RIWAYAT PANGGILAN MARUDUT XAVERIUS NAINGGOLAN

PANGGILAN ADALAH ANUGERAH, TERIMALAH

Motivasi awal saya mengecam pendidikan di SMA Seminari Menengah adalah ingin hidup berasrama. Mendengar berita kelulusan testing masuk seminari, semakin memantapkan pilihanku untuk bersekolah di sana, istimewanya di sana tersedia fasilitas apapun untuk mengembangkan diri dan sambil mengenali jati diri. Pilihan masuk seminari supaya hidup berasrama tentu kedengaran agak aneh, sebab umumnya orang-orang muda seusia saya kala itu merasa “alergi” jika membahas sekolah yang berasrama, tak bebas. Awal kecintaanku ingin hidup berasrama ialah pengalaman saat mengikuti retret kala SMP yang membawaku untuk berkenalan dengan gaya hidup biarawan/ti yang hidup damai, disiplin dan tentu bergembira memilih hidup demikian. Menjadi imam merupakan cita-cita yang masih samar-samar kala itu.

Keputusanku melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah medapat dukungan dari banyak pihak, pertama-tama keluarga. Banyak orang mengira bahwa sejak semula aku berniat sungguh-sungguh menjadi imam saat aku memilih sma di Seminari Menengah. Tahun pertama (Probatorium) dan kedua (Grammatica) menjadi seminaris kulalui dengan mengalami banyak perkembangan. Aku tidak merasakan kesulitan untuk berdinamika dalam tata tertib dan norma-norma yang berlaku serentak tetap menghargai usaha dalam jatuh-bangun atas tantangan dan godaan. Lagi, para pastor pendamping mendukung dan meneladankan hidup seorang imam sejati. Betapa tidak, tahun ketiga (Syntaxis) dan keempat (Poesis) aku semakin memantapkan pilihanku untuk menjadi seorang imam diosesan, tepatnya imam diosesan di Keuskupan Padang. Sambil tetap memohon anugerah dari tuhan, di titik ini, motivasiku masuk seminari berubah.

Aku ingin menjadi seorang imam karena ingin membaktikan diriku bagi gereja yaitu umat Allah seturut kehendak Yesus Kristus, sang imam agung. Pilihan dan jawaban atas panggilan tuhan ini diinspirasi dan diteguhkan dari ayat kitab suci surat rasul paulus kepada umat di Roma 8:28a “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”. Aku menyadari bahwa perjalanan panggilan ku hingga di tahap ini bukan karena kekuatan dan pilihanku melainkan karena kekuatan dan ksih karunia Tuhan yang memilihku. Kesulitan, tantangan dan cobaan yang kuhadapi menjadi berarti bagiku sebab di sana kutemukan Yesus yang murah hati yang senantiasa memperhitungkanku sebab aku hanya seorang hamba yang berdosa yang diberi anugerah yaitu panggilan menjadi murid-Nya.

Kini bagiku, yang perlu dan utama ialah sikap hati yang selalu bersedia mencari kehendak Allah yang mengutus. Menjadi imam berarti siap melaksanakan kehendak allah tanpa mengedepankan kehendak sendiri. Selain itu, kekuatan manusiawi dan kebijaksanaan manusiawi dapat berarti dan bermakna hanya melalui relasi yang khusus dengan Roh Kudus.

Disposisi batin mempertimbangkan apa yang berkenan kepada Allah, dan dalam segalanya dibimbing oleh kehendak Dia, yang menghendaki keselamatan setiap orang, ialah daya yang menggerakkan saya untuk semakin terarah kepada cita-cita kerajaan Allah. Kehendak itu patut kuperjuangkan dalam situasi sehari-hari dengan melayani dalam kerendahan hati yang telah dipercayakan oleh Allah. Dalam rangka persekutuan hirarkis, melalui ketaatan saya membaktikan diri dalam pengabdian kepada Allah dan sesama, sambil menerima dan menjalankan dalam semangat iman, apa yang diperintahkan atau dianjurkan oleh Uskup saya sendiri. Panggilan adalah anugerah dan menjadi imam adalah pilihan tuhan yang senantiasa harus disyukuri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *