“Sebagaimana diketahui, Bapa Uskup Vitus Rubianto Solichin, SX mencanangkan Tahun Keluarga Keuskupan Padang pada 26 Juni 2022 di Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Kandis Riau. Sebelumnya berlangsung serah-terima jabatan Ketua Komisi Keluarga (Komkel) Keuskupan Padang, dari pengurus lama kepada saya, pada 22 Juni 2022. Beberapa hari sebelum berlangsung pembukaan Tahun Keluarga Keuskupan Padang. Pada 23-25 Juni 2022, ada berbagai kegiatan karena terkait dengan World Meeting Families (WMF). Temu Keluarga Sedunia yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus I,” ucap P. Pardomuan Benedictus Manullang, Pr kepada GEMA, Jumat (9/12).

Pastor Bene yang juga Ketua Pengurus Yayasan Prayoga Padang dan Ekonom Keuskupan Padang ini menambahkan, “Hal tersebut dirasa belum dilakukan di Keuskupan Padang. Maka, Bapa Uskup dengan pertimbangan dan refleksinya, memutuskan untuk melanjutkan dan memulai Tahun Keluarga di Keuskupan Padang. Secara internasional memang telah berakhir, tetapi secara Keuskupan Padang belum dilakukan apa-apa.” Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Apa saja yang dilaksanakan sebelum pencanangan Tahun Keluarga Keuskupan Padang tersebut, Pastor?

Sejumlah kegiatan berlangsung 23-25 Juni 2022; bahkan hingga 26 Juni 2022 – bertepatan dengan Pembukaan Tahun Keluarga Keuskupan Padang di Paroki Kandis. Langsung gaspoll tatkala resmi jadi Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Padang. 

Dalam waktu singkat, usai serah terima jabatan tersebut, tentu saja, saya mesti segera bergegas melakukan sesuatu. Dirancang, pada satu tahun pertama (Juni 2022 – Juni 2023), diangkat tema “Keluarga Sebagai Gereja Domestik” (Ecclesia Domestica). Intinya, keluarga harus bersekutu terlebih dahulu. Orangtua dan anak-anak harus berkumpul dalam suasana doa terlebih dulu. Doa, pembacaan Kitab Suci, sharing, sehingga antaranggota keluarga semakin akrab dan kenal. Ada buku katekese Tahun Keluarga. Pada bagian pertama, keluarga yang berkumpul di rumah untuk mengakarkan kembali relasi kehangatan sebagai anggota keluarga.

Adalah satu keanehan bila secara pribadi seseorang tidak mengenal sejarah orangtuanya. Ini kesempatan untuk mengenal lebih dalam, hangat masing-masing anggota keluarga. Tujuannya adalah mengembalikan orangtua dan anak-anaknya pada akar keluarga.

Berikutnya, pada tahun kedua (Juni 2023-Juni 2024), keluarga ke luar, ke basis (lingkungan, rayon, kring). Kita menjadi kelompok basis 5–10 keluarga terdekat yang bersekutu, setelah mereka mengenal masing-masing anggota keluarga. Kita akrab dengan tetangga terdekat, setelah antaranggota keluarga akrab dengan sesama anggota keluarga. Pada tahun ketiga (Juni 2024 – Juni 2025), bahasan tahun keluarga masuk ke lingkup lebih luas, yakni paroki. Sari patinya, ‘batu dasar’ dan pertama adalah keluarga, komunitas basis, dan paroki.

Bagaimana Pastor mengoodinir bentuk pelayanan keluarga pada Tahun Keluarga ini agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan pada tahun pertama, kedua, ketiga?

Kemarin, awal Desember 2022, ada kegiatan, saya mengundang Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI (P. Y. Aristanto HS, MSF). Kami duduk bersama dan saya belajar dari beliau. Saya memperoleh gambaran: apa saja yang dapat dipersiapkan, dilakukan/dikerjakan untuk Komkel Keuskupan di waktu mendatang?!

Di kesempatan tersebut, terlihat ada Seksi Pastoral Keluarga atau Seksi Kerasulan Keluarga dari sejumlah paroki, antara lain dari Paroki Bagansiapiapi, Dumai, Pasaman Barat, tiga paroki se-Kota Padang, dua paroki di Kota Pekanbaru, dan Payakumbuh. Sebenarnya, acara tersebut terbuka untuk semua paroki. Namun, karena suatu sebab, tidak semua paroki mengutus Seksi Pastoral Keluarga/Seksi Kerasulan Keluarga bisa hadir.

Dalam konteks pelayanan pastoral bagi keluarga-keluarga, Komkel punya sejumlah pihak sebagai narahubung keluarga di paroki-paroki. Apakah masih ada paroki-paroki yang belum memiliki Seksi Pastoral Keluarga/Seksi Kerasulan Keluarga?

Kami sudah mempunyai dan membentuk narahubung dari komisi keluarga, termasuk para pastornya juga. Sehingga, sebenarnya dari grup WA ini (WAG), sudah tersebar informasi kegiatan-kegiatan Komisi Keluarga. Contohnya, ada Novena Keluarga yang sudah di-share-kan di WAG tersebut dengan menggunakan media sosial Zoom Meeting. Memang, tanggapannya belum maksimal. Belum melibatkan banyak pihak. Sehingga dari Zoom tersebut, paling maksimal diikuti 30-an orang (atau 15 pasangan).

Ini menunjukkan bahwa tanggapan atau antusiasme untuk mengikuti sosialisasi ataupun berkatekese supaya dapat juga dibuat di keluarga masing-masing. Saya berikan formulasi atau bentuknya dari pertemuan keluarga lewat Novena Keluarga. Ada pembacaan Kitab Suci, sharing masing-masing anggota keluarga. Bisa dilakukan di rumah masing-masing. Saya sudah berikan contohnya.

Terkait narahubung yang ada di tiap paroki. Mereka menjadi ‘rekan sekerja’ Komkel dalam karya pelayanan pastoral yang besar ini dan tidak single-fighter. Tidak sendirian dalam komisi ini. Apa yang menjadi kendala/rintangan Serta, upaya yang dilakukan untuk menghadapi rintangan tersebut?

Pertama, saya belum punya tim yang solid, sebagai narasumber, pemerhati keluarga, atau pendamping keluarga yang dapat saya berdayakan untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan terkait keluarga. Apalagi untuk membuat semacam modul atau materi pendampingan keluarga. Itu belum ada.

Sejauh ini, karena relasi/hubungan baik dengan Sekretaris Eksekutif Komkel KWI, maka saya punya sumber, pernah ikut kursus yang diberikan di Semarang. Maka, bahan-bahan itu yang saya olah dan kembangkan.

Maka, saya berharap, ada dalam tim saya itu yang bisa bantu saya untuk membuat materi, atau menyampaikan materi tatkala diselenggarakan suatu iven tentang keluarga. Juga, saya belum punya tenaga ahli, psikolog yang bisa bantu saya untuk mendampingi. Itu yang mau dibentuk di tingkat keuskupan. Tim yang solid, bisa dilatih, memberikan pelatihan.

Perlu adanya tim Komisi Keluarga, mulai dari tingkat keuskupan hingga basis/lingkungan-lingkungan. Bukan dalam pengertian subordinasi, namun mengayomi, mengoordinir. Sebab itu, Komkel harus punya program, materi, modul, kegiatan-kegiatan yang diturunkan ke kevikepan, hingga sampai ke paroki dan seterusnya ke lingkungan/basis. Memang, hingga kini, sudah ada beberapa pihak yang diajak bergabung sebagai relawan Komkel. Terus terang, saya sangat terbantu oleh Komunitas Marriage Encounter (ME) di Padang dan Pekanbaru. Materi ME benar-benar komunikasi suami-isteri, orangtua-anak. Sangat mudah rangkul mereka jadi volunteer dan teladan bagi keluarga-keluarga. Begitupun dengan dengan kalangan para Choicer. Selain materi baku yang dimiliki para Choicer, juga bisa masukkan materi tentang keluarga.

Bukankah sudah ada Seksi Pastoral Keluarga ataupun Seksi Kerasulan Keluarga di paroki-paroki sebagai partner Komkel Keuskupan?

Harus diakui, pada umumnya, pemilihan Seksi tersebut tidak dibekali oleh Pastor Paroki. Tidak mengherankan, mereka pun tidak mempunyai gambaran (frame). Apa yang harus perbuat dalam pendampingan keluarga-keluarga? Itu menjadi kendala tersendiri bagi mereka. Maka, dalam pertemuan dengan Komkel KWI, terungkaplah bahwa hampir di semua paroki, dalam pendelegasian Seksi Pastoral Keluarga, mereka sama sekali tidak mempunyai gambaran program yang mau diperbuat.

Tentu saja, ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Komkel Keuskupan Padang agar Seksi Pastoral Keluarga/Kerasulan Keluarga bisa mempunyai suatu ‘bekal’.

Di sini, dibutuhkan kelegowoan, kebesaran hati, dan minat serta semangat untuk belajar. Ada beberapa (3-4) paroki yang mengundang saya tak lama setelah dipercaya sebagai Ketua Komisi Keluarga Keuskupan. Mereka minta saya untuk berikan pembekalan, materi untuk Seksi Pastoral Keluarga: ini yang dapat diperbuat/diprogramkan di paroki masing-masing. Undang saya untuk berikan pembekalan bagi Seksi Pastoral Keluarga. Itu suatu langkah yang baik.

Terkait dengan kevikepan yang telah terbentuk, diharapkan di tiap kevikepan juga ada Komkel juga. Yang akan melayani paroki-paroki yang ada di kevikepannya. Ada time-line mengenai hal-hal yang dilakukan di kevikepan, paroki hingga tingkat lingkungan-lingkungan.

Sebagaimana diketahui, telah terbentuk tiga kevikepan di Keuskupan Padang pada 24 November 2022, telah dilantik, dan diinformasikan. Adanya kevikepan memperdekat jarak pelayanan pastoral ke tingkat paroki dan umat. Komisi di tiap kevikepan akan semakin mendekatkan pelayanan pastoral.

Dalam percakapan dengan beberapa Seksi Paskel atau Kerasulan Keluarga, pada umumnya menyatakan memogramkan dan melaksanakan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP/Kuperper). Namun, belum melaksanakan semacam program/kegiatan pendampingan keluarga muda (yang usia pernikahannya bawah lima tahun/balita). Mengandaikan perlu adanya pembekalan Seksi Paskel sehingga tidak hanya memahami pelayanan pastoral keluarga sebatas KPP …

Hal ini sangat sejalan dengan dokumen Paus Fransiskus I yang diterbitkan tahun 2022, tentang “Perjalanan Katekumenat Menuju Hidup Pernikahan”. Sangat pas dan kena dengan hal yang telah dipraktikan di paroki-paroki kita, di keuskupan kita maupun keuskupan lainnya. Selama ini, kita hanya mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan KPP. Maka, dengan bersumber pada dokumen Paus Fransiskus I tersebut, ternyata KPP hanya sebagian kecil saja dalam “Perjalanan Katekumenat Menuju Hidup Pernikahan”.

Dalam dokumen Paus Fransiskus I dikatakan, “ … Gereja sebagai ‘ibu’ harus berlaku adil terhadap anak-anaknya….” Dan, digambarkan pula, pendidikan calon imam, butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya ditahbiskan sebagai imam. Mengapa hidup berkeluarga itu sepertinya disiapkan singkat saja?! Dan, tidak menjadi perhatian dari Gereja, paroki, para imam. Ada ketidakadilan. Pada satu sisi, disiapkan hingga sembilan tahun. Sementara sisi lainnya, hidup berkeluarga, hanya disiapkan sebulan-dua bulan dan setelah itu ditinggalkan.

Padahal yang perlu dipersiapkan mulai dari masa kanak-kanak, remaja, orang muda yang bahkan belum punya keinginan menikah telah dibekali dengan katekese tentang iman, moral, keluarga melalui berbagai kesempatan (retret, rekoleksi, dsb). Suatu upaya jangka panjang. Sehingga pada waktunya, siap untuk menikah atau memilih jalan hidup sebagai calon imam, yang bersangkutan telah mempunyai cakrawala berpikir, punya pengetahuan iman yang memadai, moral hidup pernikahan, akhirnya bisa mengambil keputusan yang matang dan bertanggung jawab.

Benar juga, yang sering terjadi selama ini dan telah dilaksanakan, muncul kesan seakan ikut KPP sebatas mendapatkan sertifikat – salah satu persyaratan melangsungkan pernikahan Katolik. Apakah bahan/materi KPP yang didapat telah terinternalisasi, tertanam dalam diri pesertanya menjadi hal yang patut disimak. Jujur saja, dari banyak pasangan yang saya lakukan saat pemeriksaan Kanonik, hanya beberapa pasangan saja yang bisa menangkap/mengerti/memahami materi yang disampaikan saat KPP. Selebihnya? Tidak ingat dan meresap sama sekali. Itu jadi satu kendala tersendiri.

(Bersama Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI)

Dari informasi yang didapat, pada umumnya, penyelenggaraan KPP berlangsung seminggu, dua-tiga hari (biasanya manfaatkan waktu Jumat-Minggu). Sehingga yang muncul kesan, seakan mengikuti salah satu persyaratan saja. Muncul pertanyaan, selain KPP, mestagogi untuk keluarga yang telah terbentuk seakan terabaikan.

Bila mengacu pada dokumen Paus Fransiskus I ini, akan lebih bijaksana dapat terlaksana dalam hitungan bulan. Artinya, diberikan waktu yang lebih panjang, supaya lebih meresap dan terinternalisasi, hingga akhirnya memutuskan siap untuk berkeluarga (Sakramen Pernikahan). Calon pasutri sudah mempunyai banyak pembekalan, mulai dari persiapan jangka panjang hingga perayaan Sakramen Pernikahan.

Penyelenggaraan KPP tetap harus direnovasi dan direvisi model/bentuknya yang telah dilakukan selama ini di paroki-paroki. Beri waktu yang lebih panjang dan model/bentuk yang tidak kaku dan lebih variatif.

Selain itu, perlu disadari, pernikahan bukanlah merupakan puncak dari segala persiapan yang dilakukan sebelumnya; melainkan permulaan dari hidup sebagai suami dan isteri. Sampai dengan perayaan dan pemberkatan pernikahan, mereka masing bertempat tinggal terpisah. Setelah pemberkatan pernikahan, itulah yang menjadi titik awal mereka hidup bersama. Maka, jangan jadikan pemberkatan pernikahan tersebut sebagai puncak segala-galanya! Sebaliknya, justru itulah awal hidup bersama sebagai suami-isteri. Pas ungkapan ‘Selamat menempuh hidup baru!”

… memang, selama ini, yang terjadi selama ini, mestagogi, pendampingan bagi pasutri yang baru melangsungkan pernikahan rasanya belum dilaksanakan sepenuhnya oleh kebanyakan para imam, oleh saksi utama perayaan pemberkatan pernikahan tersebut. Seakan dibiarkan berjalan sendirian. Akhirnya, dalam banyak kasus, ketika sudah mentok/jalan buntu, dan terakumulasi kasus dalam hubungan suami-isteri maupun anak dalam keluarga, barulah datang ke pastor. Seperti terlambat pengobatan dalam dunia medis. Atau, terlambat untuk mencegah suatu ‘penyakit’ dalam kehidupan keluarga.

Hendaknya, hal itu juga disadari oleh para imam dalam pendampingan pasangan suami-isteri yang dia berkati. Ia menjadi saksi utama dari pasutri bersangkutan. Itu jadi tanggung jawab moral dan kewajiban seorang imam mendampingi keluarga-keluarga yang ia berkati.

Dalam wawancara dengan sejumlah narasumber, terungkap, di tempat tertentu berlangsung pernikahan secara adat terlebih dulu ketimbang secara gereja dan sipil. Terhadap kondisi seperti ini, ditempuh jalan antara lain perbaikan perkawinan, konvalidasio. Dalam percakapan terdahulu, ingin dicapai kondisi ideal, namun tidak selalu demikian adanya dalam kenyataan di lapangan yang sangat situasional dan kasuistik. Bagaimana paroki maupun Seksi Paskel DPP menghadapi situasi semacam ini?

Dalam dokumen Paus Fransiskus I memang secara terbuka kebijaksanaan seturut budaya setempat. Tidak bisa diseragamkan. Tidak bisa dijadikan patokan yang sama untuk semua situasi dan kondisi. Tetap mesti mendapat perhatian situasi dan kondisi setempat. Tidak heran, apa yang dirancangkan di Sumbar daratan misalnya dapat diterapkan di Kepulauan Mentawai.  

Mereka lebih dahulu melakukan pernikahan secara adat. Sehingga, bagaimana pastoral para imam/Gereja untuk mengayomi mereka yang sudah berkeluarga – dalam arti tertentu – bahkan telah punya anak; namun belum secara sah menurut aturan Gereja Katolik. Ini kepada mereka mohon didampingi, diberi pemahaman, sehingga perkawinan mereka mendapat keabsahan dari Gereja. Lantas, dibantu untuk memperoleh surat sipil guna keperluan pengurusan akta kelahiran anak, kartu keluarga, dsb. Itu yang harus dibantu oleh para imam. Bukan mempersalahkan, menyudutkan keluarga-keluarga tersebut. Marilah untuk dibantu! Banyak terjadi, disikapi dengan bijaksana, dan mendapat perhatian dan kepedulian dari para imam.

Termasuk konvalidasio. Bisa saja pernikahan di tempat lain, gereja lain, sehingga tidak tercatat, tidak valid menurut peraturan pernikahan Gereja Katolik. Maka, kalau mereka ingin kembali, diperbaiki, disahkan pernikahannya; mari dibimbing. Dituntun agar mereka menemukan kemudahan untuk memvalidasi pernikahan mereka yang selama ini belum valid/sah. Cukup banyak kejadian/kasus semacam itu. Patut mendapat perhatian dan catatan dari paroki setempat.

Apa pernyataan akhir (closing statement) Pastor mengenai pendampingan keluarga-keluarga?

Tanpa bermaksud membanggakan atas hal/upaya yang telah dilakukan selama ini. Mungkin bisa juga dilakukan oleh rekan imam. Pertama, saya membentuk grup WA, antara calon pasutri dengan imam sehingga ada pendampingan yang intens, misalnya pemberian materi, menanyakan pemahaman kepada mereka, sampai dengan pendampingan bagi tata perayaan liturgi pernikahan.

Kedua, bagi para imam, buatlah homilinya menjadi bekal yang bisa dibawa oleh para pasutri. saya buat dalam bentuk flyers memuat gambar, isi homili, nama dua mempelai, tanggal, tempat pelaksanaan pemberkatan. Saya berikan pada pasutri. Bisa baca ulang, cetak lagi, berisi pesan dari imam yang memberkati. Imam berkreasi agar homili yang disampaikan dapat menjadi bekal yang bisa dibawa oleh pasutri. Flyers ini saya berikan kepada pasutri bersangkutan. Mereka bisa membaca lagi pesan imam yang memberkati untuk keluarganya. Berulang-ulang, bahkan bila perlu dipajang agar dapat dibaca ulang oleh anggota keluarga lainnya. Imam berkreasi agar homili tersebut bisa menjadi kenang-kenangan bagi mempelai dan keluarganya kelak.

Ketiga, pendampingan mestagogi setelah pemberkatan pernikahan. Jalur dan jalinan komunikasi yang telah ada sebelumnya dapat digunakan.

Tentu untuk hal ini, imam bersangkutan bersedia ‘bersibuk ria’ atau berepot ria?

Kalau kita menginginkan pasutri atau keluarga ini baik adanya. Maka, terjalinlah jalinan komunikasi antara imam dengan calon pasutri (sebelum pemberkatan) atau pasutri (setelah pemberkatan pernikahan). Bisa mulai dari KPP. Mungkin bagi orang lain melihat beberapa penugasan yang juga saya lakukan di waktu hampir bersamaan (sebagai Ekonom Keuskupan Padang, Ketua Pengurus Yayasan Prayoga Padang, dan Ketua Komisi Keluarga Keuskupan) Padang) seakan berat. Namun, saya berprinsip, suatu penugasan yang diberikan Bapa Uskup dilakukan dengan gembira, ringan, bahkan menjadi berkat bagi orang lain. Pertama-tama, saya harus mencintai layanan pelayanan yang dipercayakan oleh Bapa Uskup; sehingga terasa menyenangkan, bahagia. Saya mencintai pelayanan pastoral yang dipercayakan oleh Bapa Uskup. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *