Dari Podcast Ngobrol Bareng

“Tahun Orientasi Rohani (TOR) Santo Markus Pematangsiantar, Sumatera Utara, adalah tempat pembinaan dan pendidikan bagi para calon imam projo/diosesan se-Sumatera. Terdapat enam wilayah gerejawi di Sumatera; yakni Keuskupan Tanjungkarang, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Padang, Keuskupan Sibolga, dan Keuskupan Agung Medan,” ucap Staf Pembina TOR dari Keuskupan Padang, RD. Frelly Pasaribu, Kamis (9/3) pagi.

RD. Frelly menambahkan, “Peserta TOR dibina dan dididik selama sekitar satu tahun. Selanjutnya, mereka akan melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar. Sesuai dengan namanya, TOR, maka peserta akan lebih banyak berfokus pada orientasi rohani.”

Hal tersebut disampaikan RD. Frelly di awal podcast “Ngobrol Bareng” (Ngobar) Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Padang. Pada kesempatan yang sama, Ngobar, hadir dua narasumber lain: RD. Fransiskus Arisyanto (Staf Pembina TOR dari Keuskupan Tanjungkarang) dan RD. Wirman Matondang (Rektor TOR dari Keuskupan Agung Medan). Podcast berlangsung di Studio Audiovisual Komisi Komsos.

RD. Aris menambahkan, “Selain lebih fokus pada pengolahan aspek rohani – agar peserta siap melangkah ke jenjang berikutnya – ada hal lain yang diolah peserta TOR; misalnya kepribadian, hidup berkomunitas dan berpastoral, serta ada bagian untuk memperdalam ilmu pengetahuan -lewat sejumlah kursus di kelas. Hari-hari peserta TOR diisi dengan belajar/studi.

Hampir senada diungkap RD. Wirman, “TOR berlangsung satu tahun. Kami menerima para frater – jenjang sebelumnya – yang telah siap menjalani masa TOR. Bapa Uskup setiap keuskupan mengutus sejumlah orang dari keuskupannya untuk dibina dalam TOR ini. Tentu saja, karena fokusnya adalah hal-hal rohani selama satu tahun, namun tidak mengenyampingkan nilai-nilai pembinaan lainnya. Selaku pembina, tentu saja kami menaruh perhatian pada mereka agar unggul dalam hal rohani, karena sebagai dasar dari pembinaan calon imam. Hal-hal rohani harus menjadi pusat perhatian, karena kelak sebagai imam akan menangani dan berkarya pada hal-hal rohani umat. Peserta TOR diharapkan mantap dalam hal ini.”

Ditambahkan RD. Wirman, “TOR diikuti oleh orang-orang yang telah menyelesaikan tingkat seminari menengah dan mereka selanjutnya melamar ke keuskupan masing-masing. Informasi didapat, di Keuskupan Padang ‘telah dibuka kembali’ Seminari Menengah Maria Nirmala pada 2 Agustus 2022. Di TOR Santo Markus Pematangsiantar, pembinaan rohani para frater se-Sumatera berlangsung di sini. TOR inilah tingkat dasar untuk pembinaan calon imam diosesan selanjutnya. Bila mereka dinilai layak, mereka melanjutkan jenjang pendidikan di Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar.”

Sementara itu, pada kesempatan podcast ini, RD. Frelly – pernah pelayanan di Paroki St. Barbara Sawahlunto dan Paroki St. Maria Assumpta Sikakap – menginformasikan para frater yang berada di TOR Pematangsiantar. “Terdapat 45 frater dari enam keuskupan se-Sumatera. Hanya saja, saat kini, hanya terdapat satu orang frater asal Keuskupan Padang menjalani masa TOR. Frater Wilbertus Hia berasal dari Mentawai dan pernah menjadi bagian dari Komisi Komsos Keuskupan Padang,” kata RD. Frelly.

Tiga imam diosesan yang ‘bertandang’ ke Komisi Komsos Keuskupan Padang menggunakan kesempatan masa ‘live-in’ para frater TOR selama beberapa hari ke Paroki St. Petrus Tuapeijat (Sipora Utara) dan Paroki St. Yosep Sioban (Sipora Selatan). Paroki Sioban pernah dilayani RD. Frelly beberapa tahun. “Kunjungan kami bertiga ke Mentawai sekaligus untuk ‘orientasi kebudayaan’, apalagi ada di antara para frater TOR maupun seminari tinggi berasal dari Mentawai. Kami pun mesti bisa memahami karakter dan budaya mereka lebih mendalam. Tentu saja, kesempatan berkunjung ini juga dalam rangka promosi panggilan. Kami menyempatkan diri datang ke asrama putera Tuapeijat. Terdapat sembilan orang yang secara khusus kami temui. Selain memperkenalkan diri, kami juga memperkenalkan ikhwal TOR dan seminari. Tentu saja, ada sebuah ajakan untuk bergabung, sembari berdoa agar ada panggilan dalam diri dan sanubari mereka masing-masing,” ucapnya.

RD. Aris mengungkapkan perasaannya sepulang perjalanan kunjungan ke Mentawai, “Luar biasa, mengagumkan, dan juga ada perasaan heran. Kepribadian seseorang tidak luput dari pengaruh sistim budaya serta kondisi alam setempat. Kami pun punya pemahaman lebih mendalam mengenai para frater yang berasal dari sini. Kami belajar memahami situasi budaya dan alam Mentawai.”

Ungkapan hampir senada disampaikan RD. Wirman, “Kami melihat perjuangan anak dan remaja Mentawai serta membandingkannya dengan tempat lain. Sejauh pengalaman saya mengunjungi beberapa tempat, pastilah di sini, mereka lebih berjuang tatkala berada di Pematangsiantar. Proses pembinaan bagi mereka akan mempengaruhi cara kita untuk mendekati mereka. Diharapkan, pendampingan selanjutnya akan lebih baik lagi. Situasi Mentawai sangat mengagumkan bagi kami sekaligus memacu upaya dan langkah untuk menumbuhkan panggilan sebagai calon imam dari tempat ini. Di Sipora, jumlah umat Katolik tidak sampai 30 persen masyarakat setempat.”

Didapat informasi, di Keuskupan Padang, terdapat tiga imam diosesan berasal dari Kepulauan Mentawai; yakni  RD. Matheus Tatebburuk (dari Paroki Siberut), RD. Emilius Sakoikoi dan RD. Andreas Salamanang (dari Paroki St. Maria Assumpta Sikakap). Kelak menyusul imam-imam diosesan putera asli daerah Mentawai.

Pada akhir podcast, RD. Frelly menyampaikan ‘pernyataan bagi penutup’ (closing statement), “Saya berharap iman dan panggilan menjadi imam pertama-tama bermula dari tengah keluarga. Keluarga, terutama punya anak laki-laki, mesti punya komitmen mendukung bila tertarik dan kemudian menjadi seorang imam kelak; misalnya lewat kebiasaan makan bersama, doa bersama, dan sebagainya. Tujuannya agar benih-benih panggilan imam tumbuh sedari dini dalam keluarga.”

Sementara itu, dalam closing statement-nya, RD. Aris menyoroti dukungan lingkungan sekitar keluarga. “Selain dukungan keluarga muncul, tumbuh, dan berkembangnya panggilan hidup sebagai calon imam; juga dukungan dari umat Allah. Saya sendiri lahir dari suara-suara dari tetangga atau umat sekitar, yang selalu mengingatkan untuk (masuk) ke seminari. Selain keluarga sebagai titik fokus panggilan imamat, umat Allah turut terlibat. Janganlah saling mengabaikan! Mari kita bersama-sama berjuang untuk menumbuhkan panggilan,” ungkapnya.

Pada bagian paling akhir podcast ini, Rektor TOR, RD. Wirman mengatakan, “Pastoral keluarga merupakan fokus keuskupan, maka kita boleh berharap keluarga-keluarga mendukung muncul dan tumbuh berkembangnya benih-benih panggilan dalam diri anak dan remaja. Maka, jangan takut kalau ada di antara anak kita yang memiliki impian menjadi seorang pastor/gembala umat! Mari berikan dukungan dan perkenalkan pada anak-anak kita! Kalau kita tidak perkenalkan tentang iman dan panggilan imam kepada anak-anak, maka tidak heran kalau mereka pun tidak mengetahui ikhwal tentang imam/gembala umat. Satu keprihatinan kita yakni minimnya calon imam dari Keuskupan Padang, meski seminari menengah, TOR, dan seminari tinggi di Pematangsiantar telah cukup lama ada. Sungguh berbeda dengan calon dari keuskupan lain yang melamar sebagai calon imam.” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *