SAWAHLUNTO – “Bangga dan bahagia bisa hadir di tempat ini,” kesan Mgr. Vitus Rubianto Solichin saat kembali menapaki kaki di Paroki Santa Barbara Sawahlunto, Sabtu (3/12) sore. Kunjungan Bapa Uskup terasa sangat istimewa, bertepatan Pesta Yubileum Gereja Paroki. Momen satu abad (100 tahun) berdirinya Gereja Paroki membangkitkan kenangan tiga puluh tiga tahun silam. Saat itu, Uskup Vitus masih frater yang baru mengucapkan kaul pertama. Momen pengucapan kaul pertama tersebut dipestakan P. Mario Boggiani, SX (alm) di ruang dapur paroki.

Kedatangan Bapa Uskup disambut Pastor Paroki Sawahlunto, P. Fransiskus Aliandu, Pr. bersama umat dengan tarian tortor.  Saat penyambutan, perwakilan umat mengalungi Mgr. Vitus dengan ulos  – sebagai ungkapan kasih sayang dan rasa hormat umat kepada gembala Keuskupan Padang ini. Selanjutnya, Bapa Uskup diantar masuk gedung gereja untuk ibadat penyambutan “Gembala yang Baik”.

“Umat bersyukur atas kehadiran Bapa Uskup di paroki ini. Umat sebagai satu keluarga menyambut kedatangan gembala dalam rangka syukur 100 tahun berdirinya paroki. Kami yakin dan percaya kehadiran Yesus sebagai Juru selamat direpresentasikan dalam diri Bapa Uskup yang hadir di sini,” kata P. Kus saat ibadat tersebut. Malam harinya, Bapa Uskup menyampaikan materi Rekoleksi Bersama Pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Nonton Bareng (Nobar) OMK. Tidak hanya DPP, rekoleksi yang berlangsung di gereja paroki ini juga diikuti umat.

Pada hari kedua kunjungan Bapa Uskup, Minggu (4/12), umat paroki ini bersuka cita merayakan Pesta Yubileum (100 Tahun) berdirinya gereja Paroki Santa Barbara Sawahlunto. Delapan ratusan umat hadir dalam momen istimewa dan bersejarah ini. Panitia menyediakan penginapan sementara bagi umat luar Sawahlunto. Misa Perayaan Syukur 100 tahun Paroki Santa Barbara Sawahlunto dilangsungkan di bawah tenda dalam Kompleks SD St. Lucia – bukan dalam gedung gereja paroki karena kapasitas tidak cukup.

Dalam perayaan ini, Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma dan melantik DPP periode 2022- 2025. Misa ini disiarkan secara langsung melalui Youtube lewat channel Komisi Komsos K. Padang milik Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Padang. Perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, didampingi sejumlah imam (Pastor Paroki P. Fransiskus Aliandu, Pr., P. Alfonsus Widhiwiryawan, SX., serta para pastor yang pernah berkarya di paroki ini; di antaranya P. Frelly Pasaribu, Pr., P. Philips Rusihan Sakti, Pr., P. Bonar Sinabariba, Pr., dan  Diakon John Mejer Manulang, Pr.

Dalam homilinya, Bapa Uskup mengatakan, “Banyak perkembangan umat terjadi selama seratus tahun ini,  meskipun umat Katolik lebih sedikit jumlahnya ketimbang umat agama lain. Jumlah umat ini seperti garam yang memang tidak banyak ketika ditabur pada masakan, namun akan memberikan rasa asin. Seperti garam, umat paroki yang sedikit itu justru melebur dalam masyarakat luas sehingga memberikan rasa yang pas. Komunitas Paroki Sawahlunto ini mesti berbangga karena menjadi bagian masyarakat yang harmonis, rukun dan damai. Kota Sawahlunto yang menyerupai bejana merupakan ‘deposito’ dan warisan berharga yang harus dijaga.”

Bapa Uskup menambahkan, “Paroki Sawahlunto telah mewariskan warisan iman kepada umat, termasuk para generasi muda dan 77 penerima Sakramen Krisma. Roh Kudus yang ada di dalam diri umat hingga seratus tahun paroki ini telah menghasilkan kaum muda – yang siap menerima Roh Kudus untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Kaum muda menjadi garam yang tidak pernah habis meskipun larut. Penerima Krisma diutus ‘berperang’ dalam hal membuat pilihan rohani. Memilih sesuatu yang membangun persaudaraan di antara umat berdasarkan cinta kasih dari Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita semua.”

Salah satu krismawan, Immanuel Wisnu Siahaan mengaku senang dan lebih bersemangat. Ia merasakan kepenuhan Roh Kudus saat menerima Sakramen Krisma. “Di waktu mendatang, saya akan menjadi saksi di tengah teman seiman maupun tidak seiman. Saya akan melakukan kegiatan dan menjadi pribadi lebih baik lagi, misalnya membantu teman tanpa membedakan sekat-sekat terhadap teman beda agama,” katanya. Sementara itu, salah satu anggota DPP yang dilantik, Elisabeth Pinayungan mengaku senang dan bahagia. Seksi Liturgi DPP ini berharap Paroki Sawahlunto semakin berkembang dalam iman dan umat semakin teguh. “Semoga umat mau berbuat untuk menghasilkan buah iman yang lebih baik kedepannya,” ujarnya.

Umat Bersuka Cita

Usai Perayaan Ekaristi, di lokasi sama, Bapa Uskup, para pastor dan tokoh-tokoh umat menandakan perayaan Yubileum Paroki dengan seremoni pemotongan kue ulang tahun. Seluruh umat terlihat bersukacita dan bersemangat merayakan momen ini.

Dalam sambutannya pada ramah-tamah, Bapa Uskup kembali menegaskan pesan yang disampaikan saat homili agar umat bersama-sama menjaga dan mengembangkan “tambang iman” – yang merupakan harta karun dan warisan turun temurun dari para imam misionaris dan oppung (kakek dan nenek) – dengan cara berjalan bersama, sehati sejiwa agar umat paroki ini menjadi paguyuban yang semakin rukun dan dinamis. “Tempat ini adalah tambang iman yang diberikan oleh para pendahulu. Semoga kita tetap rukun, guyub, semakin berbuah di masa mendatang. Mari kita bergandengan tangan dan saling membantu untuk terus mengembangkan iman,” ajak Uskup Vitus.

Ketua Panitia, Jaulin Simanjuntak, SH menyatakan, “Panitia menyiapkan berbagai acara memeriahkan Yubileum Seabad Paroki St. Barbara Sawahlunto, yakni pemberian ulos kepada Bapa Uskup dan tamu undangan, santap siang bersama, dan hiburan bersama umat.  Bapa Uskup, para pastor, dan hadirin ikut menari bersama. Keberagaman latar etnis umat paroki ini terlihat dari aneka hiburan yang dibawakan; misalnya tari Maena (Nias), tortor (Batak), dan gemu-famire (Flores).  Terkait persiapan perayaan yubileum, panitia menghadapi banyak tantangan. Bukan hanya persiapan jelang hari “H”, panitia juga merenovasi Asrama St. Lucia Klooster – yang akhirnya bisa digunakan untuk kegiatan Nonton Bareng OMK. Panitia juga mendapat dukungan penuh dari pastor paroki.”

Sementara itu, dalam sambutannya, selaku pastor paroki, P. Kus merasa dirinya dan umat Paroki Sawahlunto semakin diteguhkan lewat kehadiran Bapa Uskup. “Kami, umat dan kawanan dombanya menjadi yakin dan percaya bahwa kami tidak sendirian! Kami adalah kawanan dengan gembalanya. Semoga dengan momen Seratus Tahun Paroki ini, kita tetap berjalan bersama untuk Gereja yang lebih baik di waktu mendatang,” ungkap P. Kus.

Gereja Sawahlunto Cagar Budaya

Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta, S.H. ikut hadir pada ramah-tamah perayaan Satu Abad Gereja Paroki Santa Barbara Sawahlunto ini. Deri mengatakan, “Kota Sawahlunto merupakan kota unik, sebab dibentuk oleh salah satu perusahaan tambang dengan infrastruktur yang lengkap. Kota ini adalah kota yang maju dan modern pada masanya. Itulah sebabnya, kala itu, banyak orang dari berbagai latar suku, budaya, dan agama berpadu di Sawahlunto. Warga masyarakat hidup aman dan tenteram hingga sekarang.”

Pada kesempatan ini, Wali Kota Deri memaparkan, “Pemerintah pernah mengusulkan program revitalisasi dan mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk melakukan revitalisasi bangunan gereja Santa Barbara dan makam Belanda (kerkhoff). Di tahun 2019, Kota Sawahlunto menerima penghargaan dari The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Salah satu zona intinya adalah Gereja Santa Barbara Sawahlunto  dan beberapa kantor perusahaan tambang. Di sini terdapat sejarah peradaban yang luar biasa. Harus diakui, perhatian pemerintah ini masih belum cukup memadai. Namun, yang terpenting, kebersamaan pemerintah dan Gereja menjaga asset yang sudah dilindungi ini.”

Wali Kota Deri menambahkan, “Bangunan gereja ini telah ditetapkan sebagai ‘cagar budaya’ dan telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda). Ada ketentuan tidak boleh mengubah bentuk bangunan gereja, namun dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan umat. Umatlah yang memanfaatkannya, dari gereja dan keluarganya. Dukungan seluruh umat inilah yang membuat asset ini tetap terjaga. Saya menghargai, mengapresiasi umat Katolik yang telah menjaga warisan dunia ini.”

Selain hadir Wali Kota Sawahlunto, dalam rombongan tampak Wakil Ketua DPRD Kota Sawahlunto (Elfia Rita Dewi, SH), Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Sawahlunto, dan Camat Lembah Segar. Dalam sambutannya, Wakil Ketua DPRD Sawahlunto berharap kebersamaan ini selalu terjalin hangat. “Keberagaman etnis menjadi ciri khas Kota Sawahlunto.  Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu dan bersaudara. Kita boleh berbeda tetapi kita bersaudara. Tidak ada perbedaan di antara kita, sebab kita satu bangsa yakni Bangsa Indonesia. Semoga lewat perayaan hari ini selalu terjalin kebersamaan. Satu untuk bersama. Bersama untuk Sawahlunto yang terbaik mendatang,” ujar Elfia.

Terkait kehadiran pejabat pemerintah pada perayaan yubelium, Ketua Panitia Jaulin Simanjuntak berpendapat, “Butuh sinergi pemerintah dan warga masyarakat! Pemerintah yang hebat tanpa didukung masyarakat, tidak akan berjalan lancar. Sebaliknya, masyarakat yang bercita-cita untuk maju tanpa ada yang mengarahkan, maka bakal tidak maju,” Kata Jaulin Simanjuntak. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *