Dalam Pekan Suci, jelang Paskah, secara umum, saya dan keluarga disibukkan berbagai latihan persiapan. Anak terlibat latihan tari dan hiburan. Istri berlatih sebagai tim pemandu lagu. Saya sendiri biasanya terlibat dalam latihan dramatisasi jalan salib. Telah empat kali saya ‘disalibkan’, passio, dan berbagai gotong royong.

Selain aktivitas persiapan fisik juga persiapan olah batin, diantaranya menjalankan puasa dan pantang dalam masa Prapaskah.  Aneka persiapan fisik sebagai wujud dari iman atau pembatinan dari peristiwaNya sendiri. Perbuatan atau karya karena iman. Bukan iman karena perbuatan. Iman yang mendorong untuk berbuat. Bukan perbuatan yang mendorong untuk beriman. Secara khusus saya lakukan permenungan atas keagungan dan kemuliaan Dia, Sang Kurban dan Kurban untuk pemulihan ciptaanNya dan saya ada di dalamnya. Dalam proses pembatinan, saya tanamkan dalam keluarga rasa bersyukur dalam segala hal.

Secara khusus, dalam Pekan Suci, saya mengurangi aktivitas harian agar bisa lebih berkonsentrasi pada persiapan dan latihan. Di rumah, tiap pagi, isteri selalu memutarkan lagu Prapaskah serta mengupayakan lebih banyak waktu bersama keluarga. Saya dan umat Kristiani memperingati dan merayakan Pekan Suci. Peristiwa (dialami) Yesus dua ribu tahun silam terjadi sekali untuk selamanya. Maka, kita sebagai umat Katolik, umat beriman tetap merayakan peristiwa yang sama, sebagai perwujudan iman dan ungkapan syukur atas keselamatan yang terwujud oleh Yesus Kristus.

Bila menyimak Pekan Suci – dimulai dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Paskah/malam Paskah, serta Minggu Paskah – sungguh berarti bagi saya pribadi. Mengapa? Karena Pekan Suci adalah puncak karya penyelamatan Yesus yang tetap berlangsung hingga sekarang dan kelak. Peristiwa Pekan Suci mematrikan keyakinan saya atas banyak hal yang pasti, bahwa Allah Mahakuasa. Ia menguasai segalanya. Bahwa Allah Maharahim yang mencintai, mengasihi ciptaanNya. Bahwa Allah Sang Pemberi Kehidupan. Allah yang meraja memberi keselamatan dan suka cita abadi. Allah yang benar dan pasti memberi kebenaran dan kepastian.  

Dengan pemahaman tersebut, saya semakin menyadari kesalahan dan kelemahan dalam diri ini. Sebab itu, saya turut serta dan selalu berkarya mengarahkan agar kembali pada kebaikan semula. Seperti pada penciptaan yang adalah baik adanya. Dengan kata lain, ada spirit untuk selalu memperbaiki interaksi sesama manusia maupun dengan ciptaan lainnya; serta memperbaiki relasi dengan Dia – Sang Kurban dan Kurban Keselamatan bagi saya pribadi.  

Barita Sihombing, S.Fil.
Mantan Penanggungjawab Pembangunan Gereja.
Mantan Ketua Dewan Pastoral Stasi/DPS.
Kini, Prodiakon dan Penasihat Awam Stasi Kristus Raja Semesta Alam Pasir Putih Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *