Siapa mau jadi guru sekolah dasar (SD) di daerah terpencil, seperti di daerah Mongan Teppu, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai? Dominikus Tasirilegi (33), putera asli daerah setempat menyediakan dirinya menjadi guru. Alumni SMA Negeri 1 Siberut Selatan-Mentawai (2010) mengabdikan dirinya sebagai guru di sebuah sekolah yang menjadi filial Mongan Teppu dari SD Santa Maria Muara Siberut sejak 14 Februari 2012.  Telah sepuluh tahun lelaki kelahiran Sagulubbek, Siberut Barat Daya, Mentawai 3 Juni 1989 ini berstatus guru honor.

Semula, sekolah tersebut filial SD Santa Maria Muara Siberut. Namun, sejak tahun 2017, sekolah ini menjadi filial SD Negeri 28 Sagulubbek. Setiap bulan, ia menerima honor sebesar tiga ratus ribu Rupiah. Bahkan, dirinya sempat tidak menerima honor selama empat tahun (2016-2020). Saat sekolah ini berpindah status menjadi filialnya SDN 28. Belum bisa dianggarkan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Domi diangkat resmi sebagai tenaga kontrak pada tahun 2021. Hanya saja, dirinya tidak mengerti ‘pengurangan’ gaji yang dialaminya, dari satu juta tujuh ratus ribu menjadi satu juta dua ratus lima puluh ribu Rupiah. Bahkan, pada Oktober 2022, gajinya ‘dipotong’ lagi setengah (50 persen). “Saya bingung dengan kondisi ini!” ungkapnya kepada GEMA yang menghubunginya saat berada di Tuapeijat.

Dirinya berada di ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai, Tuapeijat, menemui Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Diakuinya, dalam pertemuan tersebut, dirinya belum mengungkap dan mengungkit persoalan honor yang dihadapinya sebagai guru kontrak. “Saya mengangkat pembicaraan mengenai mobiler sekolah dan peralatan bantu kerja (laptop). Hal ini penting, karena pengolahan laporan-laporan banyak menggunakan laptop; misalnya untuk laporan penilaian akhir semester maupun pembuatan laporan ke sekolah induk dan atasan. Hanya saja, saya belum mendapat respon atau tanggapan yang memuaskan,” ungkapnya.

Domi lebih fokus pada situasi kondisi persekolahannya ketimbang nilai kontraknya yang ‘dipotong’ lima puluh persen. Kepada GEMA, Domi menggambarkan situasi di persekolahannya. Dirinya tidak tega melihat ‘rutinitas’ dilalui anak didiknya setiap hari Minggu, usai ibadah di gereja Stasi St. Fransiskus Assisi Mongan Teppu. Mereka memindahkan bangku panjang dan kursi gereja ke sekolah. “Kami meminjam bangku dan kursi gereja. Saya tidak tega melihat anak didik duduk di lantai. Selalu ada kemungkinan terjadi kecelakaan atau peristiwa naas saat anak-anak memindahkan bangku panjang dan kursi dari gereja ke sekolah dan mengembalikannya kembali ke gereja di hari Sabtu,” ujarnya.

Selain mobiler sekolah yang sangat terbatas, anak didiknya mengalami kesulitan pengadaan buku paket dan peralatan penunjang bagi guru membuat lembar penilaian. Di tempat/sekolah lain, pengolahan raport menggunakan laptop. Tentu saja, dirinya mengalami kesulitan karena ketiadaan alat bantu. Domi mengaku telah berulang kali menyampaikan permasalahan yang dihadapinya kepada atasan, bahkan langsung kepada Kepala Dinas Pendidikan. “Saya menjadi capek berulang kali ‘mengemis’ kepada pimpinan. Selalu muncul jawaban, tidak ada dana taktis karena dialihkan untuk keperluan penanganan pandemi Covid-19. Istilahnya refocussing. Saya pun tidak berharap banyak pada dana Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai. Saya mengidamkan empat puluh murid filial SD Negeri 28 Sagulubbek ini bisa belajar dengan tenang dan tidak lagi belajar di lantai maupun meminjam bangku panjang maupun kursi gereja stasi,” tandasnya.

Kubur Impian

Ia pun tidak menghiraukan lagi dan mengubur dalam-dalam mimpinya menyelesaikan kuliah Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka (PGSD UT), karena mengalami kendala pendanaan. Dirinya hanya sanggup bertahan hingga semester tujuh (2018). Gajinya sebesar tiga ratus ribu Rupiah sebulan tidak memadai untuk memuluskan niatnya berkuliah. Butuh dana dua juta Rupiah. Belum lagi untuk ikut kuliah tatap muka UT selama dua minggu di Muara Siberut. Untuk tatap muka dirinya menempuh rute jalan setapak hutan pedalaman Pulau Siberut. Kini, baginya, lebih penting anaknya bisa bersekolah ketimbang dirinya.

Selain galau dengan urusan persekolahan dan pendidikan masa depan generasi muda Mongan Teppu, suami Anastasia Lusi Sakulok ini juga dipusingkan dengan urusan kebutuhan keluarganya. Dengan gaji yang ‘disunat’ lima puluh persen, dirinya harus mampu menghidupi keluarganya dan asap dapur rumahnya tetap mengepul. Domi mesti menafkahi istri dan tiga anaknya yang masih kecil. Kepada GEMA, Domi menuturkan, sepulang sekolah, jam 12 siang, dirinya menjadi kuli panjat kelapa di ladang orang agar mendapat upah guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Domi telah melakoni kerja sampingan ini sejak menjadi guru di Mongan Teppu (2012). Tiap kali panjat kelapa, Domi mendapat upah sebesar lima puluh ribu Rupiah. “Kalau tidak panjat kelapa, tentu tidak dapat uang!” ucapnya.

Sejak tahun 2021, lingkup tugasnya lebih ringan ketimbang sebelumnya – mengajar murid kelas I hingga V SD, dengan adanya tiga guru baru. Semuanya tamatan SMA. Kini, dirinya hanya mengajar murid kelas V dan VI SD filial SD Negeri 28 Sagulubbek, Siberut Barat Daya. “Selain panjat kelapa, dirinya juga menyagu. Mengolah sagu. Sesekali isteri bantu saya, karena lebih fokus mengurus anak-anak di rumah. Sesekali, isteri pergi menanam keladi di ladang (mone). Yang pasti, saya tidak mau membebankan isteri bekerja berat. Saya tidak mau merepotkan anak didik dengan imbalan atau balasan untuk saya sebagai gurunya. Saya hanya ingin mereka belajar sungguh-sungguh,” tuturnya.

Sepuluh tahun sebagai guru honor di pelosok terpencil (2012-2022), Domi bahagia melihat ada di antara muridnya ‘melebihi’ dirinya – tamatan SMA. Tiga di antara mantan muridnya berkuliah, di Padang dan Yogyakarta. Pada tahun akademik 2022-2023, terdapat tiga muridnya mengenyam pendidikan SMA dan empat orang di tingkat SMP. Dirinya teringat saat-saat mendapati kenyataan ketiadaan guru di kampungnya dan banyak anak tidak bersekolah, Februari 2012. “Saat itu, tidak ada guru. Saya mau mengajari mereka berbekal pendidikan SMA. Saya tidak mau mereka terlantar dan tidak mengecap pendidikan. Saya inginkan kondisi sekolah ini semakin berkembang ke tingkat lebih baik. Sekolah ini patut mendapat perhatian Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai,” katanya bersemangat. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *