“Seseorang bagai air keruh ketika ia tidak meluangkan waktu duduk dan berdiam merefleksikan pengalaman hidupnya. Air keruh menyebabkan seseorang buta, bahkan tidak mampu melihat rahmat Tuhan kepada dirinya sendiri. Dengan meluangkan waktu untuk diam, seseorang mampu melihat segala sesuatunya merupakan anugerah. Sebaliknya, kalau o hidup dan batin seseorang keruh maka yang ada dalam diri adalah amarah dan perselisihan terus,” kata Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Padang, P. Petrus Hardiyanto, SX pada homili perayaan pelindung Stasi St. Ambrosius Tabing-Padang, Minggu (11/12/2022).

Di bagian lain homilinya, P. Petrus berpesan agar umat stasi ini meneladani St. Ambrosius dengan cara hidup akur di dalam rayon masing-masing. “Serta, mampu menjadi pemersatu ketika perselisihan kelompok, terutama saat memasuki tahun politik (2024). Janganlah tahun politik tersebut menjadi sumber perselisihan! Juga, umat yang memiliki kemampuan di bidang tertentu turut terlibat menggereja. Santo Ambrosius adalah uskup dari kalangan sipil. Kepandaiannya mengurus masyarakat sipil. Ambrosius diminta untuk mengurus gereja. Pengalaman seperti ini juga bisa terjadi untuk warga stasi ini,” ucap P. Petrus.

Usai Perayaan Ekaristi, panitia menyiapkan serangkaian acara pada momen spesial ini. Perayaan yang biasanya seremonial dan penampilan bakat rayon diganti permainan interaktif dalam kelompok. Kegiatan berlangsung di Aula SD Setia. Pastor dan tamu undangan pun turut terlibat dalam dinamika dan permainan tersebut. Ketua Rayon St. Antonius, Betty Tjoa merasa bahagia selama kegiatan berlangsung. “Kegiatan sangat meriah dan penyelenggaraan acaranya sukses. Saya seakan bernostalgia, karena dapat merasakan persatuan dan kebersamaan umat-pengurus yang begitu erat. Para anggota kelompok antusias dalam setiap permainan dan  menjawab pertanyaan. Panitia juga kompak dan bahu-membahu,” ucap Betty.

Sementara itu, Ketua Stasi Tabing, Romulus Sitanggang gembira karena acara berlangsung meriah meski masih dalam masa pandemi Covid-19. Romulus berpesan agar umat stasi berjalan bersama, berbuah, dan mandiri. “Semoga di waktu mendatang, Stasi Tabing bangkit dan maju, sebagaimana pernah dikatakan almarhum Uskup Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM.Cap. Stasi Tabing luar biasa pertambahan jumlah umatnya,” tukas Sitanggang.

Peristiwa ini sekaligus penanda berdirinya lima puluh tiga tahun gereja stasi, sejak pembaptisan pertama berlangsung di tahun 1969. Pada awal Perayaan Ekaristi – yang dipersembahkan parokus – diarak pigura gambar Santo Ambrosius. Perayaan Ekaristi berlangsung di gedung serbaguna SD Setia Tabing Padang, sebab hingga saat ini, stasi ini belum memiliki bangunan gereja tersendiri. Sementara itu, Ketua Panitia, Clifferno mengatakan pigura gambar telah diberkati pastor untuk diletakkan di ruang serbaguna stasi. Pamflet dibagikan kepada umat agar umat semakin mengenal pelindung stasi, Santo Ambrosius. Sementara itu, pada ujung kegiatan, sebagai ungkapan syukur, semua peserta santap siap bersama, didahului pemotongan tumpeng, penanda pertambahan usia stasi ini. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *