Bagi saya pribadi, perayaan Paskah mempunyai arti tersendiri yang sangat penting. Paskah berarti Tuhan Yesus Kristus bangkit dari kematian. Kemuliaan dan keagungan Tuhan Yesus Kristus dibuktikan. Dia wafat untuk menebus dosa-dosa manusia yang lemah ini, termasuk saya. Maka, sudah selayaknyalah peristiwa sangat penting ini diperingati dan dirayakan, terkhusus selama Pekan Suci.

Masa Prapaskah dan Paskah dijalani dari waktu ke waktu, tahun silam, kini, dan mendatang. Namun, ada kalanya kita merayakan dan melaksanakannya – termasuk saat Pekan Suci – hanya sebatas ritual atau perayaan saja. Terjebak dalam rutinitas tahunan. Memang, tidak bisa dipungkiri ada di antara umat – termasuk di Stasi Maileppet Pasakiat – merayakan Pekan Suci bagai kegiatan berulang setiap tahun. Rutinitas tahunan yang terus berulang, sehingga terkadang kehilangan makna. Tetapi, saya yakin, ada juga di kalangan umat yang berupaya menyerap dan meresapkan Prapaskah dan Paskah, terkhusus saat Kamis Putih hingga Minggu Paskah. Idealnya, pada Pekan Suci seharusnya ada yang kita maknai secara mendalam.

Bagi saya sendiri, berupaya menyadari makna terdalam Prapaskah, Paskah – khususnya Pekan Suci – yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya maknai: segala sesuatu yang telah dilakukan Tuhan Yesus Kristus kepada manusia – termasuk saya – dalam perayaan Paskah. Hendaknya, segala hal yang telah dilakukan Tuhan Yesus tersebut mesti saya teladani dan lakukan. Tidak hanya bagi diri sendiri, lebih penting lagi bagi orang lain.

Saya pribadi memaknai Paskah sebagai momen atau peristiwa Yesus menunjukkan kasihNya kepada manusia yang berdosa ini. Dia selalu berbuat baik, walaupun Dia sendiri dalam keadaan tersakiti.  Maka, saya memberi arti tersendiri bahwa cinta dan kasih sayang akan mengalahkan kebencian. Pengorbanan mengalahkan keserakahan. Juga, hidup akan mengalahkan kematian. Tuhan Yesus Kristus rela menderita sengsara untuk penebusan dosa manusia. Maka, bagi saya pun, hal tersebut mestinya memampukan saya ‘berbuat’ sesuatu bagi orang lain/sesama. Singkat kata, selalulah berbuat baik meskipun diri ini tidak selalu baik-baik saja. Melalui peristiwa Paskah ini, saya lebih terdorong untuk menunjukkan kasih sayang kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana caranya? Tentulah saya harus mulai dengan mengasihi dan menjaga semua ciptaan Allah. Kalau saya menjaga ciptaan Allah, saya pun sebenarnya telah meneladani Yesus Kristus. Sebab Yesus pun berbuat demikian kepada orang lain yang ada di sekitar walau keadaan saya pun punya keterbatasan. Kita tahu Yesus pun berbuat demikian. Dia tak henti-hentinya berbuat baik, rela disalib untuk menebus dosa manusia. Saya pun bisa berbuat sesuatu yang berguna bagi orang lain/sesama tanpa mesti menjadi orang pintar, hebat, dan kaya. Saya melakukan sesuatu walau punya keterbatasan. Dalam ‘kesengsaraan’ dan kekurangan yang dimiliki, kita bisa berbuat untuk orang lain.

Tentu, hal ini telah dilakukan dan bukan rangkaian kata dan kalimat semata. Paskah adalah kebangkitan Kristus. Mestinya juga menjadi kebangkitan kita. Saya sudah membuktikannya lewat pemberian diri saya agar bisa berguna bagi banyak orang, melayani dalam Gereja. Setidaknya sepuluh tahun terakhir. Selain dalam lingkup internal Gereja, saya pun ingin jadi orang yang punya arti dalam masyarakat di desa, terutama dalam hal pemberdayaan masyarakat. Tidak bergaji. Saya emban tugas tersebut dengan senang hati. Benarlah, Paskah adalah kebangkitan Tuhan Yesus yang juga menjadi kebangkitan kita yang saya percaya, yakini, dan terapkan dalam hidup. Tidak hanya menjadi bahan percakapan yang tanpa aksi/tindakan.

Tentu, bagaimana pun juga, saya berharap sesama seiman dapat menyerap makna yang sama, sebagaimana pemaknaan Paskah secara pribadi. Saya berharap orang lain pun dapat menimba dan mengambil makna yang sama, yakni Paskah adalah Kebangkitan Kristus dan sekaligus kebangkitan kita. Sebagai informasi, upaya ini pun telah saya lakukan dengan menggandeng pastor rekan (P. Maurice, SX). Kami mempunyai pemikiran yang sama, yakni lewat upaya peningkatan taraf ekonomi umat. Saya siap memberikan penyuluhan dan pendampingan bagi umat yang berniat mengangkat kehidupan ekonominya di bidang pertanian.

Pemikiran kami berdua, pembinaan iman akan lebih efektif bila taraf kehidupan ekonomi umat di sini telah terbina dan terangkat. Setelah pembinaan aspek jasmaniah, kami mulai berikan pendampingan pada aspek rohaniah, terutama pada topik tentang pengorbanan. Tatkala kita sudah bisa membuat umat bahagia lewat peningkatan taraf ekonominya, akan lebih memudahkan pemenuhan kebutuhan rohaniah. Akan lebih mudah dan gampang. Sulit berbicara tentang aspek rohaniah tatkala umat dalam keadaan ekonomi lemah, miskin. Saya menginginkan umat seiman membaik kehidupan ekonominya dan tercapai kesejahteraan lewat ajakan-ajakan pada upaya pemberdayaan ekonomi. Maka, lewat proses pemberdayaan, umat pun dapat belajar arti pengorbanan dan nilai perjuangan. Demikian pula halnya dengan pengorbanan Yesus Kristus di Kayu Salib untuk penebusan dosa manusia.

 Winarto Ginting
Mantan Ketua Stasi Maileppet Pasakiat.
Kini Anggota Dewan Pengurus Harian/DPH Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Siberut Mentawai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *