Sebagaimana kebiasaan yang dilakukan tahun-tahun silam, umat menjalani masa Prapaskah seturut arahan dan anjuran yang disampaikan pastor paroki. Selain mengikuti Misa Kudus, juga terlibat dalam pendalaman iman yang dikoordinir seksi katekese dewan pastoral paroki (DPP). Warga rayon siap menjalani dan melaksanakan sejumlah aktivitas yang dirancangkan selama masa Prapaskah. Selama 40 hari tersebut, umat terarah pada sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Rabu Abu, pembuka masa Prapaskah, diarahkan pada pemeriksaan batin dalam masa pertobatan. Masa Prapaskah diisi juga dengan laku pantang dan puasa. Rabu Abu ditandai penerimaan abu – berasal dari daun palma dari Minggu Palma setahun sebelumnya – dan diberkati. Sebagai tanda pertobatan, pada dahi umat ditandai olesan abu. Kebiasaan umat melakukan pantang dan berpuasa, yakni satu kali makan kenyang pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Juga ada pantang daging, rokok, garam, gula, dan hiburan. Pantang dilakukan umat berusia 14 tahun ke atas. Dari pantang dan puasa, umat menyisihkan ‘kelebihan belanja’ untuk Aksi Puasa Pembagunan (APP).

Di masa kini, tidaklah mudah menjalankan pantang dan puasa di kalangan umat terlebih pengaruh negatif atas pemanfaatan aplikasi media sosial yang tidak terkendali. Misalnya, tumbuhnya sikap tidak peduli menjadi tantangan tersendiri. Terlihat kekurangaktifan umat di gereja maupun rayon menjadi satu pertanda dampaknya. Maka, yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran umat lewat imbauan tiada berhenti: kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri dan butuh orang lain. Upaya ini untuk menyingkirkan mentalitas ‘maunya dilayani’ terus dan menumbuhkan kesadaran ‘mau melayani’ orang lain/sesama. Berlakulah hukum emas Alkitab, “Perlakukanlah orang lain seperti kalian ingin diperlakukan oleh mereka”​(bdk. Luk 6:31). 

Bowonama Bawamenewi
Ketua Rayon St. Elisabet
Paroki St. Maria Bunda Yesus Padang/olahan wawancara/ben.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *