Banyak penyebab seseorang sakit, misalnya kurang menjaga kesehatan, stress, banyak pikiran, banyak konsumsi bahan instan. Walau sudah tahu tidak bagus dan tidak baik bagi kesehatan, namun masih juga dikonsumsi, contohnya kebiasaan merokok. Ada pula dari luar, misalnya cuaca yang cepat berubah, bersepeda motor tidak berjaket sehingga angin menerpa tubuh ini. Bila fisik tidak kuat – sejalan pertambahan usia sehingga daya tahan tubuh menurun – timbul masalah kesehatan (sering sakit-sakitan).

Saya kurang setuju anggapan ‘nikmatilah hidup ini selagi hidup’ di sebagian orang. Kalangan ini tidak suka karena merasa terlalu banyak larangan/pantangan sehingga tidak bisa ‘menikmati’ hidup. Padahal, sepanjang kehidupan kita, tidak selamanya sehat. Kadang kala, penyakit menghampiri. Setiap manusia pernah sakit – dalam berbagai tingkatan kadarnya – mulai sakit ringan hingga berat/kronis/akut. Saya dan anggota keluarga pun pernah mengalaminya.

Kalau ada anggota keluarga yang sakit, jujur saya pun bakal stress, apalagi bila anak ketiga sakit. Ia bisa alami step bila suhu tubuhnya naik. Umurnya enam tahun. Sedari kecil, si bungsu ini step kalau suhu tubuhnya tinggi. Telah terjadi beberapa kali. Setahun silam, bertepatan ulang tahun kelima, ia demam dan step.  Kalau dia demam, dipastikan kami orangtuanya tidak bakal bisa tidur dengan nyenyak. Dari pengalaman, kami selalu siap sedia menyiapkan obat penurun panas/demam. Saya sempat panik, apalagi saat suami (Yosaphat Tatebburuk) sedang tidak berada di rumah karena urusan kerja. Ada satu saat ketika anak demam, suami tidak berada di tempat; lain waktu suami menjagai anak saat saya di luar Muara Siberut, Mentawai; karena menemani mertua berobat. Yang parah bila anak step tengah malam. Pengobatan pun ala kadarnya untuk menurunkan demam dan menghentikan step. Kadang, ada usulan tetangga mengusulkan ragam pengobatan. Kami upayakan coba. Tujuannya satu, demi kesembuhan anak.

Kalau masih bisa ditangani di rumah, maka akan dilakukan. Selama ini, masih bisa ditangani. Kalau demam malam hari, besoknya, barulah kami bawa ke tenaga kesehatan. Kebetulan ada apotek dan dokter di sini. Namun, belum sampai mesti menginap di rumah sakit/puskesmas. Kami pasti akan datangi tenaga kesehatan yang ada di sekitar rumah. Lain waktu, suami saya menggunakan jasa tenaga kesehatan di sekitar rumah, tatkala sakit gigi.  Singkat kata, kalau ada anggota keluarga sakit, maka anggota keluarga lainnya juga ikutan pusing menghadapinya.

Kalau saya sakit, bila masih bisa ditahan, akan ditahan saja terlebih dulu. Selagi masih bisa ditahan sakitnya dan belum begitu parah, saya ‘menikmati’ sakit tersebut. Namun, kalau sudah tidak sanggup, saya akan berobat juga. Suami pun beri perhatian bila ia melihat ada perubahan saya alami dan ajak berobat. Tentu, pasti ada perhatian suami dan anak-anak bila istri/ibunya sakit. Di sini, perhatian/kepedulian antarwarga sangat tinggi, termasuk bila ada anggota keluarga warga yang sakit. Saya alami di sini. Saat anak sakit misalnya, tetangga berdatangan dan menanyakan kondisi. Mereka ingin tahu dan peduli sembari menyarankan obat tradisional yang bisa digunakan sebelum ke puskesmas terdekat. Semampunya mereka beri bantuan.

Kita tidak luput dari sakit, maka diperlukan jasa dokter, perawat, rumah sakit, dan apotek (obat-obatan).  Kalau kita tidak menjaga kesehatan diri sendiri, bakal muncul berbagai penyakit. Idealnya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tetapi, kalau sakit, janganlah menunda-nunda pengobatannya agar tidak semakin parah. Saya pernah mendengar ungkapan sakit sebagai ‘ujian’ atau cobaan yang diberikan Tuhan. Bagi saya pribadi, sakit bisa menjadi kesempatan melihat apa saja yang telah dilakukan selama ini? Sudahkah menjaga kesehatan? Bagaimana bersikap terhadap pantangan atau larangan dari kemungkinan terkena penyakit? Bagaimana penanganan bila mengalami sakit? Bahkan, sakit dapat menjadi kesempatan ‘berbagi perhatian/kepedulian’ terhadap sesama. Atau, bisa pula sebagai bentuk ‘teguran’ dari Tuhan kepada saya agar tidak bersikap egois.

Memang, pernah terlintas dalam pikiran saya, sakit yang dialami anak, suami, maupun diri sendiri merupakan ujian atau cobaan Tuhan. Serta, agar saya bersikap lebih baik pada diri sendiri dan orang lain. Di waktu silam, saya sempat dirawat beberapa lama di rumah sakit. Waktu itu, saya sempat merenung “mungkin ada kesalahan atau kekeliruan yang saya perbuat”. Mungkin, lewat sakit yang dialami ini, saya ‘ditegur’. Saya minta ampun pada Tuhan atas segala kesalahan, bertobat dan berjanji tidak mengulangi lagi kesalahan. Saya refleksikan, dari pengalaman sakit yang pernah dialami, ternyata melalui sakit pun bisa menjadi kesempatan mendekatkan diri pada Tuhan.

dituturkan kepada GEMA oleh Veronika Meilina
ibu tiga anak, warga Stasi St. Maria Conforti Maileppet Pasakit
Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Siberut, Kepulauan Mentawai/hrd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *