Setelah pensiun dari salah satu stasiun televisi swasta nasional ternama (2016), Johanes Edy Ismoyo, S.Ag. (62) lebih leluasa mencurahkan tenaga dan perhatiannya dalam pelayanan katekese dan Pendidikan di Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang. Pak Yo, panggilan akrabnya, bekerja di Indosiar sejak tahun 1994.

Mulanya, suami Maria Vivi Budiman (52) ini ditempatkan di Jakarta pada bagian penyiaran (broadcasting). Selanjutnya, dirinya dipindahkan ke Palembang (2000-2004) sebelum akhirnya ditugaskan ke Padang hingga pensiun. Hari-harinya diisi berjualan mie dan empek-empek pada sebuah lapak yang terdapat tidak jauh dari Puri Manaog.  Dirinya sungguh ‘menikmati’ masa pensiun dengan sejumlah aktivitas pelayanan, yakni mengajar agama Katolik (katekese), mengantar Komuni Kudus – sebagai salah satu petugas pembagi Komuni paroki, terlibat dalam kegiatan rayon, maupun berbagai kegiatan menggereja lainnya. “Saya siap membantu umat paroki!” tandasnya.

Alumni STFT St. Yohanes Pematangsiantar, Sumatera Utara ini terlibat dalam pelayanan tanpa kenal lelah dan imbalan dari paroki. Ia dipercaya sebagai salah satu pengurus katekese dan pendidikan di paroki. “Seksi Katekese punya peran penting dalam pengembangan Agama Katolik dan pembinaan umat Kristiani. Seksi ini bertugas mengajar, mempersiapkan, dan membina para calon baptis, calon penerima Komuni Pertama, calon penerima Sakramen Krisma, serta pembinaan iman umat – terkhusus pada bidang pewartaan di rayon-rayon. Selain itu, seksi ini menaruh perhatian pada pelajaran agama di sekolah-sekolah, tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/SMK) yang terdapat dalam wilayah paroki,” ucapnya.

Dalam pelaksanaan tugasnya, Pak Yo tidak sendirian. Terdapat 12 guru lain. Secara khusus, ia mengajar peserta didik kelas XI. “Saya senang, gembira, dan bangga bila ada di antara peserta didik diterima di perguruan tinggi ternama; serta terlibat aktif di lingkungan gereja. Artinya, tidak sia-sia saya mengajar dan membina murid tersebut. Memang, selama empat belas tahun sebagai Seksi Katekese Dewan Pastoral Paroki (DPP) kerap menghadapi kendala, khususnya aspek kedisiplinan peserta didik serta minimnya sokongan orangtua mereka agar aktif belajar dan menggereja,” katanya.

Meski demikian, Pak Yo tidak patah semangat mengabdi di lingkungan Gereja maupun masyarakat. “Saya telah disiapkan untuk melayani, terutama sejak dari lingkungan seminari. Saya berpesan pada generasi muda agar mengembangkan talenta yang dimiliki dan diberikan Tuhan. Hidup di dunia bersifat sementara, sebab itu melayanilah dengan cinta kasih seperti Yesus Kristus mencintai manusia. Perkembangan Gereja bukan hanya di tangan para imam, namun juga kekompakan dan kebersamaan umat,” tandas prodiakon paroki ini mengakhiri. (ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *