MENJADI BATU YANG HIDUP

Hari Minggu Paskah V (7 April 2023)
Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2, 4-5, 18-19;
1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12

KESEJAHTERAAN masyarakat atau komunitas (bonum communy) tidak bisa bergantung pada satu tokoh atau kelompok tertentu. Seorang pemimpin betapa pun hebatnya tidak akan mampu berbuat sendirian. Paritisipasi warga sangatlah menentukan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Untuk mewujudkan kesejahteraan bersama membutuhkan keterlibatan semua warga, tanpa terkecuali. Akan tetapi, dalam kenyataan hal demikian tidak semudah yang dikatakan. Sering didapati, pemimpin yang seharusnya menjadi teladan yang baik bagi warganya, justru berbuat curang misalnya memperkaya diri sendiri atau kelompoknya dengan korupsi. Warga masyarakat yang seharusnya ambil bagian dalam setiap kegiatan dan pembangunan, seringkali justru menjadi penonton, tukang kritik bahkan mencari-cari kesalahan pemimpin atau sesama warga. 

Dalam kehidupan sehari-hari memang tidak mudah untuk memuaskan semua orang. Seorang pemimpin memang harus siap disorot dan dikritik warganya. Sebaliknya warga masyarakatpun tidak seharusnya “asmuni” – asal bunyi dalam memberikan kritik dan saran. Kritik dan saran seharusnya bersifat konstruktif, yang membangun kebersamaan.  Bukan asal kritik sehingga membuat orang yang dikritik merasa diadili, akibatnya tidak bersemangat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sosialnya.

Para rasul pun juga memiliki keterbatasan dalam pelayanan kepada jemaat. Mereka tidak mampu memuaskan semua orang. Alhasil, ada sebagian orang yang bersungut-sungut karena tidak puas akan pelayanan para rasul. Maka para rasul yang menyadari keterbatasan mereka mengundang banyak orang dengan memilih diakon-diakon (pelayan) untuk melayani orang miskin dan janda.

Melalui seluruh kesaksian hidup-Nya, dalam setiap sabda dan perbuatan baik yang dikerjakan-Nya yang berpuncak pada misteri salib, Tuhan Yesus telah menjadikan diri-Nya sebagi “batu yang hidup”. Inilah pesan yang disampaikan Rasul Petrus dan Paulus melalui bacaan-bacaan  hari ini. Tuhan Yesus membarui dunia dan hidup para pengikut-Nya dengan harga yang amat mahal, yakni kematian-Nya di salib. Pengorbanan diri Yesus sehabis-habisnya inilah yang perlu umat beriman maknai dalam kehidupannya.

Sebab itu, kalau ingin mengikuti Dia harus menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain, bukan sebaliknya menjadi batu sandungan atau halangan yang menimbulkan pertentangan dan perpecahan dalam kehidupan bersama.

Menjadi batu yang hidup dan berguna bagin Gereja adalah perjuangan masing-masing pribadi. Untuk sampai pada tujuan itu, perlu membarui diri dari kehidupan manusia lama, membarui iman, dan membarui komitmen dalam pelayanan. Umat beriman perlu belajar dari Tuhan Yesus yang tidak menjadikan status keallahan-Nya sebagai milik yang dipelihara dan dipertahankan, tetapi dipersembahkan-Nya untuk kehidupan umat manusia.

Dalam kehidupan jemaat (Gereja) pun demikian. Tidak seorang pun boleh berdiam diri, melainkan harus bergerak dan mengambil bagian dalam setiap kegiatan; mulai dari tingkat kring/rayon, stasi/wilayah, paroki, kevikepan, keuskupan hingga di tingkat Gereja Universal. Orang beriman adalah orang yang bergerak, terlibat, dan ikut melakukan kegiatan yang dikehendaki Tuhan untuk keselamatan banyak orang. Menjadi “batu yang hidup” adalah senantiasa tergerak hati untuk ambil bagian dalam setiap karya pelayanan sekecil apa pun, bahkan tidak dipandang orang sekalipun. Marilah kita menggunakan segala milik baik itu kekayaan diri, berupa bakat, jabatan, dan aneka talenta untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kesejahteraan bersama di dalam lingkup Gereja dan masyarakat. (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *