Setahun terakhir, mertua perempuan dan adik ipar laki-laki tinggal bersama keluarga kami. Saya secara pribadi berupaya selalu menjaga perasaan mertua; misalnya jangan sampai ada kata-kata atau ucapan menyinggung perasaannya. Kalau ada sesuatu yang tidak disukai dengan suami maupun anak-anak, saya menyimpan dalam hati. Atau, saya bicarakan di bawah ‘empat mata’ dengan suami.

Lain waktu, saya berusaha mertua tetap akrab bersama anak dan cucunya. Pernah suatu saat saya mau membawa anak bungsu ke tempat tugas saya di Cimpungan (Siberut Tengah), tampaknya mertua tidak mau dan diam-diam menangis. Mertua tidak menjawab tatkala saya bertanya penyebabnya. Namun, saya tahu mertua tidak setuju saya membawa si bungsu karena berbagai pertimbangan. Dalam hal ini, saya tidak mau egois dan tetap berupaya peduli dengan situasi perasaan mertua.

Kalau ada rezeki, saya mau menyenangkan hati mertua dengan memberi ‘amplop’, apalagi cucu-cucunya sering minta jajan pada neneknya. Lain waktu, saya membelikan baju untuk mertua atau ajak jalan-jalan, dan sebagainya. Kiranya, hal kecil seperti itu yang bisa saya lakukan karena menganggap mertua layaknya orangtua kandung sendiri, apalagi ibu saya telah meninggal dunia. Saya mendekatkan diri dan sering mengobrol dengan mertua. Tahun ini (2023), usia pernikahan saya berumur dua belas tahun. 

Pentinar Aritonang
Guru Agama Katolik di Cimpungan, Siberut Tengah, Mentawai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *