Hingga dekade 1970-an, para uskup di Sumatera, yang memiliki calon imam diosesan, mengirim calon imamnya untuk studi filsafat dan teologi ke Seminari Tinggi Kentungan di Yogyakarta, yang merupakan seminari antar keuskupan Regio Gerejawi Jawa. Sampai penghujung tahun 1970-an, telah ada beberapa orang imam diosesan dari keuskupan-keuskupan Sumatera yang merupakan tamatan Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta.

Sementara itu, para uskup Regio Gerejawi Jawa memberi sinyal kepada para uskup Propinsi Gerejawi Medan bahwa Seminari Tinggi Kentungan tidak akan sanggup menampung calon imam luar Pulau Jawa, sebab dari keuskupan-keuskupan yang ada di Pulau Jawa calon imam yang dididik cukup banyak. Maka, para uskup Sumatera mulai serius memikirkan untuk pendirian sebuah lembaga pendidikan calon imam diosesan di Sumatera. Keuskupan Padang memiliki imam alumni Kentungan, antara lain: RD Philips R. Sakti, RD. FX Hardiono Hadisubroto, RD. Alexander I Suwandi, RD. Markus Wale, dan RD Bernard Lie (yang melanjutkan Post S1 di STSP), dan beberapa imam lain yang telah berpulang atau memilih jalan hidup yang lain.

Dalam salah satu pertemuan (1980), para uskup se-Sumatera menyepakati dan memutuskan bahwa di Sumatera akan dibentuk seminari tinggi antarkeuskupan sebagai tempat pembinaan calon-calon imam disosesan dari keuskupan-keuskupan yang berasal dari Propinsi Gerejawi Medan. Kesepakatan dan keputusan para uskup Sumatera itu dibawa dan dibicarakan dalam Sidang MAWI (sekarang: KWI) 9-19 November 1981 di Jakarta. Rencana semakin matang sesudah sidang tersebut.

Menindaklanjuti Sidang MAWI tersebut, para uskup se-Sumatera bersama semua propinsial ordo/terakat yang berkarya di Sumatera mengadakan pertemuan di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22-25 Februari 1982. Pertemuan bertujuan untuk pematangan dan realisasi pendirian seminari tinggi diosesan antarkeuskupan (interdiosesan) Sumatera. Bertepatan Pesta Takhta Santo Petrus (22/2), berlangsung pertemuan yang memutuskan bahwa seminari tinggi dimulai pada tahun akademik 1982-1983. Tanggal 22 Februari 1982 sebagai ‘janin’ seminari antarkeuskupan Sumatera. Agar “janin” seminari dapat lahir, para uskup Sumatera secara resmi mengajukan permohonan bantuan tenaga imam dari Keuskupan Agung Semarang sebagai pembina. Selain melalui surat, mewakili para uskup se-Sumatera, Mgr. Henrisoesanto (dari Keuskupan Tanjungkarang) diutus ke Semarang untuk membicarakan permohonan secara langsung dengan Mgr. A. Djajasiswaja (Vikaris Kapitularis/Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang).

Tanggal 19 Maret 1982, Mgr. Djajasiswaja menjawab permohonan para uskup tersebut melalui surat. Beliau mengabulkan permohonan itu dan akan mengutus seorang imam diosesan Keuskupan Agung Semarang (Rm. L. Wiryodarmodjo). Terhitung 12 April 1982, Rm. Wiryodarmodjo – saat itu Vikaris Episkopal Yogyakarta – diutus dan ditugaskan ke Medan, Sumatera Utara, untuk mempersiapkan ‘kelahiran’ seminari tinggi antarkeuskupan Sumatera dan sekaligus menjadi pembinanya. Gagasan Menjadi kenyataan. Pada pertemuan para uskup se-Sumatera (22-25 Februari 1982) diputuskan seminari diosesan antarkeuskupan Sumatera akan didirikan di Parapat, Sumatera Utara.

Pemilihan tempat kedudukan seminari terkait dengan tenaga-tenaga pengajar/pembina intelektual. Di Parapat sudah ada Seminari Agung (Biara) Kapusin yang membina calon-calon imam Kapusin dari Medan, Pontianak dan Sibolga. Para saat itu, pihak Ordo Kapusin menyambut dengan tangan terbuka dan siap bekerja sama dengan para uskup untuk mewujudkan cita-cita itu. Bahkan, Ordo Kapusin berjanji memfasilitasinya. Oleh karena itulah seminari antarkeuskupan Sumatera diputuskan berdiri dan berkedudukan di Parapat, Sumatera Utara, di wilayah Keuskupan Agung Medan.

Setelah sejumlah persiapan dilakukan, Seminari Tinggi Antarkeuskupan Sumatera resmi berdiri di Parapat, Sumatera Utara, 8 Agustus 1982, ditandai Perayaan Ekaristi yang dipimpin P. Laurentius Wiryodarmodjo, Pr, P. Benitius Brevoort, OFM. Cap dan P. Hyginus Silaen, OFM. Cap serta umat Paroki Parapat. Perayaan Ekaristi peresmian itu juga ditandai penjubahan 12 seminaris. Perayaan Ekaristi dan acara ramah tamah ditanggungjawabi oleh umat Katolik Paroki St. Fidelis, Parapat.

Saat peresmiannya, seminari itu dinamai “Seminari Romo-romo Projo St. Petrus”. Seminari merujuk tempat pembinaan calon-calon imam. Romo-romo Projo menunjuk bahwa calon imam yang dibina di tempat itu adalah calon imam projo/diosesan. Nama St. Petrus dipilih sebab para Uskup Sumatera memutuskan untuk mendirikan seminari itu pada 22 Februari 1982, tepat pada Pesta Takhta St. Petrus, sekaligus mengenang pendiri pembinaan calon imam projo pertama di Indonesia adalah Mgr. Petrus Willekens.

Seturut perjalanan waktu, berlangsung perpindahan sedes dari Parapat ke Pematangsiantar pada 15 Juli 1986.  Di rumah dan tempat yang baru ini, Rm. Wiryodarmodjo, Pr mendapat teman pembina, yakni Rm. F.X. Wiryono, Pr, sebagai prefek. Perubahan nama “Seminari Romo-romo Projo St. Petrus” menjadi “Seminari Tinggi Santo Petrus” diputuskan dalam rapat para uskup 28-29 November 1985. Seminari Tinggi Santo Petrus diberkati dan diresmikan pada 30 Januari 1987. Hadir enam uskup se-Sumatera (Mgr. A.G. Pius Datubara, Mgr. Soudant, Mgr. A. Henrisoesanto, Mgr. Reochenbach, Mgr. A.B. Sinaga dan Mgr. Martinus Situmorang). Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kala itu, Mgr. Hadisumarto juga hadir sehari sesudahnya (31/1), bertepatan dengan peresmian kampus STFT St. Yohanes. Ikut hadir Nuntius, Mgr. Francesco Canlini.  (Fr. Yobel Zalukhu)/disarikan oleh hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *