Tahun Keluarga Keuskupan Padang

Komisi Keluarga Keuskupan Padang (Komkel-Red.) bekerja sama dengan Komisi Keluarga KWI menyelenggarakan tiga bentuk kegiatan berbeda selama tiga hari berturut-turut, Jumat-Minggu (2-4/12). Hari pertama (2/12), di Gedung Raimondo Bergamin Padang, kegiatan diikuti sejumlah Seksi Pastoral Keluarga/Kerasulan Keluarga DPP. Pertemuan dipandang penting apalagi telah terbit dokumen baru Bapa Paus tentang “Perjalanan Katekumenat Menuju Hidup Perkawinan”.

“Seksi Pastoral Keluarga/Kerasulan Keluarga DPP perlu dibekali, mendapat informasi yang luas-mendalam-terbaru! Diharapkan, mereka terbekali saat membuat suatu program bersama dengan pastor di parokinya masing-masing. Secara khusus berkaitan dengan pendampingan dan persiapan pernikahan,” ungkap Ketua Komkel P. Pardomuan Benedictus Manullang, Pr kepada GEMA, Sabtu (3/12).  Dari pantauan GEMA, pada hari pertama tampak peserta dari Paroki Bagansiapiapi, Dumai, Pekanbaru (dua paroki), Pasaman Barat, dan Padang (tiga paroki).

Kegiatan hari kedua (3/12) mengangkat topik “Bijaksana Menyikapi Perkawinan Beda Gereja dan Agama” ditujukan bagi remaja dan warga Orang Muda Katolik (OMK), di Gedung Santu Yusuf. Ketua Komkel, P. Bene, menyatakan penting perhatian bagi kalangan ini. “Mengingat mereka sedang menjalani tahapan perkembangan usia sedari anak-anak. Mereka perlu dibekali pemahaman, pembekalan tentang hidup berkeluarga. Serta penghargaan terhadap kebertubuhan mereka sendiri. Mereka memahami kesucian dan sakramentalitas dari sebuah pernikahan. Hargailah seksualitas dengan sehat agar tidak menjadi suatu yang disesali di perjalanan hidup di masa mendatang. Bergaullah dengan sehat! Berpacaranlah dengan sehat! Jalanilah panggilan sebagai calon imam dengan sehat!” ucap P. Bene lagi.

Ujung rangkaian kegiatan berupa seminar bagi keluarga (4/12) bertajuk Keluarga: Sekolah Cinta. Sekolah ‘Membentuk’ Keluarga di Gedung Santu Yusuf Padang. Sekretaris Eksekutif Komkel KWI, P. Y Aristanto HS, MSF sebagai pendamping dan pemateri tiga rangkaian ini.  Peserta seminar diharapkan dari keluarga lengkap, yakni orangtua dan anak-anak untuk berdialog. “Kita belajar dari pengalaman keluarga-keluarga tersebut! Tiga kegiatan ini sebagai tindak lanjut pencanangan Tahun Keluarga Keuskupan Padang. Hal ini sekaligus untuk menunjukkan perhatian dan antusiasme terhadap keluarga-keluarga Katolik. Semoga upaya kecil ini dapat menggerakkan keluarga-keluarga untuk bersekutu di rumah, memberikan pendidikan bagi anak-anaknya, baik hidup berkeluarga maupun hidup panggilan menjadi imam/selibat,” tukas P. Bene menginformasikan kepada GEMA.

Pada seminar hari ketiga, P. Aristanto mengajak peserta untuk memahami esensi keluarga sebagai relasi cinta kasih. “Keluarga mempunya ciri: asli, mendalam, dan terus-menerus. Dalam keluarga ada ikatan emosi yang mendalam. Ikatan kasih sayang yang kuat dan dirasakan bersama. Keluarga adalah harta yang paling berharga. Keluarga adalah ‘rumah’ (home) dan tempat untuk ‘pulang’. Keluarga adalah tempat yang paling aman, kita bisa menjadi diri yang sejati dan apa adanya,” ucapnya penuh semangat kepada peserta.

P. Aris menambahkan, “Salah satu syarat agar kesatuan dalam keluarga terbentuk adalah komunikasi. Perbedaan generasi dapat menimbulkan masalah komunikasi. Maka, perlu dibangun komunikasi efektif, empati, dan hubungan baik orangtua dengan anak. Empat resep ‘jembatan’ penghubung antargenerasi dikenal 3B (Be There, Be Focus, Be Happy – Berada di tempat, Fokus, dan Bahagia,Red.) plus 1 F (Forgiveness – Memaafkan, Red.)! Saya senang kawula muda yang hadir pada hari kedua menyatakan komitmennya tidak mau mendapat pasangan beda agama maupun beda Gereja. Tentunya, tidak hanya saat sekarang, namun dihidupi terus-menerus. Agar tetap bertahan, saya ingatkan mereka bergaul dengan sesama muda yang seiman. Bila tidak, sangat sulit mendapatkan pasangan seiman.”

Selama penyajian materinya, sejak hari pertama hingga ketiga, tidak hanya bisa mengerutkan kening peserta, namun pada waktu tertentu, P. Aristanto mengajak peserta bernyanyi dan bermain bersama. Ternyata trik semacam itu disuka.Tidak mengherankan, selama acara berlangsung semua peserta terlibat aktif. Saat dihubungi pada akhir acara, Wakil Ketua DPP St. Petrus dan Paulus Bagansiapiapi, Robert Simbolon mengaku senang mendapat kesempatan ikut serta. “Bahkan, terasa masih kurang waktu dan bahannya. Saya menganggap hal-hal yang diperoleh selama tiga hari ini patut dan selayaknya dibagikan kepada umat di paroki! Selama ini, belum ada kegiatan khusus pada pelayanan pastoral bidang keluarga selain penyelenggaraan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP),” katanya.

Sementara itu, salah satu peserta seminar keluarga utusan Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat, Theresia Lestari mengaku beroleh peneguhan hidup berkeluarga. “Karena dalam hidup berkeluarga, tidak luput dari berbagai persoalan hidup yang terkadang sulit dan berat. Tentu, saya dan kita mendambakan terbentuknya keluarga yang bahagia,” ucapnya.

Hampir senada diungkap salah satu aktivis Paroki St. Fransiskus Assisi Padang, Odorikus Daeli, katanya, “Sungguh lebih menguatkan dan meyakinkan saya maupun keluarga. Saya bersemangat untuk meneruskan pendampingan keluarga di paroki, terkhusus dalam KPP dan rayon setempat.” Istrinya, Rosana Larosa menambahkan, “Saya semakin sadar untuk menguatkan dan meneguhkan relasi antaranggota keluarga. Keharmonisan dan kebahagiaan keluarga menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *