“Cara terbaik mendengarkan yaitu dengan melakukan Sabda Allah, berupa perbuatan kasih dan amal bakti. Perbuatan ini dilaksanakan dalam setiap peristiwa hidup kita dan orang lain. Berbuatlah hal baik yang menunjukkan kita sungguh mendengarkan sabda Tuhan. Apa pun yang kamu perbuat bagi salah seorang saudaraku yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk Aku,” ucap P. Pardomuan Benedictus Manullang, Pr., Rabu (22/2).  Hal tersebut disampaikan saat Perayaan Ekaristi dalam rangka Rabu Abu di Auditorium SMA Don Bosco Padang.

Dalam homilinya, Pastor Bene mengingatkan umat bahwa masa Prapaskah merupakan gerakan untuk mewujudkan pemikiran dan rancangan menjadi sebuah kenyataan. “Kita mewujudkan apa yang telah diprogramkan dan semua itu berlandaskan kerendahan hati. Semoga kita semakin membuka mata guna melihat kenyataan, membuka telinga untuk mendengarkan kenyataan, membuka hati untuk berempati terhadap kenyataan sebagaimana diteladankan Yesus sendiri: tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan,” katanya.

Misa Kudus Rabu Abu merupakan momen pertama perayaan setelah sekian tahun wabah Pandemi Covid-19. Kepala SMP Frater, Yosep Paskalis, menginformasikan bahwa momen ini diikuti para pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik beragama Katolik di lingkungan persekolahan:  SMA Don Bosco, SMA Katolik Xaverius, SMP Maria, dan SMP Frater Padang. Menurutnya, Misa Kudus Rabu Abu sebagai momen refleksi. “Kita sadari bahwa iman mesti diteguhkan lewat aneka pengalaman spiritual. Kita hendaknya menyadari makna Rabu Abu, sebab bukan tidak mungkin, Rabu Abu dipandang sebagai simbol belaka

Ditambahkan Yosep, selama masa Prapaskah, setiap Jumat berlangsung ibadat Jalan Salib di sekolah yang dipimpinnya. Biasanya, sambung Yosep, ibadat dilaksanakan di tiap sekolah. “Jika ada kesempatan ibadat Jalan Salib bersama di gereja, jauh lebih baik. Diharapkan, lewat ibadat ini, kita semakin memahami Yesus sebagai manusia yang mempunyai ‘kekhususan’ tersendiri yakni menebus dosa. Lewat Jalan Salib ini, kita semakin setia dalam iman dan ikut memikul salib-Nya dalam menjalani kehidupan ini,” tukas Yosep.

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Kepala SMA Don Bosco Padang, Martinus Kiwan berharap lewat Misa Rabu Abu memunculkan kesadaran dalam diri setiap manusia sebagai insan yang tidak sempurna dan penuh dosa. “Meski demikian, Tuhan selalu memberi kesempatan kita untuk bertobat dan tetap berjuang mencapai hasil yang maksimal.  Peserta didik Katolik diharapkan dapat mengikuti puasa dan pantang dengan baik, ikut dalam kegiatan rayon dan paroki. Semoga iman mereka bertumbuh dan berkembang. Kelak, mereka siap merayakan Paskah,” ungkapnya. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *