“Jangan baperan dong! Bersikap biasa sajalah!” Mungkin, kalimat semacam itu terlontar dalam percakapan sehari-hari. Baperan berasal dari istilah gaul ‘baper’ yang merupakan singkatan dari ‘bawa perasaan’. Istilah ini tidak selalu soal perasaan cinta maupun asmara, tetapi juga digunakan pada seseorang yang memiliki sifat sensitif dan kerap menggunakan emosinya untuk menanggapi peristiwa apa pun serta objek lainnya.

Maka, maksud dari kalimat “Jangan baperan …” agar seseorang tidak selalu memasukkan segala sesuatu ke dalam hati dan perasaannya, menyimpan atau memendam perasaan. Hal ini berkaitan dengan pribadi seseorang yang sensitif. Mengapa seseorang bersifat dan bersikap baperan? Ada banyak hal, bisa jadi karena memang kepribadian individu yang bersangkutan – memang sensitif atau peka. Kalau ada candaan atau gurauan, individu bersangkutan lebih banyak berpikir yang bukan-bukan; bahkan mudah/gampang tersinggung. Atau, bisa jadi, individu tersebut merasa ada yang salah/keliru dalam dirinya, tatkala tidak dilibatkan dalam hal tertentu. Kenapa bisa terjadi demikian?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebenarnya terdapat banyak macam/ragamnya, namun saya menyoroti lebih terbatas: bisa jadi disebabkan karena pola asuh seseorang sedari kecil; contohnya sering diabaikan, disalahkan, bahkan sering ditinggalkan. Tentu saja, hal semacam itu bisa menyebabkan individu tersebut larut terbawa dalam alam perasaannya. Bersifat dan bersikap baperan hanya di kalangan perempuan atau kaum hawa? Tidak juga. Sebenarnya, baperan juga adalah hal yang lumrah/wajar. Lelaki dan perempuan mempunyai ‘kesempatan yang sama’ baperan terhadap suatu masalah. Hanya saja, yang agak berbeda, respon atau tanggapan yang berbeda-beda.

Saat baperan, kaum hawa/perempuan mengambil sikap ngambek, berdiam diri, melontarkan penolakan, bahkan menangis. Lebih terlihat. Sementara itu, di kalangan lelaki, saat baperan lebih banyak pada pemikiran lebih panjang. Refleksi diri saat sendirian; misalnya bertanya dalam hati: mengapa saya tidak diajak oleh kawan-kawan pada acara itu? Mengapa saya tidak bisa menerima candaan/gurauan seperti orang lain? Singkat kata, lelaki pun bisa baperan. Baperan tidak mengenal batas jenis kelamin. Kepribadian dan penerimaan setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya.

Penting juga disadari, bahwa kita tidak bisa menghakimi (judge) seseorang, seakan kalau masih baperan belum dewasa atau matang kepribadiannya. Sebenarnya, terhadap mereka yang ‘sedang baperan’, kita pun mestinya bisa memaklumi sebab setiap individu adalah khas/unik, berbeda satu dengan yang lainnya. Mungkin, karena dari latar keluarga yang berbeda, punya perasaan yang berbeda, dan akhirnya tumbuh menjadi seorang individu yang berbeda pula. Menurut saya, pada satu sisi, baperan juga diperlukan! Untuk apa? Yang pasti, bisa jadi kesempatan refleksi diri, evaluasi diri lewat bertanya dalam hati.

Hanya saja, tidaklah tepat bila terus-menerus baperan, bahkan disimpan dan dipendam lama. Tidak diungkapkan, sehingga makan hati dan sakit hati sendiri. Parahnya lagi, bila menjadi dendam kesumat yang menggerogoti ketenangan hidup. Dalam kondisi seperti ini, seseorang jadi overthinking. (Pernah dibahas pada rubrik ini, edisi Juli 2021-Red.)

Agar tidak baperan melulu, berikut tips sederhana yang kiranya berguna. Pertama, fokus pada tujuan atau sesuatu yang dilakukan/dikerjakan. Kalau ada omongan kiri-kanan tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Kedua, berpikir logis. Kita bisa memikirkan: apakah orang lain bisa menerima atau menolak suatu hal yang dirancangkan? Kalau tidak bisa, mengapa? Sebab itu, kita berupaya berpikir secara logis. Ketiga, sebagaimana tadi saya sampaikan: baper juga diperlukan. Tatkala orang lain berpandangan, berucap sesuatu yang tidak sesuai/sejalan dengan kehendak/kemauan kita, maka kita bisa bersikap asertif. Maksudnya adalah kemampuan untuk menyampaikan sesuatu yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain; namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain tanpa bermaksud menyerang orang lain tersebut. Ketika tidak suka, tidak dilibatkan, bahkan ditinggalkan; bisa dikomunikasikan. Jangan diam saja! Dengan bersikap jujur dan asertif, kita tidak baperan lagi, karena semuanya sudah diungkap atau terungkapkan. Tidak ada lagi yang mengganjal dalam diri ini.

Bila dikaji lagi, sebenarnya baperan merupakan hal lumrah, karena setiap manusia punya perasaan. Hanya saja, kadar ‘terbawa perasaan’ berbeda pada setiap orang. Ada yang berlarut-larut dan lama hilang bekasnya, namun ada pula baperan sementara waktu. Hal tersebut bergantung pada kepribadian setiap individu. Ada orang yang sangat sensitif, namun ada pula individu yang mudah teralihkan, apalagi baperan untuk hal-hal tidak penting. Kalau pun baperan sekarang, namun segera teralihkan dengan kegiatan atau hal lainnya, serta tidak mengingat-ingat lagi; bahkan melupakannya. Selain tidak memandang perbedaan jenis kelamin, baperan dapat ‘melanda’ siapa pun tanpa memandang perbedaan usia. Manusia tua maupun muda bisa mengalaminya. Semuanya terpulang pada kepribadian masing-masing. Jadi tidak bisa dibandingkan/dikomparasikan dengan faktor kematangan usia seseorang. Baperan terus bakal menggerogoti ketenangan hidup seseorang. (***)

Diasuh oleh: Theresia Indriani Santoso, S.Psi., M.Si
(Psikolog, Pendiri SMART PSY Consulting Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *