Salam belas kasih,

Saudari dan saudara yang budiman, umat se-Keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang dikasihi Tuhan, Bapa Suci Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit Sedunia ke-31, tanggal 11 Februari 2023, di tengah perjalanan sinode Gereja, mengundang kita semua untuk merenungkan pengalaman kerapuhan yang subur dan berbuah. Justru dalam kondisi sakit kita dapat belajar berjalan bersama menurut gaya Allah, kita bisa melatih kedekatan, belas kasih, dan kelembutan.

Di awal pesan untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-31 yang mengambil tema “Rawatlah dia”. Belas Kasih sebagai Reksa Penyembuhan Sinodal” itu, Bapa Suci mengingatkan kita bahwa “sakit merupakan bagian dari kondisi manusiawi. Tetapi, jika sakit itu ditanggung dalam kesendirian dan terabaikan, tanpa perhatian dan belas kasih, tentu dapat menjadi tidak manusiawi.”

Belajar dari Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati

Beranjak dari Ensiklik Paus Fransiskus, Fratelli Tutti yang terbit pada tanggal 3 Oktober 2020 dan bicara tentang persaudaraan sosial universal, Bapa Suci mengundang kita merenungkan kembali Perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati, supaya kita dapat beralih dari “awan gelap” dunia yang tertutup ke “mimpi dan penciptaan dunia yang terbuka” (bdk. No. 56). Menurut Paus Fransiskus, “ada hubungan yang mendalam antara perumpamaan Yesus tersebut dan dunia sekarang ini yang menolak persaudaraan dengan berbagai macam cara.”

“Manusia yang telah dipukuli dan dirampok dibiarkan di pinggir jalan itu melukiskan kondisi saat ini di mana sekian banyak saudara-saudari kita ditinggalkan justru ketika mereka sedang membutuhkan pertolongan. Tidak mudah membedakan mana serangan terhadap kehidupan dan martabatnya yang berasal dari penyebab alami dan mana yang disebabkan oleh ketidakadilan dan kekerasan. Pada kenyataannya, meningkatnya tataran-tataran ketimpangan dan kepentingan segelintir orang kini memengaruhi setiap lingkungan hidup manusia sedemikian rupa sehingga sulit untuk menilai pengalaman apa pun sebagai hal yang “alamiah”. Semua penderitaan terjadi dalam suatu konteks “budaya” dan berbagai kontradiksi-nya.”

Bapa Suci menekankan bahwa “yang penting di sini adalah mengenali kondisi kesendirian dan penelantaran. Kepedihan semacam ini lebih mudah diatasi daripada kekejaman ketidakadilan lainnya, karena untuk mengatasinya – seperti dikisahkan oleh perumpamaan Orang Samaria yang baik hati – hanya perlu memikat perhatian kita sesaat dan gerakan belas kasih yang ada dalam diri kita. Dua pelintas, yang dianggap saleh dan religius, melihat orang yang terluka itu, tetapi tidak mau berhenti menolong. Tetapi, orang ketiga yang lewat yaitu orang Samaria, seorang asing yang dicemoohkan, justru tergerak hatinya, merawat orang yang terluka itu, dan memperlakukannya sebagai saudara. Dengan melakukannya, bahkan tanpa banyak berpikir, dia membuat perbedaan, dia membuat dunia lebih bersaudara.”

Kerapuhan Manusiawi Kita dan Belas Kasih Allah

Dalam pesan untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-31 yang ditulis dari Basilika St. Yohanes Lateran di Roma, pada tanggal 10 Januari 2023, Paus Fransiskus mengingatkan sekali lagi bahwa “kita sering tidak siap menghadapi penyakit. Kita bahkan sering tidak berani mengakui bahwa kita semakin menua. Kerapuhan membuat kita takut, dan berkembangnya budaya efisiensi mendorong kita untuk menyembunyikan kerapuhan itu, dengan tidak menyisihkan ruang bagi kerapuhan manusiawi kita. Dalam arus semacam ini, ketika kekuatan jahat mendadak masuk dan melukai kita, kita akan terkesiap. Orang lain mungkin mengabaikan kita pada saat-saat rapuh. Pada saat-saat kita lemah, kita mungkin merasa bahwa kita sebaiknya meninggalkan orang lain supaya tidak menjadi beban. Begitulah kesepian muncul, dan kita keracunan rasa pahit ketidakadilan, seolah-olah Tuhan sendiri telah meninggalkan kita.”

Memang, seperti ditegaskan oleh Bapa Suci, “kita mungkin sulit berdamai dengan Tuhan ketika hubungan kita dengan orang lain dan diri kita sendiri rusak. Oleh karena itu, terkait dengan penyakit tentu sangat penting seluruh Gereja mempertimbangkan dirinya sendiri sesuai teladan Injil tentang orang Samaria yang baik hati, supaya Gereja menjadi “rumah sakit lapangan” yang sejati.” Imajinasi eklesiologis yang disukai oleh Bapa Suci karena menyadari banyak anggota Gereja yang sakit dan menderita. Lapangan Gereja Basilika St. Petrus bagaikan dibanjiri umat yang luka-luka karena peperangan. Bapa Suci mengingatkan bahwa “misi Gereja dinyatakan dalam tindakan perawatan, khususnya pada lingkungan zaman kita ini. Kita semua rapuh dan rentan. Kita membutuhkan belas kasih yang mengerti bagaimana berhenti sejenak, datang mendekat, menyembuhkan dan bangkit kembali. Demikian, penderitaan orang sakit merupakan panggilan untuk menghentikan ketidakpedulian dan memperlambat langkah mereka yang berjalan sendirian seolah-olah tidak memiliki saudari dan saudara.”

Hari Orang Sakit Sedunia, seperti dipesankan oleh Bapa Suci, “mengajak kita untuk berdoa dan lebih dekat dengan mereka yang sedang menderita. Lebih dari itu, kesempatan ini juga bertujuan untuk membangkitkan kesadaran umat Allah, lembaga kesehatan dan masyarakat sipil untuk bergerak maju bersama-sama dengan cara baru.” Pada pesan terakhir dari perumpamaan orang Samaria yang baik hati, Paus Fransiskus, menyarankan agar “gerak persaudaraan, yang mulai dari perjumpaan tatap muka, dapat diperluas ke dalam perawatan yang terorganisir. Unsur-unsur penginapan, pemilik penginapan, uang dan janji untuk datang kembali (bdk. Luk. 10:34-35) semua itu menunjukkan komitmen para petugas kesehatan dan pekerja sosial, anggota keluarga dan sukarelawan, melalui mana yang baik setiap hari tetap teguh berdiri menghadapi kekuatan jahat, di setiap bagian dunia.”

Ketika Saudara Kita Jatuh Sakit: Rawatlah Dia!

Pada akhir pesannya, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa “orang Samaria itu memanggil pemilik penginapan untuk ‘merawat dia’ (Luk. 10:35). Yesus menujukkan panggilan yang sama kepada masing-masing dari kita. Ia mengutus kita untuk pergi dan berbuat demikian (bdk. Luk. 10:37).” Seperti ditulis oleh Bapa Suci dalam Ensiklik Fratelli Tutti, “perumpamaan orang Samaria yang baik hati itu memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas dapat dibangun kembali oleh saudara dan saudari yang menjadikan kerapuhan orang lain sebagai kerapuhannya sendiri, yang menolak pembangunan masyarakat yang ditandai dengan pengucilan, tetapi menjadi sesama manusia dari orang yang jatuh, dan mengangkat serta memulihkannya, sehingga kebaikan itu menjadi kebaikan bersama (No. 67).” Memang, “Kita diciptakan untuk suatu kepenuhan yang hanya dapat dicapai dalam cinta. Kita tidak dapat bersikap tak peduli pada orang yang menderita” (No. 68).

Pada Hari Orang Sakit Sedunia tanggal 11 Februari 2023 ini, sekali lagi kita diingatkan bahwa bukan hanya apa yang berfungsi baik atau mereka yang produktif yang perlu diperhatikan, melainkan, sejatinya orang sakitlah yang berada pada pusat persekutuan umat Allah. Gereja maju bersama dengan mereka sebagai tanda kemanusiaan di mana setiap orang berharga dan tak seorang pun dibuang atau ditinggalkan.” Dengan pengantaraan Maria, Bunda Kesehatan bagi orang sakit, Bapa Suci memberkati semua anggota keluarga dan saudara kita yang sakit, juga yang merawat mereka dalam keluarga-keluarga kita, semua saja yang berkomitmen untuk menjalin ikatan persaudaraan personal, gerejawi, dan sipil.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

2 Komentar

  1. Terima kasih untuk pencerahan ini yang mengingatkan & menyadarkan kita tentang kepedulian terhadap sesama yang menderita sakit. Kiranya kelemahan diri kita menjadi panggilan bagi yang lain untuk menguatkan dan menyemangati.God Bless…

  2. Artikelnya sangat menginspirasi pembaca.
    Terimakasih redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *