Sebenarnya, setamat SMA, kalau ada rezeki, saya berniat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Padang. Kuliah. Hanya saja, kalau tidak ada peluang untuk itu, saya terpaksa ‘nganggur’ terlebih dulu dan bekerja. Tetapi, lowongan pekerjaan di sini, Siberut Selatan, sangat terbatas bahkan boleh dibilang nyaris tidak ada.

Setahun silam, saat masih kelas XI, saya telah membicarakan rencana kuliah ini kepada orangtua di kampung. Namun, orangtua mengaku tidak sanggup mendanainya. Ayah mengatakan, “Cukup SMA saja!” Pada satu sisi, saya merasa kecil hati menerima jawaban tersebut, namun di sisi lain, saya dapat memahami tanggapan ayah. Kini, pada usia 60 tahun, ayah tidak bisa lagi mencari nafkah untuk membiayai kelanjutan sekolah saya dan adik. Boleh dikatakan, saat ini, ayah saya bernama Tubbu Salakkirat tidak lagi mempunyai penghasilan.

Ayah saya seorang sikerei, sebuah istilah yang dikenal di Kepulauan Mentawai yang merujuk pada seseorang yang mengobati seseorang. Sikerei tidak menerima gaji. Atas aktivitasnya berupa ‘jasa’ membantu pengobatan, seorang sikerei ‘dihadiahi’ barang sebagai bentuk ucapan terima kasih, misalnya ayam, kelapa, sagu, dan lain-lain. Singkat kata, situasi keluarga kami hidup sederhana. Ada kalanya ayah berjalan kaki, dari Ugai, mengantar makanan (sagu, pisang, keladi) untuk saya di sini (Muntei). Suatu saat, ada sedikit titipan uang, namun di lain waktu tidak ada sama sekali.

Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Anak pertama, perempuan, tamatan SMA beberapa tahun silam dan sempat mengajukan lamaran menjadi seorang suster. Adik saya, anak ketiga, perempuan, masih menempuh pendidikan di kelas IX SMP Negeri 2 Siberut Selatan, Madobag. Sekitar 20 menit berjalan kaki dari Ugai-Wilayah Sarereiket, Siberut Selatan. Ibu kandung telah meninggal dunia. Semasa SMA, saya memilih jurusan Ilmu-Ilmu Sosial (IIS). Dalam impian, saya bisa berkuliah di fakultas ekonomi. Namun, sepertinya saya hanya bisa bermimpi dan mengubur dalam-dalam keinginan tersebut, apalagi tidak mendapat peluang beasiswa untuk berkuliah lewat Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *