“Terima kasih atas kesetiaan dan keteguhan Pastor Matheus Tatebburuk sebagai seorang imam selama ini. Semoga Tuhan memberkati pelayanannya, bahkan kalau memungkinkan bisa dua puluh lima tahun mendatang, saat pesta emas tahbisan imamat. Selain itu, saya berharap akan banyak anak muda Mentawai yang tertarik mengikuti langkah yang telah dilakukan Pastor Matheus,” ucap Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, Rabu (8/2).

Hal tersebut disampaikan Uskup Vitus dalam homili Perayaan Ekaristi dalam rangka Ulang Tahun Perak (ke-25) Tahbisan Imamat Pastor Matheus Tatebburuk, Pr., di gereja Katedral Padang. Pastor Matheus ditahbiskan oleh Bapa Uskup Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap(alm). Tanggal 8 Februari 1998 di Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Siberut, Kepulauan Mentawai. Pastor Matheus juga merupakan putera asli pertama Mentawai yang ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Padang.

Pada bagian lain dari homilinya, Uskup Vitus menambahkan, “Gereja sangat mendukung dan mencintai orang Mentawai. Mentawai harus maju dan berkembang oleh putera-puterinya sendiri. Bagi kaum muda yang sedang mencari dan menentukan pilihan hidupnya di masa mendatang, pilihan menjadi seorang imam patut diperhitungkan, sebagaimana telah dilakukan Pastor Matheus. Marilah kita berdoa agar banyak panggilan bagi kalangan muda dan menjawabinya sebagai seminaris. Kita berterima kasih kepada keluarga Bapak Thomas Tatebburuk yang merelakan anaknya menjadi seorang imam. Almarhum Pastor Tonino dan Pastor Mateus dapat menjadi teladan kaum muda Mentawai untuk menanggapi panggilan Tuhan sebagai gembala umat.”

Bapa Uskup Vitus mengenang masa silam, terutama jelang tahbisan imamat Diakon Matheus di Paroki Siberut. Saat itu, Uskup Vitus menjalani masa diakonat di Paroki Sikabaluan (1997) dan setelah tahbisan menempuh pendidikan di Italia. “Saya mendapat kabar, Pastor Paroki Siberut kala itu, almarhum Pastor Tonino Caisutti, SX melakukan berbagai persiapan menuju tahbisan yang dirancang pada Februari 1998. Almarhum mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya hingga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Almarhum menyiapkan modul untuk pesta tahbisan imamat putera asli pertama Mentawai. Seakan, almarhum tidak mau melewatkan momen berahmat dan punya arti tersebut begitu saja,” kenang Bapa Uskup.

Masih dalam kenangan Bapa Uskup Vitus, dari Roma (Italia) sampai kabar duka tersebut. “Terbersit dalam pikiran saya waktu itu, almarhum Pastor Tonino ‘mengorbankan dirinya’ untuk semua hal ini. Kalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tidak menghasilkan banyak buah. Inilah kiranya makna/arti persembahan hidup sebagai seorang misionaris yang dapat menumbuhkan kesuburan panggilan menjadi seorang imam. Selanjutnya, persiapan tahbisan dilakukan pengganti almarhum, Pastor Fernando Abis, SX. Walau tidak bisa menyiapkan hingga akhir, almarhum Pastor Tonino menjadi pendoa tahbisan imamat Pastor Matheus,” ucap Uskup Vitus kepada GEMA pada waktu terpisah.

Sementara itu, sebelum penutup Perayaan Ekaristi HUT Perak Tahbisan Imamat, Pastor Matheus berkesempatan menyampaikan isi hatinya. Vikaris Episkopalis Sumatera Barat daratan dan Kerinci ini mengaku banyak suka-duka dialami selama dua puluh tahun menjadi seorang imam. “Bagi saya, berlaku misteri panggilan ‘bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu’. Artinya, kalau Tuhan mau, tidak ada yang bisa menolaknya lagi. Dari pengalaman masa silam hingga kini, saya merasa tidak bisa luput dari Paroki Katedral Padang. Sebelum tahbisan diakon maupun setelah tahbisan imamat. Bahkan, boleh dibilang, bahwa saya memang lahir di Siberut-Mentawai namun dibesarkan di Paroki Katedral Padang,” kata Pastor Matheus.

Di kesempatan ini, selain mengenang masa silam sebelum tahbisan diakon dan imam, Pastor Matheus bernostalgia masa-masa pelayanan di Paroki St. Fransiskus Xaverius Dumai dan Paroki St. Petrus dan Paulus Bagansiapiapi (Oktober 1998 – Januari 2004), Paroki St. Maria Assumpta Sikakap (Januari 2004). Pernah suatu ketika, dirinya menangani pelayanan dua paroki berseberangan laut pada waktu yang sama, yakni Paroki Sikakap dan Paroki St. Yosep Sipora (2008-2010).  “Karena tugas semacam itulah, maka saya sering bolak-balik antarpulau, sehingga mendapat julukan ‘pastor antarpulau’. Hingga akhirnya, pada Februari 2018, saya mendapat penugasan ke Paroki Katedral Padang.  Tanpa terasa, telah lima tahun Pastor Matheus berada di Paroki Katedral (2018-2023),” tutur Pastor Matheus.

Di penghujung kesempatan tersebut, Pastor Matheus mengingat kembali moto tahbisan yang diambil dari kutipan 1 Tim. 1:12. (Aku bersyukur kepada Dia yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku). “Sebenarnya, yang kita rayakan pada hari ini, HUT Perak Tahbisan Imamat adalah kesetiaan Tuhan kepada saya. Saya sadari belum banyak yang bisa diperbuat, tidak ada yang istimewa dari saya. Hanya perasaan syukur karena Tuhan menganggap saya layak untuk melayani Dia.  Karena itu, saya merenungkan kembali perjalanan panggilan imamat ini: bagai berjalan di titian kayu, mesti ada penopang, pendukung, dan pendoa. Kalau berjalan sendiri, bakal tergelincir. Penopang itu adalah Tuhan dan umat Tuhan.

Di penghujung acara ramah-tamah, seusai Perayaan Ekaristi, Perwakilan umat yang juga pengurus inti DPP Katedral Padang, Tjandra Gunawan mengatakan banyak kenangan suka-duka, baik-tidak baik yang dialami Pastor Matheus selama dua puluh lima tahun sebagai seorang imam. “Tentu, kita berharap bisa menjalin kerja sama dengan Pastor Matheus dalam segala kegiatan, serta ikut mendoakannya agar tetap setia dengan imamatnya, sabar dan bersemangat melayani umatNya,” ujarnya lagi.

Perayaan HUT Perak Tahbisan Imamat Pastor Matheus diikuti anggota DPP, pengurus rayon dan kelompok kategorial separoki, prodiakon, misdinar, OMK, utusan DPP St. Fransiskus Assisi Padang dan DPP St. Maria Bunda Yesus Padang. Juga hadir Pelaksana Kegiatan Yayasan (PKY) dan para kepala sekolah se-Yayasan Prayoga Padang, serta undangan lainnya.

Di media sosial (medsos) Komsos Keuskupan Padang – yang ditautkan dengan medsos salah satu anggota keluarga Pastor Mateus – mengalir ucapan doa dan harapan berbagai pihak. Teondorus Samonganrimau menulis, “Selamat Pesta Perak 25 Tahun atas Pentahbisan Imamat P. Matheus Tatebburuk (8 Februari 1998 – 8 Februari 2023). Semoga terus kuat dan doa kami menyertai pastor. Salam dan doa kami dari keluarga besar Puro-Siberut.”

Ujaran senada ditulis salah seorang kerabat P. Matheus yang berdomisili di Siberut Selatan, Veronika Lina. Selain mengucapkan selamat berulang tahun imamat pastor, ia menulis, “Meskipun kami jauh, tetapi doa terbaik selalu untuk Pastor kami!” Sementara itu, mantan guru SMP Yos Sudarso 2 Siberut, Matias Hariyadi menulis komentar, “Selamat atas kesetiaan dua puluh lima tahun berkarya di lading Tuhan. Semoga tetap selalu sehat dan terus bersemangat serta setia dalam pelayanan.” Suka cita juga disampaikan salah satu umat paroki yang pernah dilayani P. Matheus, Paroki St. Fransiskus Xaverius Dumai. Antonius Suharsono menulis, “Selamat pesta perak tahbisan imamat. Kami ikut bersuka cita. Bahagia sejahtera dan tetap setia dalam panggilan dan pelayanan. Semakin terberkati!” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *