Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) adalah satu seksi yang baru terbentuk resmi dan memulai kegiatannya dalam Dewan Pastoral Paroki Hati Kudus Yesus (DPP HKY) Pangkalankerinci, Riau (13/8/2022). Sepri Efendi Purba terpilih sebagai Ketua SKK DPP. “Sebenarnya, pembentukan SKK ini agak terlambat dibandingkan paroki lain di Keuskupan Padang,” ungkap Parokus P. Aloysius Suyoto, SCJ saat seremoni pelantikan pengurus SKK.

Aloysius berharap SKK dapat membantu pelayanan pastoral keluarga di Paroki HKY sehingga menjadi berkat bagi seluruh umat. Satu minggu usai pelantikan, SKK menyelenggarakan rekoleksi yang berfokus pada pembahasan dua dokumen tentang keluarga, yakni Familiaris Consortio dan Amoris Laetetia yang disampaikan P. Aloysius. Rekoleksi bertujuan agar para pengurus yang terlibat sebagai SKK mengenal dua dokumen tersebut. Kegiatan selanjutnya berupa pembekalan SKK pada 10-11 Desember 2022, dari rencana semula pada September 2022.

Pembekalan SKK diikuti 48 peserta, termasuk para ketua lingkungan. Terdapat tujuh lingkungan suami-isteri. Kegiatan – berlangsung mulai Sabtu sore hingga Minggu siang – dibuka kata sambutan pastor paroki. P. Aloysius menyambut baik aktivitas pembekalan bagi SKK Paroki HKY. P. Aloysius berharap pembekalan yang bertema “Keluarga Sebagai Dasar Gereja dan Masyarakat” ini dapat mengembangkan pelayanan pastoral keluarga di seluruh penjuru paroki. Di kesempatan ini, Pastor Paroki HKY Pangkalankerinci ini berharap para keluarga Katolik dapat berkontribusi bagi Gereja dan masyarakat agar menjadi kuat dan kokoh menghadapi tantangan zaman. “Keluarga yang rapuh menyebabkan Gereja dan masyarakat rapuh. Sebaliknya, keluarga yang kuat, Gereja dan masyarakat pun menjadi kuat dan kokoh,” kata P. Aloysius.

Usai sambutan singkat tersebut, aktivitas pembekalan disampaikan seorang imam Keuskupan Semarang, P. Yeremias Bala Pito Duan, MSF. Pastor Yere, panggilannya, mengulas tentang keluarga dari sudut tinjauan psikogenetik dan psikososial. Tenaga pastoral di Paroki St. Maria Gubug Grobogan-Jawa Tengah ini mengajak tiap peserta menyadari keberadaan dirinya dengan latar belakang situasi, keluarga pada saat masih bersama orangtua. Pastor Yere yang pernah terlibat dalam aktivitas di Komisi Keluarga KWI ini mengungkap, “Berdasarkan teori ‘siapa kita’ yang terbentuk saat ini merupakan ‘hasil bentukan’ masa lalu di dalam keluarga!”

Sepanjang acara pembekalan berlangsung, berdasarkan pemantauan di lokasi, kegiatan terasa menarik dan tidak membosankan. Pastor Yere membawakannya dengan santai dan pandai membaca situasi. Ketika perhatian peserta terasa mulai tidak fokus, ia menyisip ‘pemecah suasana’ (ice breaking) sehingga para peserta kembali antusias melanjutkan rangkaian aktivitas pembekalan. Waktu pun terasa berlalu dengan cepat. Menurut pengakuan dua peserta yang tidak mau disebutkan identitasnya mengaku tertarik mengikuti pembekalan ini. Mereka mengusulkan ada kegiatan sejenis yang melibatkan lebih banyak umat.  (sep)/hrd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *