Dalam kehidupan seseorang, setiap orang mengalami sakit – dalam berbagai tingkat atau derajatnya, mulai dari kadar ringan hingga berat. Tidak selalu sehat. Pada umumnya, sakit disebabkan kurangnya perhatian/kepedulian pola dan gaya hidup yang tepat dan benar. Bukan karena cobaan, ujian, teguran, apalagi kutukan Tuhan kepada manusia. Adalah anggapan keliru bila sakit dikait-kaitkan dengan hal demikian. Suatu kekeliruan serius bila dikaitkan aspek medis/kesehatan.

Patutlah kita lihat lagi bagaimana pola hidup, terutama kecukupan makanan bergizi, istirahat, olah raga, serta mengelola stress. Boleh dikatakan, sakit selalu ada dalam ‘peradaban’ dan kehidupan manusia – terutama bila tidak peduli dengan pola dan gaya hidupnya. Sehatkah atau sebaliknya?!

Dari pengalaman saya berkecimpung di Rumah Sakit Yos Sudarso Padang maupun pengalaman pribadi, dapat dipastikan munculnya stress, cemas, sedih, menangis tatkala ada anggota keluarga yang mengalami sakit. Saya mau berbagi secuil pengalaman tatkala mendapati kabar mengenai ayah – sempat divonis dokter hanya bertahan usianya selama tiga bulan akibat penyakit ginjal (1995). Saat itu, saya terpisah jarak dengan anggota keluarga lainnya. Saat itu, ayah berada di Makassar-Sulawesi Selatan; sementara saya tidak berada di dekatnya. Saya hanya mendapat kabar dari telepon saudara mengenai kondisi terbaru ayah. Sesaat, saya stress. Namun, tidak mau berlama-lama, saya menanyakan upaya/usaha yang dilakukan untuk kesembuhan ayah. Sungguh sangat mengejutkan bagi saya kala itu. Syukurlah, hingga kini, ayah masih ada bersama saudara saya di Makassar.

Pengalaman tersebut mengajarkan saya agar bisa mengendalikan stress, segera bangkit, dan berupaya melakukan suatu usaha saat mendampingi anggota keluarga yang sakit. Bagaimana kita mendampingi anggota keluarga yang sakit agar tidak mengalami stress juga?! Mengapa? Karena hal itu turut memengaruhi cepat atau lambatnya proses penyembuhan.  Kalau pendamping stress, si sakit pun bakalan alami stress. Dapat dibayangkan adanya wajah-wajah stress dan cemas tatkala ada anggota keluarganya sakit saat dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit, apalagi bila terlambat dilayani dokter maupun perawat.

Dari situasi sakit inilah, kita serahkan sepenuhnya dan hanya bisa berpasrah pada penyelenggaraan Illahi – yang akan memberi yang terbaik untuk kita. Selain itu, tetaplah jalin komunikasi dengan anggota keluarga lainnya dengan penuh cinta kasih. Saat menghadapi orang sakit, janganlah kita menunjukkan kekhawatiran, kecemasan, stress; sebab hal ini akan berpengaruh pada proses penyembuhan. Malah bisa tambah berat derita yang dialami.

Sebaliknya, kalau anggota keluarga yang sakit mendapat perhatian dan kasih sayang berdampak bagi kesembuhannya. Kalau di rumah sakit, ia merasakan adanya pelayanan dan penanganan yang baik. Hal ini dapat menjadi ‘obat dan hiburan’ tersendiri bagi pasien. Boleh dikatakan, 90 persen kesembuhan disebabkan karena adanya komunikasi yang baik serta cara pelayanan yang baik, misalnya lewat sapaan ramah dan penuh kasih. Begitupun dengan pelayanan yang dialami anggota keluarga selama berada di rumah sakit. Di antaranya pelayanan Tim Pastoral Care (PC) RS Yos Sudarso Padang. Dalam tim tersebut ada pastor dari Paroki St. Fransiskus Assisi Padang.

Selain membezuk pasien, Tim PC ajak pasien dan penunggu pasien berdoa bersama. Pastor menerimakan Komuni Suci bagi pasien beragama Katolik. Pelayanan PC di RS Yos Sudarso sudah lama berlangsung. Seingat saya, sudah ada sejak pelayanan Sr. Agnes Syukur, SCMM (alm). Pastoral Care merupakan bentuk pelayanan rohani bagi pasien dan keluarganya yang mendampingi, sekaligus ikut bantu kesiapan batin pasien dan keluarganya menghadapi sakit, lebih rileks. Dengan upaya/cara ini, pasien dan keluarganya diharapkan lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan tidak merasa kesepian/sendirian, karena ada Tuhan yang mendampingi.

Singkat kata, tidak hanya pelayanan fisik – lewat upaya pengobatan – juga ada pelayanan rohani untuk kesembuhan pasien, bahkan juga untuk anggota keluarganya.  Pelayanan yang utuh/holistik. Di RS Yos Sudarso Padang, pelayanan rohani sebagaimana dilakukan Pastoral Care juga dilakukan oleh kalangan Muslim. Ada tim tersendiri yang dipimpin seorang ustad. Begitupun dengan pelayanan rohani bagi pasien penganut agama lain, sesuai dengan agama pasien. Saat masih terlibat di Pastoral Care, saya melihat adanya tanggapan positif bagi pasien dan keluarganya. Mereka sangat senang sekali dan bahkan ada yang minta bisa ‘dikunjungi’ dan didoakan setiap hari. Mereka merasa tenang dan sungguh diperhatikan, terutama pada masa-masa kritis, saat mereka lebih membutuhkan pendampingan rohani.

Sr. Clara Minggu, SCMM
Pernah Tim Pastoral Care RS Yos Sudarso Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *