Pengenalan sekilas tentang Kardinal Joseph Ratzinger (Paus Emeritus Benediktus XVI) dapat diakses lewat link Youtube https://youtu.be/CxkblV2ZDYI, dalam judul Hanno eletto me, un semplice ed umile nella vigna del Signore

(Para Kardinal telah memilihku, orang yang rendah dan simpel di kebun anggur Tuhan. Red.). Ia adalah pribadi yang menggumuli “sejarah kasih Allah dengan Kebenaran-Nya” dalam teologi.

Lebih dari enam puluh buku telah mengalir dari pergulatan refleksi teologisnya. Sosok yang tidak kenal lelah mengejar Sang “Matahari” Kebenaran. Dia berjuang agar teologi tidak melulu refleksi rasional atas Wahyu (Komunikasi Diri Allah), melainkan juga menjadi hidup rohani (spiritual), Kebenaran tidak hanya disimpulkan akal budi, melainkan juga dihidupi, dihayati, diwartakan, dan disaksikan dalam hidup di era modern.

Untuk ini, Benediktus XVI menelusuri Kitab Suci, Tradisi, utamanya Patristik, Filsafat, dan tentu saja Ajaran Magisterium. Para teolog, misalnya Hans Urs von Bhaltasar,  Henrie Lubac, Yves Congar, Chenu, para Patristik menjadi “rekan-rekan utama diskusi-inspiratif” pergumulan teologi Ratzingerian. Dominasi tema “Kasih”, “Yesus Manusia”, “Komunio”, Gereja dan lain-lain menyeruak di banyak sesi uraian teologisnya.

Nama “Benediktus” adalah Santo Pelindung Eropa, sosok yang merintis “kebudayaan” Kristiani Eropa. Paus sebelumnya, Benediktus XV, adalah sosok Paus setelah Perang Dunia I, saat Eropa jatuh dalam perang paling brutal. Benediktus XV adalah dia yang “memulihkan” Eropa. Dari Benediktus XV lahir Ensiklik Maximum Illud, Ensiklik yang merestorasi Gereja di zaman itu. Benediktus XVI mungkin bercita cita pula “merestorasi” Gereja di era modern (dan pascamodern) dalam praksis teologis, kesederhanaan dan kerendahan hati, bukan di atas panggung politis.

Dalam keheningan dan kesunyian selama purna baktinya sebagai Paus Emeritus, Benedictus XVI mempersembahkan dirinya dalam doa-doa dan matiraga bagi Gereja Katolik. Dia mungkin salah satu “beacon” di era modern dalam menyusuri jalan-jalan teologis, untuk menemukan Sang Kebenaran, Sang Cinta, memeluk-Nya dan menghidupi-Nya selamanya. Selamat jalan Bapa Suci. (Arm/ist).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *