Pekan Suci dalam Gereja Katolik merupakan saat/masa sangat berkesan dan dirayakan umat Katolik di seluruh dunia. Di dalam Pekan Suci, ada momen istimewa yang dikenal dengan nama Tri Hari Suci. Tiga hari tersebut merupakan momen mengenang dan merenungkan perjamuan malam terakhir Yesus Kristus bersama para murid, kematian Yesus, dan kebangkitan-Nya.

Umat Katolik memulai masa Prapaskah dengan menerima abu pada Rabu Abu. Pada saat umat Katolik menerima Abu, umat masuk dalam masa pertobatan dan persiapan diri. Simbol abu merupakan tanda pertobatan menuju Paskah. Dalam masa Prapaskah, umat berpantang dan berpuasa, serta hidup suasana doa serta melakukan aksi sosial – dalam bentuk Aksi Puasa Pembangunan (APP) – agar dapat membantu/menolong sesama.

Menjalani Pekan Suci merupakan pengalaman yang cukup menantang, berkesan dan membahagiakan bagi saya pribadi. Mulanya, ketika saya menerima abu di hari Rabu Abu. Saat itu, saya merenungkan perjalanan hidup rohani waktu sebelumnya. Saya merefleksikan diri ini sebagai manusia yang rapuh di hadapan Tuhan, sama seperti abu yang tidak bermakna di hadapan-Nya.

Kerapuhan saya disebabkan dosa yang diperbuat selama ini. Dosa menjadi tembok yang menghalangi rahmat Allah dalam kehidupan saya. Dosa  merusak hubungan saya dengan Allah. Melalui masa Prapaskah, saya berusaha melakukan hal yang diwajibkan Gereja: berpantang, berpuasa, berdoa, dan beramal. Melalui masa pertobatan ini, saya ingin dimampukan untuk memperbaiki relasi dengan Tuhan dan sesama.

Selama masa pertobatan ini saya berusaha memperbaiki relasi dengan Allah dengan sikap dan semangat hidup cinta kasih. Hanya saja, dalam perjalanan waktu, saya mengalami berbagai tantangan tersendiri. Ketika saya berusaha menahan diri tidak berbuat kesalahan, ternyata ada saja hal duniawi yang menggoda iman. Karena sifat manusiawi, saya terpengaruh godaan dunia. Salah satu pengalaman nyata tatkala saya berusaha membiasakan diri mengikuti Perayaan Ekaristi harian. Muncul rasa malas. Niat baik saya terhalangi. Karena kemalasan tersebut, saya terkadang tidak lagi ikut misa harian di gereja. Bahkan, lupa untuk berdoa.

Meski banyak godaan dan tantangan dalam Pekan Suci, saya merasakan kasih Tuhan yang berlimpah. Saya rasakan Tuhan tidak membiarkan diri ini dikuasai hal-hal yang jahat. Saya rasakan pula, Tuhan selalu menyertai dan membimbing langkah hidup hingga sekarang. Lewat masa Prapaskah, saya makin menyadari kelemahan dan keterpurukan kehidupan dalam dosa. Walau demikian, saya terinspirasi dengan ungkapan Paus Fransiskus, “Tuhan tak pernah bosan memaafkan. Kitalah yang bosan meminta pengampunan.”

Paskah bagi saya merupakan momen sangat berkesan. Saya melihat kuasa Allah yang mampu mengalahkan maut yaitu kebangkitan Yesus Kristus. Allah menyatakan kuasa-Nya. Pada Paskah 2023 ini, saya refleksikan kebangkitan Kristus  dari maut menjadi kebangkitan saya dari belenggu dosa dan keterpurukan hidup. Kehidupan saya telah mati, tidak berdaya karena telah dikuasai dosa.

Dosa dunia ‘membunuh’ iman dan kehidupan saya. Hidup ini tidak lagi bermuara pada Allah. Maka melalui kebangkitan Yesus Kristus ini, saya juga mau dibangkitkan dari keterpurukan hidup rohani. Walaupun saya terkadang jauh dari Tuhan, namun tetap merasakan kasih Tuhan yang selalu hadir dalam setiap langkah hidup ini. Setelah menjalani Prapaskah dengan sungguh dan penuh penghayatan iman, hidup saya semakin diperbarui jadi lebih baik. Saat Paskah, saya merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup, dibangkitkan dari berbagai persoalan, serta hidup damai.

Teorinus Laia
Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral “Dian Mandala” Gunung Sitoli, Nias.
Orang Muda Katolik Paroki St. Maria Bunda Yesus Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *