Salah satu upaya pemerintah dalam membina kerukunan umat beragama adalah melakukan moderasi beragama. Di tengah maraknya paham ekstrem beragama yang radikal, muncul pemahaman yang membenarkan kekerasan dan mengatasnamakan agama. Kata ‘moderat’ berarti menghindari kekerasan dan keekstreman. Moderasi beragama merujuk pada sikap menghindari kekerasan dan keesktreman dalam praktik beragama.

Moderasi akan membentuk sikap dewasa yang menerima perbedaan, bukan merusak kehidupan melainkan “menjadi pengasuh bagi satu sama lain.” Pengasuh yang melindungi dan memahami keadaan bukan hanya karena kesamaan, namun karena perbedaan terciptalah kesatuan yang saling memberi hidup untuk manusia dan sesama ciptaan.

Dalam suatu tulisan karya Rabindranath Tagore (filsuf dan spiritualis India) yang berjudul The Religion of Man, digambarkan sosok Gora seorang Hindu fundamentalis yang menolak perbedaan dan terkesan memaksakan agama demi tujuan utopis yakni agamanya sebagai penyelamat agama lain. Tagore memaparkan konsep manusia universal yang menempuh jalan penyatuan dalam realitas tertinggi manusia yang melampaui batas pikiran mencapai tujuan hidup yaitu kebahagiaan. Agama menurutnya adalah kesatuan spiritual melalui proses pertumbuhan dan transformasi dinamis bukan pewarisan karena keturunan.

Menurut Tagore, esensi agama terletak pada keinginan untuk melampaui batas diri yang egois menuju cita-cita kesempurnaan. Namun agama sering ‘dilembagakan’ mengambil bentuk politik bahkan menjadi senjata kekuasaan yang jauh dari makna terdalamnya yaitu spiritual untuk kedamaian. Pada titik ini, manusia itu kehilangan cinta dan pelayanan, dibutakan oleh sentimen dan ego pribadi. Setiap agama manusia in se mengakar pada kesatuan spiritual, menghargai kebebasan dasar, dan bekerja dalam cinta dan pelayanan.

Dalam Catholic Dictionary, disebutkan bahwa ‘Religion in its widest sense, the union of man with God.’ Dalam bahasa St. Thomas Aquinas, agama itu berkaitan dengan makna kemanusiaan yang mengikat sesama manusia, namun secara layak/proper berupa ikatan antara manusia dengan Tuhan, yang berkaitan dengan bagaimana manusia menyembah Tuhan. Dalam agama ada persatuan yang nyata dalam dua pihak yang terlibat, maka hakekat ikatan ini tidak dapat dilihat dari satu arah saja. Satu sisi kita melihat humanisme religius dipandang dari manusia ada karena dicipta Allah menurut gambar dan rupa-Nya, namun sesungguhnya agama tidak hanya terbatas pada kemanusiaan.

Tujuan penciptaan manusia adalah karena Allah cinta pada manusia dan tujuan akhir penciptaan itu adalah kebahagiaan bagi manusia. Agama dapat diartikan dalam dua jenis kegiatan yang saling berhubungan. Pertama, kegiatan yang timbul dari manusia dan diarahkan kepada Tuhan, misalnya kurban dan penyembahan. Kedua, suatu kegiatan yang dihasilkan oleh media kebajikan yang diperintahkan dalam agama untuk mengarahkan mereka kepada penghormatan terhadap Tuhan. Lebih luas lagi, kasih kepada sesama adalah konsekuensi dari kasih kepada Tuhan. Agama manusia harus mempunyai andil yang besar dalam membangun kemanusiaan, karena mengasihi Allah berarti mengasihi secara universal/tanpa pandang bulu.

Agama di era postmodern mendapat tantangan baru dalam menujudkan tujuan dan esensinya. Postmodern mendekonstruksi pemikiran modern yang mengutamakan kekuatan rasional yang menjebak dan cenderung represif dan menganut kebenaran yang absolut. Postmodern menerima perbedaan dan menghargai nilai keberagaman dari masing-masing sumber. Agama di era ini lebih mendapat posisinya pada bentuk realistis dan dapat berbuah baik. Banyak penafsiran dan persepsi belaka, namun tidak mencapai tujuannya dalam hal spiritual. Wacana perdamaian tanpa aksi nyata hanya sekedar dogma yang diajarkan di setiap keyakinan. Bahkan terkadang agama menjadi sarana melancarkan peluru ego untuk tujuan yang jauh dari substansi agama tersebut.

Dalam era postmodern ini, perlu suatu refleksi yang menyadarkan manusia bahwa agama manusia itu membawa pada persatuan, bukan perpecahan. Agama hendaknya mentransformasikan setiap insan pemeluknya menjadi agen perdamaian. Dalam setiap agama ada nilai kebaikan yang menjadi dasar persatuan. Kebaikan ini dipahami dan dirasakan oleh setiap orang. Demikianlah hendaknya agama di era ini memahami perbedaan dan membentuk persekutuan yang didasari oleh kasih.

Menarik bahwa Paus Fransiskus pernah menyerukan pesan yang sangat dalam mengenai keberagamaan manusia. Di lapangan Santo Petrus pada 7 September 2013 yang lalu dalam homilinya saat misa untuk Perdamaian, ia mengatakan: “Menjadi manusia berarti menjadi pengasuh satu sama lain!” Ia mengangkat Kej. 1 sebagai bahan refleksinya, yakni “Dan Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Dunia pada dasarnya adalah rumah yang harmonis dan damai. Layaknya di rumah sendiri, relasi yang mendominasi adalah relasi persaudaraan sejati yang menuntun pada kebaikan bersama (bonum communae) dan dibimbing oleh kasih. Kekerasan, perpecahan, perselisihan, dan perang ada karena manusia sudah berhenti merenungkan keindahan dan kebaikan dunia ini.

Tentu kita dapat belajar dari kejatuhan manusia pertama yang akhirnya merusak keharmonisan dengan Allah dan seluruh ciptaan. Adam menuduh Hawa, dan akhirnya hadirlah dosa yang merusak citra luhur manusia itu. Teladan ini menjadi tugas manusia yang memiliki identitas beragama. Manusia perlu melepaskan semua ikatan ego pribadi, dan sampai pada kontemplasi menyendiri. Kontemplasi menyendiri melahirkan hubungan intim dengan Allah secara personal, sehingga berbuah dalam cinta akan sesama manusia. Dalam hati setiap manusia ada dasar kesatuan, kebenaran, kebaikan, dan keindahan, yakni Allah itu sendiri. Dasar inilah yang menyatukan manusia menuju kedamaian dan persaudaraan sejati. 

Fr. Doni Xaverius Sinaga OFMCap.
Mahasiswa Jurusan Filsafat STFT St. Yohanes Pematangsiantar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *