PADANG – Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin melantik 110 orang Dewan Pengurus Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Padang masa bakti 2023-2026 di gereja paroki, Minggu (26/2).  Dewan Pengurus Gereja yang dilantik terdiri dari para pengurus Dewan Pastoral Paroki Pleno (DPH, Seksi, Ketua Stasi, Ketua Rayon), Dewan Keuangan Paroki (DKP), dan Fasilitator Paroki (FP). Pelantikan berlangsung dalam  Perayaan Ekaristi dipersembahkan Bapa Uskup – selebran utama – bersama Parokus (P. Petrus Hardiyanto, SX) dan dua pastor rekan.

Dalam homilinya, Bapa Uskup mengungkap penugasan berarti pelayanan yang menuntut tanggung jawab besar ketika pelayanan tersebut diterima. Selain itu, Uskup Vitus juga mengingatkan para pengurus yang dilantik bahwa keteladanan sangat mahal nilainya sebagaimana kisah tentang ciptaan pertama dan dosa asal (bdk. Kej. 2:7-9;3:1-7). Sembari mengucapkan selamat bekerja kepada para pengurus, Bapa Uskup mengingatkan lagi, “Menjadi pengurus bakal menghadapi banyak godaan. Sebab itu, sebagai tim dan kelompok bersama, kita hendaknya saling mengoreksi dan meneguhkan satu sama lain.”

Usai Misa Kudus berlangsung acara ramah-tamah bersama di lantai dua Aula Paroki. Agar suasana ‘mencair’, anggota Seksi Karya Kepausan Indonesia (KKI) Paroki membawakan kegiatan gerak dan lagu. Dalam ramah-tamah ini, berlangsung penandatanganan Berita Acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dari Dewan Pastoral Paroki/DPP masa bakti 2020-2023, diwakili dr. Ananto Pratikno, Sp.OG,MARS, kepada DPP masa bakti 2023-2026, diwakili Yudi Agus Saptoyo. Masih dalam ramah-tamah tersebut, juga berlangsung penyerahan tanda kasih – berupa piagam penghargaan – kepada para pengurus lama oleh Parokus.

Senada dengan homili Bapa Uskup, dalam sambutannya, Yudi Agus Saptoyo mengakui banyak godaan dan cobaan yang bakal dialami para pengurus; misalnya godaan kekuasaan. Meski demikian, Yudi yang telah lima kali sebagai pengurus DPP berharap perjalanan kepengurusan 2023-2026 semakin maju dan berkembang, terutama banyak dari kalangan muda dan wajah baru mengisi kepengurusan ini. Yudi mengatakan kepengurusan punya tugas panggilan mewujudkan visi Keuskupan Padang, yaitu mewartakan Kabar Gembira dan membina kehidupan umat beriman berdasarkan Sabda Allah. “Selain itu, kepengurusan juga mewujudkan misi Keuskupan Padang yakni menampilkan ‘wajah’ Allah Bapa yang berbelas kasih. Visi dan misi bersama ini menjadi perjuangan bersama. Mari kita saling bergandengan tangan,” kata Yudi.

Pada momen ramah-tamah ini, selaku perwakilan kepengurusan lama (2020-2023), dr. Ananto Pratikno, Sp.OG., MARS. Menyampaikan penghargaan/apresiasi dan terima kasih kepada sesama rekan pengurus DPP yang telah berkarya dengan segala kemampuannya sehingga paroki ini menjadi lebih baik. Kepada pengurusan baru, Ananto mengimbau program-program yang telah dibuat bukan sekedar wacana. “Kita kerjakan bersama agar ‘perjalanan’ dalam melayani Tuhan lewat sesama bisa semakin sempurna. Kalau kita bergerak bersama, paroki ini akan hidup dan ramai setiap hari. Semoga buah-buah panggilan dan karya Yesus bisa semakin terlayani dengan baik untuk umat  maupun umat di sekitar kita. Percayalah kita tidak sendirian namun berkarya dalam tim. Kita percayai  Tuhan Yesus beserta kita,” ucap Ananto.

Sementara itu, pada kesempatan sama, Parokus P. Petrus mengungkap proses penyusunan kepengurusan yang baru dilantik ini. “Dua dokumen menjadi perhatian saya: memorandum yang dibuat parokus terdahulu (P. Robledo) dan buku hasil sinode. Salah satunya mengenai pastorsentris sebagai salah satu keprihatinan Gereja. Hal inilah yang mendorong saya semakin melibatkan awam (umat). Tidak mengherankan, kali ini, mencapai 110 orang. Biasanya hanya sedikit yang dilantik,” ungkapnya.

Saat menyampaikan sambutan dalam ramah-tamah ini, Uskup Vitus merasa bangga saat nama para pengurus disebutkan dan mengatakan “saya hadir” dan berdiri. “Tentu saja, hal ini bukan karena para pengurus ingin diperciki air suci, namun memang karena pelayan harus berdiri, bukan duduk. Pelayan harus berdiri agar siap sedia saat bekerja. Saya berpesan agar dalam menjalankan tugas, para pengurus menggunakan kemampuannya. Contohnya kisah orang buta yang berseru saat mendengar kabar Yesus lewat. Orang buta tidak bisa melihat namun bisa mendengar, berseru, dan berdiri. Ia berdiri dan mengikuti Yesus. Itulah contoh keteladanan. Yesus mengajak kita menggunakan kemampuan yang dimiliki,” ungkap Bapa Uskup. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *