Bagi keluarga saya, momen Paskah merupakan momen spesial. Mungkin, bagi orang lain ada menganggapnya sebagai momen rutin tahunan. Sama halnya dengan Natal, Paskah pun merupakan kesempatan yang selalu kami usahakan untuk berkumpul bersama orangtua di kampung. Ini juga waktu liburan yang ditunggu-tunggu oleh anak. Saya, suami, dan anak-anak bertemu dengan mertua, nenek tercinta yang tinggal sendirian di Doloksanggul, Tanah Batak.

Jika kami tidak sempat ke rumah ibu mertua saat Natal, maka diusahakan saat Paskah untuk mengunjungi orangtua agar bisa merayakannya bersama-sama. Saya dan satu saudara kandung sudah tidak memiliki orangtua, maka ibu mertua menjadi tempat kami melepas kerinduan dan kebahagiaan. Hubungan saya, sebagai menantu, dengan mertua memang sangat dekat. Natal dan Paskah menjadi kesempatan kami berkumpul kembali di kampung halaman suami, Doloksanggul, Sumatera Utara. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Harus saya akui, berdasarkan pengalaman selama ini, suasana perayaan Natal dan Paskah di kampung sungguh terasa kental, apalagi mayoritas masyarakat setempat juga umat Kristiani. Kehidupan bertetangga juga rukun dan harmonis. Gereja Katolik Santa Lusia Doloksanggul hanya berjarak satu kilo meter dari rumah ibu mertua. Maka, tidak ada alasan tidak ke gereja. Tidak mengherankan, selama Pekan Suci, kami isi penuh (full). Dua kali Pekan Suci silam, kami jalani bersama di kampung halaman suami. Pada Paskah 2023, kami rayakan di Pekanbaru. Memang berbeda suasana Doloksanggul dengan Pekanbaru. Namun, bagi saya, suasana kebatinan saat menjalani masa Prapaskah dan makna Pekan Suci tidak ada bedanya.

Masa Prapaskah, terkhusus Pekan Suci, memberikan makna terdalam bagi kita. Kita berkesempatan untuk merenungi diri kita masing-masing; yakni merenungkan pengorbanan Yesus di kayu salib untuk kita, manusia yang bergelimang dosa. Saya pribadi dan kita diajak untuk melihat hal-hal baik yang telah diusahakan/diupayakan dalam hidup ini, pengorbanan apa saja yang telah dilakukan untuk Tuhan Yesus – yang telah menebus dosa dan menyelamatkan kita? Juga, upaya kita untuk mengurangi dan menjauhkan diri dari bujuk rayu, godaan dosa. Dengan demikian, kita benar-benar pantas merayakan kemenangan Kristus dari penderitaan, kematian, dan akhirnya kebangkitanNya ke Sorga. Sungguh luar biasa pengorbanan Tuhan Yesus Kristus untuk kita, manusia yang penuh kedosaan.

Pada usia 39 tahun ini, saya melihat ke masa lalu, termasuk lewat film-film kisah sengsara Yesus ataupun membaca referensi yang kompeten: peristiwa Paskah mesti membuat kita bertobat memperbaiki diri. Sebab itu, kita sebagai manusia mesti menyadari bahwa hidup ini adalah Kesempatan. Tidak ada yang tahu ‘kisah akhirnya’. Maka, selagi ada waktu, marilah kita renungi dan perbaiki diri ini lewat berbagai bentuk pengorbanan terbaik yang bisa dilakukan. Langkah awal ‘perbaikan diri’ adalah penerimaan Sakramen Tobat.  Paskah merupakan wujud cinta kasih Kristus kepada manusia, serta bentuk cinta terbesarNya melalui pengorbanan diri di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kita, tanpa pengecualian dan apa pun latar belakang, diselamatkan dari dosa.

Peristiwa Paskah Yesus juga menjadi ‘peristiwa paskah’ bagi kita (manusia): momen sakral manusia diselamatkan dari dosa, kemenangan dan harapan umat Kristiani. Hal ini menjadi kesadaran bersama di kalangan umat Kristiani melalui edukasi tentang hal-ikhwal Paskah. Bermula dari dalam keluarga dan dilanjutkan di gereja. Tentu saja, untuk hal ini, dituntut peran serta orangtua. Keluarga adalah ‘gereja kecil’ (ecclesia domestica). Saya dan suami ‘mengedukasi’ anak-anak agar lebih mengenal dan memahami makna Paskah. Juga ada kesempatan nonton bareng (nobar) film rohani. Kami berupaya lengkap berkumpul di rumah, selalu ada doa malam bersama. Lain waktu, saya bergantian dengan suami mengajak anak mengikuti pendalaman prapaskah di lingkungan.

Setiap Paskah, selalu disiapkan empat amplop untuk kami masing-masing yang akan dikumpulkan saat Jumat Agung sebagai Aksi Puasa Pembangunan (APP).  Anak-anak juga belajar untuk rela menyisihkan uang jajannya untuk berbagi pada sesama.  Selain semangat kebangkitan (Kristus), Paskah juga memiliki semangat membebaskan dari dosa dan maut.  Dengan demikian, perayaan Paskah menjadi sungguh bermakna dan tidak sebatas perayaan fisik yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Masa Prapaskah kita lalui dan jalani dengan segala keyakinan dan niat tulus agar kita bisa ikut merayakannya dengan sukacita luar biasa. Seremoni yang kita jalani hanya sebagai pelengkap, intinya terdapat dalam makna yang kita rasakan. Semoga sesama umat beriman Katolik lain juga dapat memaknai Paskah. 

Mewi Rosary Hutauruk
Ketua Wanita Katolik RI Ranting Santa Maria a Fatima Pekanbaru periode 2021 – 2024.
Pegiat. Warga Lingkungan St. Matias Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru/Konselor Laktasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *