Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-Keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, sekali lagi tema tentang keluarga mendapat perhatian utama kita. Bukan hanya karena kita sudah mencanangkan tahun ini sebagai tahun keluarga di Keuskupan, bukan pula sekedar mengejar ketinggalan PR yang seharusnya kita kerjakan dalam tahun keluarga internasional, merayakan 5 tahun Amoris Laetitia, yang ditutup pada akhir bulan Juni tahun 2022 yang lalu.

Tema keluarga selalu menjadi perhatian utama Bapa Suci sendiri sejak dari awal masa kepausannya. Belum lama terpilih sebagai Paus, beliau langsung menggalakkan sinode istimewa untuk menyapa keluarga-keluarga kristiani, dan dengan terbitnya seruan apostolik pasca Sinode, Amoris Laetitia, atau Sukacita Kasih (2016), beliau mencetuskan satu agenda yang tetap akan senantiasa relevan sepanjang zaman; yakni perhatian pada keluarga-keluarga.

Kita menyambut baik ajakan Paus Fransiskus ini dengan melaksanakan pertemuan-pertemuan untuk membahas tema-tema Sinode Para Uskup. Rangkuman hasil Sinode tingkat paroki-paroki dan keuskupan menunjukkan dengan jelas bahwa untuk mencapai solusinya, usaha pertama-tama tergantung pada perhatian yang kita berikan kepada keluarga-keluarga kita sebagai wadah pembinaan iman, sekolah cinta kasih, dan tempat pengampunan serta jalan pengudusan kita.

Dinamika Tahun Keluarga Keuskupan

Berbicara tentang kegiatan-kegiatan yang sudah dijalankan dan terus dikembangkan dalam Tahun Keluarga memang seolah-olah pertanyaannya diarahkan pada Komisi Keluarga saja. Akan tetapi, sesungguhnya secara sinergis harus menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kita semua, baik Pastor, Diakon, Suster/Bruder, Pelayan Pastoral Keluarga dan Kursus Persiapan Perkawinan, bahkan juga pengurus OMK dan pembina BIR dan BIA. Perhatian pada Keluarga adalah PR kita semua, baik di level pimpinan dan para penentu keputusan, maupun di level para praktisi lapangannya sendiri, pria wanita, tua muda, orang-orang dewasa maupun anak-anak.

Oleh karena itulah, tidak cukup kita melihat bahwa kegiatan di sekitar Tahun Keluarga ini hanya pada inisiatif Ketua Komisi Keluarga yang baru. Banyak pertemuan diadakan oleh Komisi Keluarga bekerja sama dengan Seksi Keluarga di paroki-paroki, tetapi juga bekerjasama dengan Seksi Panggilan, seperti yang telah dibuat pada talkshow panggilan di sekitar perayaan pesta perak tahbisan saya.

Sosialisasi penanganan masalah keluarga dengan team tribunal gerejawi yang selama ini terus berlangsung, revisi dan peninjauan kembali Kursus-Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di paroki-paroki, termasuk juga acara-acara seminar dan talkshow pada kunjungan Komisi Keluarga KWI; bahkan yang sederhana, doa bersama dan novena keluarga, yang diadakan bukan hanya secara tatap muka tetapi juga virtual, melalui zoom, semuanya itu menunjukkan “geliat” antusiasme seluruh warga keuskupan menanggapi keprihatinan bersama ini.

Dalam semangat yang sama ini harus ditempatkan juga banyak inisiatif dan kegiatan-kegiatan dari Komisi Kepemudaan dalam mempersiapkan diri menyambut Indonesian Youth Day (IYD) di Palembang pada bulan Juni 2023 nanti. Kita tidak menutup mata pada kenyataan, banyaknya kaum muda di Keuskupan Padang yang sedang merajut masa depan yang baik. Mereka membutuhkan wadah yang tepat, jaringan persahabatan yang sehat dan subur, kesadaran yang realistis akan situasi dan kondisi keluarga mereka; tetapi sekaligus harapan yang optimis akan dukungan dan pendampingan dari Gereja.

Berjalan Bersama menuju Keluarga-Keluarga yang Bahagia

Tuntutan ekonomi, bagaimanapun membuat ‘kebersamaan’ dalam keluarga kemudian menjadi begitu susah. Alih-alih, mau membangun kebersamaan, tetapi ‘dapur keluarga’ tidak mengepul. Demikian juga sebaliknya, ‘terlalu sibuk mencari uang’ sampai-sampai keluarga terabaikan. Mengingat betapa pentingnya ‘kebersamaan’ dalam keluarga, maka kebanyakan keluarga, terutama di kota-kota mengambil waktu liburan sekolah untuk suatu liburan keluarga. Secara khusus, untuk konteks liburan, apa yang bisa dilakukan oleh keluarga untuk membangun kembali ‘kebersamaan’?

Memang arti kebersamaan dalam keluarga bisa sangat luas. Tergantung diterapkan pada makna keluarga yang dimaksud? Yesus telah mengintuisikan satu hubungan kekeluargaan yang baru: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” (Mrk. 10:29-30).

Walaupun demikian, keluarga inti yang dimaksud tetap berangkat dari pasangan keluarga yang dimaksud dalam Kitab Suci. Ayah dan Ibu yang menjadi partner Tuhan dalam penciptaan kehidupan. Sumber hidup kita ialah Tuhan, tetapi Ia mengalir lewat keluarga. Hidup itu pemberian dari hati Allah. Ayub berkata, “Hidup dan kasih-setia Kau karuniakan kepadaku” (Ayb 10:12). Sebagai anak atau sebagai ibu dan ayah, kita masing-masing mengambil bagian dalam proses hidup itu. Itulah latar belakang firman keempat. Perintah itu pada dasarnya mengenai hormat akan hidup sendiri. Kita harus menghormati orangtua, karena dari mereka kita mendapat hidup: “Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua” (Ams 23:22).

Tuntutan hidup zaman modern membuat keluarga inti, bapak, ibu dan anak, khususnya yang tinggal di kota besar tidak dapat mengabaikan peran kakek nenek yang mengisi kekosongan peran orang tua dalam mendampingi anak-anak. Tetapi berbeda dengan kehidupan keluarga besar di pedesaan dulu, keluarga besar di kota besar mempunyai tantangan dan kesulitannya sendiri. Apakah hal inilah yang disebut keluarga ideal, yang dicita-citakan? Apakah yang kita bayangkan sebagai keluarga idaman? Apakah yang kita cita-citakan bersama sebagai satu keluarga ideal dengan kehidupan di tengah kota besar seperti ini? Bukan hanya suami atau istri, bapak ibu atau anak-anak punya harapan satu keluarga yang bahagia! Soalnya apakah kebahagiaan itu?

Menurut orang bijak dari Timur, kebahagiaan itu seperti kupu-kupu: jika engkau mengejarnya dia lari, tetapi jika engkau diam, dialah yang akan menghampirimu. Seorang murid berkata: I want happiness. Buddha menjawab: Tinggalkan “aku”-mu dan tinggalkan juga “keinginan”-mu, maka kaudapatkan “kebahagiaan.” Barangkali memang benar juga bahwa kebahagiaan kita justru terletak pada bagaimana kita sendiri menjadi saudara dan sahabat bagi orang lain.

Kebahagiaan kristiani itu terkait dengan sejauh mana pemberian diri dan pelayanan kita bagi orang-orang lain. Gereja yang berjalan bersama mulai dari keluarga – sebagai Gereja Rumah Tangga (ecclesia domestica) – justru mengundang kita untuk keluar dari kenyamanan diri dan perhatian sempit yang terpusat pada kepentingan keluarga kita sendiri, untuk berani melihat dan mengunjungi saudara-saudari kita yang lain, keluarga-keluarga yang membutuhkan uluran tangan untuk bangkit dari permasalahan mereka. Semoga pada Tahun Keluarga ini ada lebih banyak orang yang tergerak hatinya untuk membantu keluarga-keluarga semacam ini yang mungkin sering merasa ditinggalkan berjuang sendiri.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *