Saya membalas/menanggapi pesan dari Redaksi GEMA pada hari ini (26/12/2022). Saat ini, keadaan saya mulai membaik. Puji Tuhan, meskipun masih terasa lemas dan mesti hemat bicara. Selama sepuluh hari saya menjalani rawat inap di RS Arifin Ahmad Pekanbaru, karena mengalami sesak nafas. Sebelumnya, saat awal sesak nafas, saya dilarikan ke RS Petala Bumi Pekanbaru oleh Seksi Sosial Stasi, bertepatan dengan perayaan pesta pelindung stasi, Santa Lusia, 13 Desember 2022. Misa dipersembahkan Pastor Guillermo Arias, SX.

Namun, oleh pihak rumah sakit dan atas persetujuan pasien serta keluarga, selanjutnya, saya dipindahkan ke RS Arifin Ahmad. Setelah proses persetujuan pasien dan keluarga, saya tidak ingat lagi. Saat itu saya diduga positif Covid-19, maka setelah dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) segera dipindah ke ruang isolasi. Setelah itu, menurut penuturan isteri, saya dipindahkan lagi ke bagian Intensive Care Unit (ICU). Tatkala tersadar, saya dapati tangan dan kaki terikat dalam ruang isolasi. Tidak ada siapa pun, kecuali peralatan medis dan dua kamera CCTV di sudut atas kamar. Dalam pikiran saya, sepertinya saya tidak bisa merayakan Natal bersama keluarga pada tahun ini (2022). Apalagi menurut berita yang santer terdengar kemarin, sangatlah mahal biaya pasien ataupun penanganan jenasah Covid-19.

Selama berada di rumah sakit, saya membayangkan kerepotan tersendiri yang dialami isteri dan anak-anak di rumah. Namun, puji Tuhan, ada adik saya yang ikut membantu dan menjagai saya selama berada di rumah sakit. Sehingga, isteri masih bisa membantu pekerjaan saya yang bertugas sebagai koster di gereja. Dalam situasi seperti ini, sangat benarlah pendapat atau anggapan “memang benar enak tinggal di rumah sendiri”. Namun, kalau dalam keadaan sakit sesak nafas – sebagaimana saya alami – saya berusaha merasakan tetap enak di rumah sakit. Yang pastinya, ada oksigen. Sebenarnya, kalau saya dalam keadaan sehat, sudah pastilah enak di rumah sendiri. Bisa bebas leluasa.

Dari pengalaman sakit, saya berenung dan belajar “apa pun keadaan kita, harus tetap bersyukur!” Tuhan mencintai kita dengan berbagai cara. Bertepatan pula, persoalan kesehatan ini muncul tatkala semua warga stasi sibuk dalam rangka persiapan Natal. Warga menjumpai saya tatkala berada di gereja stasi, setelah dinyatakan pulih. Beberapa teman dan suster Kongregasi KSFL mengunjungi saya. Ternyata, setelah dua hari di rumah sakit, dugaan positif Covid-19 sirna. Saya sesak nafas karena asma, bawaan sejak lahir.  

Saat sakit dan jalani rawat inap di rumah sakit, diakui terjadi kerepotan anggota keluarga, terutama isteri. Selain mondar-mandir ke rumah sakit; dia pun harus sedikit banyak mengerjakan tugas sebagai koster. Sebab tidak ada koster lain. Selain itu, ada juga umat yang minta bantuan di rumahnya. Saat isteri sedang berada di gereja atau sedang membantu di rumah umat, anak saya yang besar – bersama om dan tantenya – menjagai saya di rumah sakit. Kiranya, hal yang sama juga saya alami kalau isteri atau anak sakit. Tidak terbayangkan sedemikian repotnya, karena harus membagi waktu antara tugas dan keluarga. Satu anak saja terkenal flu, sudah panik. Demikianlah gambarannya. Biasanya, untuk menjaga kesehatan, kami selalu merebus jahe sereh. Ternyata, tidak mempan saat sesak nafas menyerang.  Jika tidak mempan dengan rebusan-rebusan, saya biasanya segera ‘mencari’ dokter sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Ada kartu BPJS Kesehatan yang dibayarkan oleh stasi setiap bulan untuk empat anggota keluarga saya.

Dari pengalaman sakit, saya menarik hikmahnya, yakni selalu bersyukur kepada Tuhan – yang ‘mencintai’ kita dengan berbagai cara – termasuk sakit maupun sehat. Dalam keluarga, sesama anggota keluarga saling menguatkan, meneguhkan, mendukung (support); agar anggota keluarga yang sakit segera dapat pulih kembali.

Pius Sugiman
Koster Stasi Santa Lusia Rumbai, Paroki St. Paulus Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *