Salah satu laku dalam masa Prapaskah adalah berpantang dan berpuasa. Bagi kalangan Katolik, berpantang dan berpuasa menjadi tanda pertobatan, penyangkalan diri, dan mau menyatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib – sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Pantang dan puasa selalu terkait dengan doa.

Dalam masa Prapaskah, pantang, puasa, dan doa juga disertai perbuatan amal kasih bersama anggota Gereja. Bagi orang Katolik, pantang dan puasa merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama. Bukan untuk hal lain, misalnya keperluan diet, agar kurus, menghemat, dan sebagainya. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita.

Karena kehendak Tuhan yang utama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia. Cara paling sederhana adalah berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita dapat mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan keselamatan orang-orang yang terdekat: orangtua, suami/isteri, anak-anak, saudara, teman, serta para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara.

Marilah kita berpantang dan berpuasa, terkhusus dalam masa Prapaskah lewat upaya berikut:

  • Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun(contoh: pantang daging, pantang rokok) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Jika kita mau melakukan lebih dari ketentuan, silakan berpantang setiap hari selama Masa Prapaskah.
  • Jika kita berpantang, pilihlah makanan/minuman yang paling disukai. Pantang daging contohnya, atau yang lebih sukar (mungkin pantang garam). Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi atau pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, atau pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jika kita memang tidak suka jajan jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.
  • Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, misalnya pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/minuman dan pantang kebiasaan ini.
  • Puasa minimaldalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam tujuh hari Jumat dalam masa Prapaskah (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaskah).
  • Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya.Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.
  • Saat berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan saat di tengah-tengah berpuasa, terutama saat kita merasa haus/lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)
  • Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimalmaka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Tetapi, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ berarti perlu dipertanyakan kembali sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia. (ist/berbagai sumber/hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *