunya penghubung/’pemersatu’ yang mengeratkan tali persaudaraan satu sama lainnya. Saat kita menua dan orangtua ‘pergi jauh’ untuk selama-lamanya; akan terasa semakin sedikit kerabat di sekitar. Waktu inilah, bertahap, kita makin memahami nilai cinta keluarga.

Pernah tayang di video internet, seorang kakak lelaki berusia 101 tahun mengadakan perjalanan jauh untuk melihat saudara perempuannya yang berusia 96 tahun. Setelah pertemuan singkat, mereka akan berpisah. Saat hendak berpisah, terlihat saudarinya mengejar dan naik ke mobil kakaknya dan berusaha keras memberi uang, serta berkata, “Beli sesuatu makanan yang lezat ya!” Keduanya menangis.

Tayangan tersebut mengundang beragam komentar netizen, diantaranya, “Sangat menyenangkan sekali punya sanak saudara di usia seperti mereka! Setelah menjadi tua, barulah saya sadari betapa pentingnya punya seseorang yang terhubung dengan persaudaraan di dunia ini. Ketika tua, orangtua tidak ada lagi. Sekarang masanya saudara dan saudari adalah orang terdekat yang kita miliki di dunia ini.!

Benar sekali! Teman akan meninggalkan arena pertemanan. Anak-anak bertumbuh dewasa dan punya ‘kesibukan’ tersendiri. Yang tinggal adalah pasangan. Suami atau istri. Saudara dan saudari kita yang bisa menemani dan melewati separuh hidup kita. Tatkala menua, saudara dan saudari kita masih merupakan kebahagiaan yang luar biasa untuk bersama-sama. Dengan adanya mereka, kita tidak akan kekurangan kehangatan dan tidak takut menghadapi kesulitan.

Jika sudah tua, berbaik hatilah pada sanak saudara! Di antara sanak saudara, tidak peduli apakah pernah ada ‘ketidakbahagiaan’ di masa lampau, kita mestilah lebih toleran. Tidak ada simpul yang dapat diputuskan antara sanak saudara. Konflik, kontradiksi, perselisihan, dan sebagainya di antara sanak saudara jangan dibahas lagi! Itu urusan masa lampau. Jangan mengingat-ingatnya lagi dendam lama. Lebih andalkan saling penghargaan satu dengan yang lainnya.  Hubungan  persaudaraan menjadi semakin baik. Hubungan baik sanak saudara adalah “hadiah paling berharga” dari orangtua kita yang telah  meninggalkan dunia ini.

Hal inilah yang dilakoni Monita Lely Johan (72) bersama dengan lima saudaranya yang masih ada. Anak kesembilan dari 10 bersaudara ini hidup akur sedari kecil hingga sekarang. Empat saudaranya telah dipanggil Tuhan. Di antara saudaranya yang masih ada, sebanyak enam orang, Lely jadi ‘bungsu’. Tertua berusia 86 tahun. Selanjutnya ada yang berumur 84, 80,76,74, dan dirinya 72 tahun. “Sekarang, kami sedang berkumpul, bereuni, karena ada saudara yang datang dari Amerika Serikat (1 orang), Payakumbuh (2), Jakarta (2), dan Padang (1) – saya sendiri. Meski menua, silaturahmi jalan terus. Kami sadar tidak muda lagi. Tidak tahu, siapa di antara kami yang akan dipanggil Tuhan terlebih dulu,” ucap Lely.

Maka, kesempatan bereuni dan berkumpul bersama ini sungguh betul-betul dipergunakan sebaik mungkin. “Selagi masih kuat fisik ini, kami berenam bersama-sama menikmati kebersamaan. Bahkan, kami sempat seminggu menginap pada sebuah resort di Simakakang-Tuapeijat, Kepulauan Mentawai. “Mumpung masih ada kesempatan dan semua masih dalam kondisi sehat, benar-benar kami gunakan untuk berkumpul bersama. Masih bisa jalan-jalan. Sungguh saya rasakan suasana gembira dan suka cita berada di tengah saudara tercinta. Kami bisa mengenang kembali masa-masa sewaktu masih kecil. Kini, setelah menua dan telah bebas dari tanggung jawab mengurus anak-anak yang telah berkeluarga, kami sungguh pergunakan waktu yang ada ini,” ungkap Lely

Saat ngumpul bersama ini, Lely dan saudaranya tidak menyertakan anak, cucu, dan cicit. “Hanya kami berenam saja. Yang senior saja. Tak bawa serta anak cucu, sebab bila dikumpulkan semua bisa mencai enam puluhan orang banyaknya. Saudara tertua saya, umur 86 tahun, telah punya lima cicit. Inilah momen kebersamaan bagi kami menikmati hari tua. Persaudaraan yang telah dibina sejak kecil dibawa terus hingga tua. Terputus hanya oleh kematian. Sewaktu kecil, kami berkumpul bersama dengan orangtua. Sekarang pun, kami mau mengulangi saat-saat manis tersebut, apalagi anak-anak kami telah dewasa dan berkeluarga. Puji Tuhan, hingga kini pun kami sepuluh saudara (lima lelaki dan lima perempuan) hidup akur-akur saja dan tidak pernah bertengkar. Kalau pun ada salah paham, segera dibereskan dan diselesaikan. Bahkan, kalau ada salah satu dari saudara yang mengalami kesulitan atau kesusahan, saudara lain siap membantu. Sungguh menyenangkan dan membahagiakan bisa berada di tengah orang-orang yang kita kasihi hingga ajal menjemput. Kami bersyukur, berenam dalam keadaan sehat semuanya dan bisa berjalan ke mana saja. (ist/hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *