“Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang mempunyai potensi banyak orang muda Katolik – merupakan ‘tulang punggung’ dan masa depan Gereja. Tidak hanya kelak, tetapi juga dimulai sekarang. Dengan Krisma, Anda menjadi orang-orang Katolik sejati! Tidak setengah-setengah! Oleh Santo Yohanes Paulus II, Sakramen Krisma adalah Sakramen Penguatan. Menguatkan yang sudah diterima saat pembaptisan serta menjadikan Anda sebagai orang Katolik yang penuh,” kata Bapa Uskup Vitus Rubianto Solichin, SX, Minggu (27/11).

Hal tersebut disampaikan Uskup Vitus saat menyampaikan homili dalam Perayaan Ekaristi yang diikuti 250-an umat Katolik Stasi St. Stefanus Sungaipisang. Bagi Bapa Uskup dan umat setempat, momen ini merupakan kunjungan pastoral perdana ke Sungaipisang setelah setahun lebih tahbisan uskup (7 Oktober 2021). Perayaan Ekaristi berlangsung di sebuah bangunan sederhana yang difungsikan sebagai kapel. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma bagi 30 krismawan-krismawati.

Usai Perayaan Ekaristi dilanjutkan santap siang bersama dan ramah-tamah. Dalam sambutannya, Ketua Stasi Sungaipisang, Herman Jaya Zai menginformasikan situasi kondisi warganya. Di stasi ini terdapat 97 keluarga (atau setara 600-an jiwa) yang berdomisili pada lima rayon. Herman menyampaikan permintaaan agar Bapa Uskup dan Pastor Paroki dapat membantu upaya pendampingan serta bimbingan rohani bagi anak-anak warga setempat. “Anak kami menuntut ilmu di sekolah negeri yang berjarak jauh dari tempat tinggal. Agar bisa tiba pukul 07.30 WIB di sekolah, anak-anak kami mesti berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB. Belum lagi soal ketiadaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah tersebut,” ungkapnya.

Masih dalam ramah tamah bersama Bapa Uskup tersebut, Pastor Paroki P. Bernard Lie mengamini situasi kondisi yang disampaikan Ketua Stasi Sungaipisang. “Saya kagum pada perjuangan orangtua belajar agama Katolik. Pelayanan pastoral berupa kunjungan pastor dan Misa Kudus berlangsung sekali sebulan. Kalau di lingkungan Muslim berlangsung Pesanten Ramadan saat puasa, maka terdapat 200-an murid Katolik di sini untuk Pastoral Sekolah. Memang, umat Katolik di sini termasuk ‘keluarga produktif’. Saya mengajak para orangtua menjaga pendidikan iman anak-anaknya. Jagalah iman anak-anak kita!” tandasnya.

P. Bernard tidak memungkiri di daerah Sungaipisang merupakan daerah yang sangat rawan dengan aneka godaan yang dilakukan pihak lain. Beberapa kejadian ajakan untuk pindah agama dilakukan kalangan luar dengan iming-iming; misalnya beasiswa pendidikan atau kesempatan disekolahkan. “Kita mesti berani menyatakan diri sebagai umat Katolik! Kepada pengurus gereja, mari kita jaga umat dan anak-anak dengan tetap bersuka cita dalam iman Katolik,” ucapnya.

Dalam kunjungan pastoral perdana ke stasi ini, saat tiba di lokasi, Bapa Uskup diusung sejumlah umat dewasa lelaki menuju lokasi kapel. Hal sama dilakukan setelah semua rangkaian jadwal kunjungan dijalani. Ujung momen kebersamaan ini berupa tarian maena. Bapa Uskup Vitus dan Pastor Paroki P. Bernard Lie tampak ikut berbaur bersama umat setempat pada kesempatan tersebut.

Tidak Setengah-Setengah

Satu hari sebelumnya, Sabtu (26/11) sore, Bapa Uskup Vitus mengunjungi umat Katolik Wilayah Paulinus yang berdomisili di Kompleks Perumahan Jondul Rawang Barat – Villa Mega. Tatkala tiba di Kapel Wilayah Paulinus, Bapa Uskup mendapat sambutan hangat umat setempat berupa persembahan gerak dan lagu anak-anak peserta Bina Iman Anak (BIA) Wilayah Paulinus. Dalam kunjungan ini, Uskup Vitus memimpin Perayaan Ekaristi didampingi Pastor Paroki P. Bernard. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma bagi 15 krismawan-krismawati. Umat Katolik setempat antusias memadati bagian dalam dan meluber di bagian luar kapel pada kesempatan tersebut. Diperkirakan hadir 250 orang.

Dalam homilinya, Bapa Uskup Vitus menyatakan setiap orang membutuhkan Roh Kudus! “Penerimaan Sakramen Krisma berarti diurapi Roh Kudus – yang akan membantu dan menuntun hidup para krismawan-krismawati. Setelah menerima Krisma, Anda menjadi orang Kristen secara penuh, tidak setengah-setengah. Orang Katolik yang sejati,” tandas Bapa Uskup.

Usai santap malam bersama, berlangsung dialog dengan Bapa Uskup, diawali pemaparan tentang keberadaan Wilayah Paulinus dari masa ke masa oleh Ketua Wilayah Paulinus, Vincensius Limbong. Selain itu, sesepuh umat setempat, Philips Nerius Yempormase – juga Mantan Ketua Wilayah Paulinus – lebih rinci mengisahkan awal terbentuknya wilayah ini.  Philips mengisahkan suka-duka yang dialami umat perdana wilayah ini, termasuk saat dirinya sebagai ketua wilayah. Banyak tantangan dialami saat pembukaan kompleks perumahan Jondul ini pada dekade 1980-an. Beberapa kali dirinya dipanggil ke kantor Balai Kota Padang terkait peribadatan umat Katolik setempat. Dialog diselingi acara hiburan, termasuk sumbang suara para penerima Sakramen Krisma. Pertanyaan salah seorang peserta Krisma sungguh menggelitik dan memancing tanggapan Bapa Uskup Vitus. “Bagaimana caranya menjadi seorang uskup?” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *