SINAKSAK- PEMATANGSIANTAR, “Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan Bagi Mahasiswa Calon Pastor dan Pastor” menjadi tajuk Seminar Nasional Fakultas Filsafat Universitas Katolik (Unika) St. Thomas Medan, Sabtu (12/11). Seminar ini merupakan program akademik bagi keluarga besar Fakultas Filsafat – sebagai lembaga pendidikan formal bagi calon imam di Gereja Regio Sumatera. Seminar setengah hari ini mengundang Mayjen (Purn) E. Imam Maksudi dan Brigjen (Purn) Yosepha Sri Suari, M.Si, sebagai naras umber.

Ikut hadir dalam seminar ini Rektor Unika St. Thomas (Prof. Dr. Maidin Gultom, SH., M.Hum.) dan Dekan Fakultas Filsafat (Dr. Laurentius Tinambunan), beserta jajarannya. Peserta seminar adalah mahasiswa calon imam dari Diosesan Regio Sumatera, OFM. Capusin, OFM. Conventual, CMF, dan Suster. Para Pastor dan staf pembina dari setiap rumah bina menghadiri kegiatan ini. Seminar dimoderatori Pastor Guido Suprapto. Dalam sambutannya, Bruder Dr. Laurentius Tinambunan berharap seminar ini menjadi pertemuan yang sungguh menggugah jiwa setiap peserta. Hal senada disampaikan rektor.

Saat awal menyampaikan materi Nasionalisme dan Kebangsaan, Mayjend (Purn.) Imam Maksudi menjabarkan kembali sejarah singkat kemerdekaan Indonesia, dari pandangan historis dan sosiologis. Wakil Ketua Tenaga Profesional Lembaga Pertahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhanas RI) ini menyatakan, “Bangsa Indonesia merupakan bangsa unggul, ditinjau dari kekuatan komunalnya. Semangat kebangsaan muncul atas kesadaran dan kehendak bebas untuk merdeka! Negara ini dapat berkembang dan makin baik bila semua pihak sadar dan mampu melakukan gerakan kecil.”

Imam menyitir pernyataan tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara, “Suatu negara itu tidak kedaerahan, non etnis, dan tanpa dikotomi mayor-minor dalam masyarakatnya. Wawasan kebangsaan memerlukan sikap saling percaya dan menghargai yang menjadi kekuatan bersama. Hadirin seminar ini diajak sadar perlu nasionalisme. Kesadaran tertib berlalu lintas merupakan bentuk sederhana nasionalisme. Disiplin bangsa menjadi keprihatinan bersama saat ini. Globalisasi menjadi penyebab utama lunturnya rasa kesatuan.”

Umat Paroki St. Leo Agung Jakarta ini menambahkan, “Para calon imam ditantang memberanikan diri dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah era Globalisasi. Para calon pemuka umat dan pelayan pastoral diajak mampu menjadi titik tengah bagi Gereja, terutama pada langkah-langkah praktis dan struktural dalam gaya berpastoral. Para imam diharapkan menjadi contoh dan teladan nasionalisme. Seorang imam taat terhadap peraturan bersama yang kadang terlihat kecil dan terabaikan. Janganlah para imam menjadikan alasan takut terlambat memimpin Misa menerobos lampu lalu lintas.” 

Sementara itu, pada sesi kedua, pemateri Brigjen Pol. (Purn.) Sri Suari menyampaikan pemaparan lengkap mengenai hukum, khususnya Hukum Perlindungan Anak dan peran Gereja. Ia menyatakan kekerasan terhadap anak menjadi perhatian publik saat ini. “Saya pernah menangani kasus perdagangan manusia hingga ke Jepang. Sungguh dilema. Saya mendatangi pastor dan merasa diteguhkan dalam iman. Saya berani bersaksi tentang kasih Kristus dalam tugas tersebut,” ucapnya. Nenek satu cucu ini banyak terlibat dalam penyelidikan kasus serupa, memberikan seminar, dan menangani kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Sri mengatakan, “Gereja Katolik mesti ikut ambil bagian dalam penegakan hukum di Indonesia, tentu dalam terang iman Katolik. Di Indonesia ada program Keuskupan Agung Jakarta, yakni Gereja Ramah Anak (GRA). Saya mengimbau agar dipikirkan perlu adanya GRA untuk seluruh Gereja Katolik Indonesia. Bila perlu sampai pada lingkungan dan pembangunan keluarga. Saya merasa sedih ketika ada anak-anak dari negara ini ‘dijual’ ke luar negeri dan dijadikan penghibur di tempat-tempat tidak pantas! Tiap kita pasti tergugah menyelamatkan mereka. Inilah tindakan moral. Sebagai orang Katolik, mestilah bertindak mulai dari hal kecil.”

Ia berbagi pengalaman selama menjadi aparatur negara. Tatkala kebimbangan datang mengurusi kasus, dirinya kerap berkonsultasi terlebih dulu pada pastor.  Baginya, pastor itu adalah ideolog, motivator, fasilitator. Di usia tidak lagi muda, Sri mengajak mahasiswa memahami lapangan pastoral yang juga berkaitan dengan kemasyarakatan, karena mahasiswa Fakultas Filsafat akan menjadi petugas pastoral garda terdepan di waktu mendatang.

Selain pemaparan materi, para mahasiswa menampilkan tari kreasi – berupa tarian etnis Batak, Jawa, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan. Di akhir acara, Prof. Maidin mengemukakan buku yang ditulisnya juga berkenaan dengan tema perlindungan anak. Maidin menyusun buku berdasarkan disertasinya. Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan Ulos Batak/Ma’ulosi kepada kedua narasumber. (Fr. Yobel Zalukhu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *