MENJADI PRIBADI YANG BEBAS

HARI MINGGU BIASA VI (12 Februari 2023)
Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2, 4-5, 17-18, 33-34; 1 Kor. 2:6-10;
Mat 5:17-37 (Panjang) atau Mat 5:20-22a, 27-28, 33-34a, 37 (Singkat)

SETIAP orang pada dasarnya ingin bebas. Bahkan bebas sebebasnya, bebas tanpa batas. Apakah itu  mungkin? Kalau itu terjadi, maka hukum rimba yang berlaku. Siapa yang kuat dan berkuasa itulah yang menang dan bebas sewenang-wenang terhadap yang lain. Kebebasan manusia tidak ada yang mutlak atau sempurna tanpa norma-norma. Tidak ada bebas yang tanpa batas. 

Sejak awal penciptaan Allah menganugerahkan kebebasan kepada manusia. Kebebasan itu sesungguhnya untuk menciptakan harmoni, keseimbangan, kesejahteraan manusia. Kebebasan Allah anugerahkan untuk keselamatan manusia, bukan untuk merendahkan martabat manusia. Dengan kebebasannya, manusia bebas menentukan sikap dan resiko dari sikap bebasnya. Jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa adalah bukti kebebasan manusia dalam menentukan sikapnya.

Allah memberikan hukum atau norma-norma untuk menjaga harmoni kehidupan manusia. Lihat Sepuluh Perintah Allah.  Dengan aturan itu, kebebasan  manusia ditata sehingga  perbuatan manusia bisa dipertanggungjawabkan. Pada sisi lain, norma atau hukum itu  juga bisa berwibawa apabila dihayati  dalam kebebasan. Kebebasan atau norma adalah dua hal yang saling mendukung, jadi pelaksanaaan dan penghayatannya mesti dilaksanakan bersamaan.

Yesus tampil memberikan ajaran baru menyempurnakan Hukum Taurat yang penuh peraturan membelenggu. Para Ahli Taurat dan kaum Farisi menggunakan hukum itu bukan untuk mengatur harmoni kehidupan, tetapi untuk menakut-nakuti masyarakat. Akibatnya, manusia menaati hukum dan aturan bukan atas kesadaran karena kebutuhan, tetapi “paksa rela”, karena takut dihukum kalau melanggar peraturan.

Yesus membongkar paradigma baru dengan hukum kasih.  Aturan atau hukum bukan untuk membebani manusia, tetapi melaksanakan aturan karena kebutuhan. Hidup perlu harmoni atau keseimbangan, sehingga orang mesti menenggang juga sesamanya.  Yesus mengajak dalam melaksanakan hukum, bukan karena takur sanksi, tetapi karena kebutuhan diri. Dengan demikian, bukan manusia menghamba pada hukum, tetapi hukum tunduk pada manusia.

Yesus sendiri adalah sosok pribadi yang bebas sekaligus taat azas. Sejak kanak-kanak, Maria dan Yosef menanamkan nilai-nilai adat istiadat Yahudi kepada-Nya. Begitu pula saat berkarya, Yesus adalah pelaksana sekaligus  pewarta kehendak Bapa-Nya  dan pelaksana hukum cinta kasih. Maka  tidaklah mengherankan  apa Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan menyempurnakannya”   Bacaan I hari ini menegaskan tentang kebebasan. Hidup dan mati terletak di depan manusia; apa yang dipilih akan diberikan kepadanya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *