Kutipan Kitab Suci, terkhusus perumpamaan tentang domba yang hilang (bdk. Luk 15:1-7) maupun perumpamaan anak yang hilang (bdk. Luk. 15: 11-32) bukanlah hal asing melainkan sangat familiar di kalangan kita. Khusus dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, muncul kesan seolah sang bapa membela anak bungsunya, padahal anak sulung selalu bersamanya selama ini. Bahkan, kembalinya anak bungsu disambut suka cita dan dipestakan, karena anak yang hilang kembali pulang/bertobat.

Kutipan tersebut sebenarnya mau menekankan dan menyampaikan pesan bahwa Allah mencintai semua anakNya. Allah yang berbelas kasih. Bagi sebagian pembaca, terdapat beda perlakuan sang bapa terhadap dua anak tersebut: sulung dan bungsu. Bisa terjadi orang tidak berlaku adil pada anak-anaknya.

Kita pun, selaku orangtua, pasti mencintai semua anaknya. Namun, perhatian dan waktu kita pun terbatas. Dan, pasti diberikan kepada mereka yang paling lemah dalam keluarga. Mengapa tidak kepada yang paling kuat, paling hebat? Karena sebenarnya, kembali pada esensi keluarga. Ini adalah keluarga. Bukan untuk pencapaian prestasi. Kalau berorientasi prestasi, tentulah akan mencari yang paling kuat, cepat, hebat, mencapai target. Pasti berbeda dan diupayakan maksimal. Yang lemah dan lambat bakal tertinggal. Ini adalah keluarga bukan perusahaan! Keluarga adalah kebersamaan. Bersama survival. Barengan dalam banyak hal. Bukan hanya orangtua saja yang mesti memerhatikan anggota keluarganya yang lemah, melainkan semua anggota keluarga lainnya. Semua anggota keluarga lain mestilah memerhatikan anggota keluarga lainnya yang paling lemah.

Hanya saja, yang terjadi di masa kini adalah kecenderungan keluarga dengan anak satu orang. Anak tunggal dalam keluarga, sehingga semua perhatian tertumpu pada satu anak saja. Perhatian tunggal. Memang, tidak dipungkiri, dalam keluarga lebih satu anak, ada anak yang mendapat perhatian lebih orangtuanya ketimbang anak lainnya. Perhatian orangtua tentu ada, hanya saja beda porsinya. Sama halnya dengan orangtua, seorang guru yang mempunyai sejumlah pelajar/murid. Ada murid pintar/cerdas dan mudah memahami bahan pembelajaran dalam waktu singkat. Untuk murid seperti ini, tentu tidak terlalu sulitlah mengajarnya. Namun, ada pula murid yang mesti berjuang habis-habisan agar dapat memahami materi belajar. Sang guru mesti mendampingi dan membantu murid bersangkutan. Mengapa guru tidak membantu  murid pandai/cerdas tersebut?! Begitupun dengan teman-temannya akan ikut membantu murid yang mengalami kesulitan. Hal seperti inilah yang dinamakan kasih.

Di tengah arus modernisasi dengan kompetisi hidup yang kuat, keras, dan ketat; keluarga tetap menjadi ‘sekolah kemanusiaan’. Memang, dalam tataran dunia, yang diperhatikan adalah orang yang serba paling (cepat, hebat, menang, pintar, dan sebagainya) serta sarat dengan pertarungan kepentingan duniawi. Tetapi, kita kembali pada unsur kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan. Itu penting, karena akan ada anak-anak yang tertinggal atau ketinggalan, mereka yang tidak berprestasi, maupun berprestasi biasa-biasa saja; bahkan berkebutuhan khusus, maupun mengalami situasi trauma dan serba tertinggal. Sementara itu, Tuhan menginginkan agar anakNya selamat, tidak ada yang tertinggal maupun ketinggalan.  Pola perjuangan keluarga kita pun hendaknya demikian. Justru dalam keluarga bukan persaingan yang muncul melainkan bertumbuh bersama – suatu nilai yang mau dikembangkan dan diperjuangkan – serta perhatian kepada mereka yang paling lemah dan rapuh.

Secara otomatis, spontan dan kasat mata, orangtua pasti akan memberikan perhatian lebih pada anaknya yang paling lemah/rapuh. Ia tidak akan membuang anaknya yang cacat, berkebutuhan khusus, dan alami keterbelakangan mental. Cintalah yang membuat orangtua bersikap seperti itu. Demikianlah cinta secara kodrati akan seperti itu secara alami/natural.

Bagaimana dengan keluarga yang bermasalah? Sebagian besar, memang, anak sering menjadi korban. Sebenarnya, bukan hanya anak menjadi korban melainkan seluruh anggota keluarga yang ada di rumah. Orangtua, anak, kakek-nenek (kalau ada). Tetapi, masalah pun ada tingkatan atau grade-nya: besar, menengah, kecil.  Ketika ada masalah dalam keluarga, anak-anak pun dapat memahami bahwa kehidupan keluarga tidaklah selalu mulus. Namun di sisi lain, mesti disadari dan diketahui anak dalam setiap masalah keluarga juga ada rekonsiliasi. Dua hal tersebut (masalah dan rekonsiliasi) mesti diajarkan, namun jangan di-bombastis-kan. Mengapa? Karena hal tersebut ada kalanya di luar batas kemampuan nalar anak, terutama masih di bawah umur.

Anak sebaiknya boleh mengetahui adanya perselisihan/konflik dalam keluarga, namun janganlah dibesar-besarkan, meledak, bombastis. Memang ada di antara orangtua yang menganggap anak-anak perlu mengetahui adanya persoalan/permasalahan, pertengkaran, dan konflik dalam keluarga. Tidak menyembunyikan masalah. Hanya saja mesti disadari pertahanan emosional anak-anak tidak sama, berbeda-beda porsinya.  Adalah hal lumrah adanya persoalan dan konflik dalam rumah tangga. Namun, anak-anak juga perlu diajarkan dan memahami adanya pengampunan dalam keluarga. Ada rekonsiliasi. Itu penting supaya anak-anak belajar mengampuni. Ada konflik ada rekonsiliasi. Hal ini menjadi pembelajaran bagi anak bahkan menjadi ‘kebiasaan’ (habit) bagi anggota keluarga tersebut. 

RP. Y. Aristanto HS, MSF
Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *