MEMAKNAI SABDA BAHAGIA

HARI MINGGU BIASA IV (29 Januari 2023)
Zef. 2:3; 3:12-15; Mzm. 146:1,7,8-9a, 9bc-10; 1Kor 1:26-31;
Mat 5:1-12a

MENCARI TUHAN! Mengapa Tuhan mesti dicari? Apa syaratnya?  Untuk mencari dan menemukan Tuhan haruslah dengan kerendahan hati.  Jika kita mencari Tuhan dengan rendah hati maka Dia akan melindungi kita dari kemurkaan-Nya. Tetapi jika kita mencari Tuhan dengan tinggi hati, Tuhan akan memberikan murka-Nya. Dalam nas hari ini Zefanya melihat datangnya hukuman yang meliputi seluruh dunia karena dosa-dosa umat manusia, tetapi secara khusus ia memfokus pada hukuman yang akan menimpa Yehuda karena dosanya.

Zefannya menghimbau agar bangsa itu bertobat dan mencari Tuhan dalam kerendahan hati.  Nabi juga menubuatkan suatu ketika Allah akan mengumpulkan umat-Nya dan menyelamatkan dan menebus umat-Nya oleh karena itu nabi menawarkan harap kepada orang-orang yang sudah berbalik kepada Tuhan. Zefanya menasehati mereka untuk memperdalam komitmennya kepada Allah dan jalan-jalan-Nya.

Sikap hidup dalam mencari kerendahan hati tercermin dalam kehidupan manusia untuk mencari Allah, mencari kebenaran-Nya dan kehendak-Nya. Kunci kesuksesan dan kunci berkat bagi orang percaya adalah kerendahan hati di hadapan Tuhan karena menyadari diri sebagai ciptaan-Nya.  Kerendahan hati dapat sangat membantu ketika menghadapi tantangan dan kesulitan. Sewaktu ada malapetaka, kerendahan hati membuat orang sanggup bertahan serta bertekun dan melanjutkan kehidupannya.

Kotbah Tuhan Yesus di bukit dalam bacaan Injil hari ini adalah penghiburan bagi sesorang yang sedang dalam pergulatan hidup. Namun bagi pribadi yang sedang “naik daun”, kotbah Yesus adalah tantangan baginya. Setiap pribadi diajak untuk bijaksana dalam memposisikan dirinya sebagai pengikut Yesus, karena setiap pengajaran-Nya sarat dengan hal-hal yang tak pernah diduga sebelumnya.

Adakalanya kehendak Tuhan sangat bertentangan dengan harapan dan pikiran kita. Dewasa ini, bila berbicara masalah kebenaran dan kejujuran membuat miris. Betapa tidak? Dunia ini seakan-akan sudah terbolak-balik seiring dengan maraknya situasi zaman yang makin menggila. Orang benar dan jujur disalahkan, sebaliknya orang salah dibenarkan. Hal ini dapat dijumpai dalam pengalaman hidup sehari-hari di tengah masyarakat.

Dalam situasi apa pun, terutama di masa sulit ingatlah akan kotbah Yesus di bukit itu, maka akan mengalami kekuatan yang datang dari pada-Nya.  Inti sabda bahagia yang kita dengarkan hari ini ialah semangat kemiskinan di hadapan Allah, artinya menyadari dan menerima ketergantungan yang mutlak terhadap Allah; sebagai orang berdosa, tidak punya hak apa-apa dihadapan-Nya. Kita hanya dapat berharap pada kerahiman-Nya saja, dalam kesadaran, bahwa kerahiman-Nya tidak terbatas, jauh lebih besar dari segala dosa-dosa. Semakin menyadari kerahiman-Nya, semakin menjauhi dosa. Semakin menyadari kerahimannya, semakin merasa diri diri tidak berarti (miskin). Dari sikap dasar ini, mengalirlah sikap-sikap lain yang disebut dalam sabda bahagia: berduka untuk dosa sendiri dan dosa orang lain, sikap lemah lembut, rindu akan kebenaran, murah hati, murni hati, pembawa damai, dan kesabaran dalam menanggung derita. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *