“Sebagai katekis, saya mendapat banyak pengalaman berharga. Saat mendampingi orangtua calon baptis bayi misalnya, saya mendapat pemahaman tentang menjadi orangtua yang baik, bijaksana, dan mendidik sepenuh hati. Atau, saat mendampingi calon penerima Komuni Pertama dan Misdinar, saya belajar memahami kepribadian mereka sekaligus menjadi teman mereka,” aku Elisabet Pinayungan, S.Ag. (29).

Katekis Paroki Santa Barbara Sawahlunto sejak tahun 2018 ini juga mengakui kendala yang dihadapi. “Kurang disiplin, bahkan beberapa umat kurang terlibat/berpartisipasi dalam berbagai kegiatan menggereja,” ungkap Sabet, panggilannya. Fokus kerjanya di Stasi Santo Petrus Solok. Ia pun didapuk sebagai salah satu pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Seksi Liturgi Orang Muda Katolik (OMK). Selain sebagai katekis paroki, Sabet pun menjadi guru agama Katolik di sekolah dan pendamping Bina Iman Anak (BIA).

Alumni Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan ini (2016) terlibat aktif dalam aktivitas OMK sedari berstatus pelajar kelas 10 SMA Negeri I Pinangsori (Sumatera Utara). Ia pun tergabung dalam Ikatan Pemuda Keluarga Batak (IPKB). Selain sebagai katekis paroki, Sabet pun menjadi guru agama Katolik tingkat sekolah dasar/SD hingga sekolah menengah atas/SMA yang berstatus sekolah negeri. Para pelajar Katolik tidak mendapat pendidikan agama Katolik di persekolahan tersebut.

Sebenarnya, pada mulanya, Sabet tidak berniat menjadi seorang katekis setamat SMA. “Dulu, saya bercita-cita sebagai guru. Tetapi, orangtua melihat saya lebih cocok kuliah di bidang agama, apalagi melihat kiprah saya menjadi pendamping anak-anak Sekolah Minggu atau Bina Iman Anak(BIA) meski masih pelajar kelas VII SMP. Sebelum sebagai katekis di Solok, saya pernah mengajar di SMP Negeri 4 Pakkat, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan-Sumatera Utara selama 18 bulan,” ucapnya mengenang. (ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *