SERUAN PERTOBATAN

HARI MINGGU BIASA III (22 Januari 2023)
Yes. 8:23b-9:3; Mzm. 27:1,4, 23-14; 1Kor. 1:10-13, 17;
Mat. 4:12-23 (Panjang), Mat. 4:12-17 (Singkat)

Anda tentu pernah mendengar orang berkata, “Mumpung masih muda” atau “Santai saja, Bro”. Mumpung masih muda mengejar karir dan kekayaan. Selagi ada kesempatan dan peluang, mestilah dimanfaatkan semaksimal mungkin.  Atau pernyataan lain, “Nantilah setelah waktunya siap atau setelah sukses dan kaya raya, barulah menyumbang, bederma, dan bertobat.”

Sifat manusia berbeda-beda. Ada yang disiplin dengan waktu. Orang ini tidak mau menunda-nunda waktu dalam setiap urusan, karena waktu berikutnya sudah ada urusan atau pekerjaan lain. Baginya waktu sangat penting, maka perlu diatur. Sebaliknya, ada orang yang sangat toleransi dengan waktu. Di saat banyak waktu, memilih santai-santai daripada mengerjakan tugasnya. Ia memilih mengerjakan tugas pada detik-detik terakhir.  Apakah hal ini berlaku dalam hal pertobatan? Bertobat saja saat menjelang ajal. Bisakah demikian?

Kalau dikaitkan dengan datangnya kematian – yang pasti datang (keniscayaan), tetapi saatnya saja yang seorang pun tidak tahu, pertobatan tidak bisa ditunda-tunda.  Tidak ada orang yang tahu berapa lama lagi akan hidup.  Bisa saja, kita belum siap (bertobat), tetapi waktunya sudah habis. Jadi, mengapa harus menunda-nunda undangan Yesus untuk bertobat?

Bacaan Injil hari ini memberikan terang yang kita perlukan dalam menghadapi tantangan-tantangan ini. Yesus datang untuk mendirikan Kerajaan Surga. Dia datang untuk menghancurkan penindasan dosa dan maut, dominasi dari Iblis dan kedagingan. Dia datang untuk memancarkan terang kasih-Nya ke dalam hati kita yang gelap. Semakin dekat kepada Yesus, Dia pun menjadi semakin menarik bagi kita. Dengan demikian, sebagaimana murid-murid-Nya yang pertama, kita tentu rela meninggalkan segalanya untuk dapat hidup bersama-Nya. Injil-Nya menjadi begitu indah sehingga hati kita pun terbakar untuk berbagi dengan dengan semua orang. Cerita tentang murid-murid Yesus yang pertama menunjukkan cara manusia menanggapi secara positif panggilan Yesus. Hal ini bukan selalu berarti harus meninggalkan tugas-pekerjaan, melainkan di tengah-tengah kesibukan tugas sehari-hari, mampu mendengar suara-Nya, mengasihi-Nya, dan mengikuti Dia.

Apakah waktu itu mudah bagi Simon Petrus dan Yohanes untuk mengikuti Yesus? Kiranya tidak! Setiap orang tentu mengalami kesulitan dalam usahanya mengikuti Yesus, bahkan para murid-Nya yang paling dekat sekali pun mengalami kesulitan. Namun demikian, kabar baik keselamatan dalam Yesus memberikan pengharapan yang mereka butuhkan. Setiap hari para murid Yesus yang awal itu menghadapi pilihan sama seperti yang mereka hadapi pada waktu pertama kali berjumpa dan dipanggil oleh Yesus: “mendengar suara Yesus dan mengikuti Dia”. Kita pun sekarang menghadapi pilihan yang sama –ketika sedang berada di tengah kesibukan melaksanakan tugas, untuk mendengar suara Yesus dan mengikuti-Nya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *