“Setiap tahun selalu ada tantangannya, apalagi di tahun 2023 berhembus kencang isu resesi ekonomi. Tahun 2023 sebagai Tahun Kelinci Air diyakini banyak kaum kepercayaan adanya kesialan, ketidakberuntungan (ciong) terhadap shio tertentu. Suatu hal yang menimbulkan banyak kekuatiran bagi semua pihak, termasuk para pelaku usaha,” ungkap Koordinator Badan Pelayanan Provinsial Gerejawi (BPPG) Jakarta, Antonius Surya Tjahjadi, Minggu (29/1).

Hal tersebut disampaikan Surya tatkala sebagai pewarta dalam pertemuan awal tahun 2023 Persekutuan Doa Usahawan, Profesional, dan Executive Karismatik Katolik Indonesia (PERDUKI) Kota Padang, di ballroom lantai pertama salah satu hotel terkenal di Padang. Pertemuan mengangkat tema Tantangan Tahun Baru Bagi Pengusaha Katolik.  “Bagaimana sebagai seorang Katolik, termasuk kalangan pengusaha, mesti bersikap? Kemarin, saat Pandemi Covid-19 yang mulai merebak sejak Maret 2020, banyak kalangan terimbas/terdampak; misalnya kalangan ushawan, karyawan, ibu rumah tangga, para pelajar, dan sebagainya. Memasuki Tahun Kelinci Air (2023) bermunculan aneka informasi tentang shio yang mengalami keberuntungan maupun tidak beruntung (ciong). Ternyata tidak selalu akurat di antara sumber-sumber tersebut,” tutur Surya.

Bagi kalangan yang ciong pada Tahun Kelinci Air, sambung Surya, ada yang mempercayainya dan segera mencari ‘cara’ serta orang pintar untuk membuang sial. “Ada kekuatiran dan ketakutan dari aneka prediksi/ramalan. Padahal, ada tertulis dalam kutipan Kitab Suci sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (bdk. Mat. 6:34). Kekuatiran tidak mengubah situasi malah bisa merugikan. Kalau kita kuatir, ada sejumlah bahaya yang muncul, yakni bersikap ambil jalan pintas, berkompromi dengan dosa, bahkan meragukan kuasa Tuhan,” ucap Surya.

Bagaimana menghadapi kekuatiran? Pewarta yang juga Koordinator Badan Pelayanan Keuskupan Persekutuan Doa  Karismatik Katolik (BPK-PKK) Keuskupan Bandung ini menambahkan, “Terdapat tiga sikap, yakni belajar menerima situasi, berharap kepada Allah (bdk. Yeremia 17:7), selalu bersyukur dan menjauhkan sikap iri hati (bdk.  Filipi 4:6 dan 1 Tesalonika 5:18). Selain itu, kita mesti menyadari empat hal penghambat berkat Tuhan; yaitu malas, kurang berdoa, dosa, dan sikap bersungut-sungut.”

Pertemuan awal tahun 2023 ini diikuti 150-an peserta dari kalangan usahawan, profesional, dan eksekutif. Selain pewartaan oleh Antonius Surya Tjahjadi, pertemuan diawali dengan pujian oleh tim singer Perduki Padang. Berhubung dilaksanakan dalam suasana Imlek, nuansa imlek pun sungguh terasa pada kesempatan kali ini. Tatkala dihubungi GEMA usai acara, Koordinator BPK-PKK Keuskupan Padang, Marcelinus mengapresiasi kegiatan ini. Koordinator sepuluh persekutuan doa Karismatik Katolik (PDKK) se-Keuskupan Padang ini gembira PERDUKI Padang yang baru dibentuk pertengahan tahun 2022 ini mulai dapat menunjukkan eksistensinya. “Pertemuan hari ini merupakan salah satu bentuk kegiatan rutin bulanan. Sebagaimana disampaikan di penghujung acara tadi, di pertemuan mendatang, pertemuan berbentuk adorasi,” ucapnya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *