Akibat daya tahan tubuh menurun, seseorang bisa terjangkit suatu penyakit dan menjadi sakit. Kurang istirahat, sedikit minum air, asupan gizi makan yang rendah, tidak memerhatikan lingkungan sekitar, dan sebagainya dapat menjadi pemicu seseorang sakit. Selain itu, sakit bisa disebabkan paparan virus maupun bakteri dari luar tubuh seseorang.

Terkena suatu penyakit dan menjadi sakit sungguh merupakan suatu kejadian yang tidak mengenakkan, membuat fisik tidak nyaman, selain mengganggu aktivitas rutin. Tidak bisa bekerja maupun bersekolah. Sakit menyebabkan penurunan selera makan, kekuatan atau tenaga berkurang, badan menjadi lemas. Boleh dikatakan, sakit lebih banyak disebabkan oleh ketidakpedulian diri untuk memerhatikan kondisi tubuh/fisik sendiri. Kita kurang menjaga/merawat atau abai dengan kondisi tubuh sendiri. Karena terlalu sibuk mencari nafkah misalnya, sehingga lupa dan abai untuk memerhatikan diri sendiri: lupa waktunya makan, minum, istirahat, waktu mengistirahatkan tubuh ini – dengan tidur.

Saya cermati aktivitas suami saya, Yulius Fatlan (45), seorang guru beberapa waktu terakhir di bulan November dan Desember 2022 ini yang sibuk dengan rangkaian aktivitas. Ia terlihat sibuk membuat dan menyusun naskah/soal ujian semester ganjil, melaksanakan ujian, memeriksa hasil ujian murid, menyiapkan pelaporan dan masukkan nilai ujian. Terkadang, suami baru bisa tidur pukul 01.30. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 03.00, dia mengantar anak pergi ke tempat latihan berenang anak bungsu. Hal semacam ini dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun dan berakibat sakit.

Dari pengalaman sebagai ibu rumah tangga dua anak perempuan, tentulah muncul ketidaktenangan, rasa gelisah dan cemas bila ada anggota keluarga yang sakit. Saya bersyukur punya latar belakang pengetahuan keperawatan, sehingga tahu ciri-ciri penyakit serta efeknya kelak, serta kemungkinan yang bakal terjadi. Saya gelisah bila mulai terlihat gejala atau tanda-tanda anak atau suami bakalan sakit. Biasanya, saya upaya/usahakan untuk mengatasinya supaya tidak berlanjut terus, bahkan semakin parah.

Tatkala anak saya mengatakan kepalanya agak pusing, tidak nafsu makan, rasa pahit bila menelan makanan, badan lemas; saya mulai memperkirakan ‘sesuatu’ yang akan terjadi. Contohnya, akan muncul demam tinggi atau pusing berlebihan. Sebab itu, tatkala muncul keluhan, saya pun segera bertindak. Saya akan ‘memaksa’ anak untuk tetap makan dan minum meski muncul selera pahit, tidak berselera makan. Kalau mandi, biasanya saya campurkan air panas dan sedikit garam. Kunci dalam keluarga saya, kalau sudah terasa tidak enak badan dan selera makan berubah, mestilah dilawan! Tetap wajib makan meski selera terasa pahit di mulut.

Ada juga sakit yang tidak dikehendaki, misalnya suami alami insiden/kecelakaan lalu lintas atau anak mengalami kecelakaan saat berlatih renang. Jujur, dalam situasi seperti itu, muncul kepanikan sesaat namun segera bergerak cepat membawa ke rumah sakit, agar ditangani oleh pihak yang tepat/ahli. Saya tidak mau menganggap remeh/sepele peristiwa semacam ini. Bagi saya, “wajib hukumnya” dan tanpa banyak pertimbangan lagi, segera bawa rumah sakit bila terjadi musibah semacam ini. Saya minta foto rontgen agar tahu penangangan selanjutnya, karena saya tidak tahu seberapa parah masalah yang dialami suami maupun anak.

Namun, agak ribet atau repot tatkala ibu rumah tangga yang sakit. Sekali lagi, saya bersyukur punya latar belakang sebagai perawat, sehingga bisa berupaya mengatasi sendiri permasalahan sakit. Kalau sempat terlanjur demam tinggi misalnya, saya minta bantuan anak atau suami untuk melakukan sesuatu sesuai ‘instruksi’ yang diberikan. Sediakan ini-itu, minta tolong untuk siapkan obat ini-itu.

Kalau ada sebagian orang yang menganggap sakit sebagai ujian/cobaan bahkan ‘teguran’ dari Tuhan, saya mau mengatakan bahwa sakit sebenarnya merupakan pertanda atau sinyal dari tubuh ini – yang butuh untuk diperhatikan. Misalnya, untuk beristirahat, asupan gizi makanan. Menurut saya, tidaklah benar anggapan seakan sakit merupakan cobaan/ujian atau ‘teguran’ dari Tuhan. Bahkan, saya punya keyakinan, Tuhan pun tidak menginginkan sesuatu yang buruk terhadap umat manusia ciptaanNya. Malah, sebenarnya, kalau dikaji lagi, manusia bersangkutanlah yang menyebabkan dirinya sendiri ‘bermasalah’.

Elisabeth Patty
Umat Paroki St. Maria Bunda Yesus Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *