Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-Keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang dikasihi Tuhan, peristiwa kebangkitan Yesus itu sifatnya meta-historis. Maksudnya, sungguh-sungguh terjadi dalam sejarah, tetapi sekaligus melampaui peristiwa sejarah yang biasa. Butuh kacamata iman untuk mampu melihat di seberang kenyataan yang kasat mata. Misteri Paskah mengundang umat beriman memandang sejarah kemanusiaan dari kacamata Allah yang melawat umat-Nya, Allah yang mengunjungi kita, yang hadir dalam penderitaan orang-orang pilihan-Nya.

Saksi-Saksi Iman akan Kebangkitan

Rasul Petrus dalam khotbahnya di Kisah Para Rasul, mampu berseru dengan penuh keyakinan, bahwa Daud “telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” (lih. Kis. 2:31-32). Sejarah yang ditafsirkan secara baru dalam terang kebangkitan tidak menutupi kebenaran, tetapi justru karena itu sering menjadi tanda perbantahan.

Penginjil Matius mengartikulasikannya dengan gamblang dalam catatannya di sekitar peristiwa kebangkitan Yesus (lih. Mat. 28:8-15): orang-orang sederhana menyadari peristiwanya dan memahaminya dalam pengalaman perjumpaan dengan Yesus, tetapi orang-orang yang merasa dirinya benar justru mau memalsukan faktanya. Intuisi iman akan kebenaran sejati tidak dapat dibeli dengan uang karena menyangkut kebebasan pribadi dan keluhuran martabat manusianya.

Yesus sendirilah yang mengajar Petrus dan para murid yang lain untuk membaca dan menafsirkan sejarah sebagai sejarah keselamatan. Di hadapan mereka yang terkejut dan kehilangan kata-kata, Yesus hadir dengan cara yang sangat akrab dan manusiawi, untuk membuang segala keengganan dan keragu-raguan. “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” (lih. Luk. 24:38-39).

Keraguan dan prasangka seolah-olah sudah menjadi bagian intrinsik dari kemanusiaan karena segalanya diukur dari kemampuan sendiri. Namun, Petrus dan Yohanes tidak terjatuh dalam godaan itu di hadapan fakta penyembuhan yang dialami orang lumpuh itu. Mereka mengakui bahwa mukjizat itu terjadi bukan karena kuasa dan kesalehan mereka, tetapi “karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua.” (lih. Kis. 3:16). Karena itulah mereka mampu bertahan menjadi saksi.

Iman senantiasa merupakan satu karunia, pemberian dari Allah. Saksi-saksi iman yang dipilih Allah untuk melanjutkan warta gembira rencana keselamatan-Nya bukan orang-orang hebat. Mereka itu orang-orang sederhana, wanita-wanita yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat, orang-orang yang kurang terpelajar, tetapi yang lebih mengherankan lagi kesebelas murid itu orang-orang yang keras kepala, sampai-sampai dikatakan oleh penginjil, bahwa Yesus “mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.” (lih. Mrk. 16:14).

Walaupun demikian, Yesus mengutus mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (bdk. Mrk. 16:15). Itulah anehnya! Seolah-olah kita diingatkan: siapakah kita ini, yang sering merasa lebih baik daripada murid-murid yang keras kepala itu?  Yesuslah yang tetap setia dan tidak mundur dari orang-orang pilihan-Nya, apa pun kenyataan mereka. Karena Tuhan sendiri percaya bahwa di hadapan sidang Mahkamah Agama Yahudi, mereka akhirnya akan menjadi saksi-saksi yang handal, yang menaruh kepercayaan dan harapan hanya pada Allah dan bukan pada kekuatan manusia (lih. Kis. 4:19-20).

Pengalaman yang Unik dan Personal

Kardinal Carlo Maria Martini dalam usia senja yang dilaluinya di Yerusalem, sesudah lama menjadi Uskup Agung Milano, Italia, suatu kali dalam satu wawancara pernah ditanya tentang makna pengalaman Paskah. Kardinal Martini yang hampir seluruh hidupnya sebagai gembala dibaktikan untuk pastoral Kitab Suci itu mengungkapkan pandangan pribadinya secara begitu sederhana dan rendah hati.

Paskah itu pengalaman yang unik dan tak ada bandingannya. Paskah mengubah seluruh cara memandang dan merasakan keberadaan kita, mengubah dan membolak-balikkannya dalam lautan cahaya di mana kita tenggelam di dalamnya. Bagaimana kita sendiri mengungkapkannya sekarang? Susah kita bilang, justru karena misteri Paskah ini mengatasi kita, melampaui segala kemampuan berpikir kita. Karena itu, tak mungkin kita mau menyimpulkannya dalam satu rumusan sederhana. Kita harus terus-menerus berusaha mengungkapkannya lagi dan lagi, mulai dari apa yang kita hayati.

Kalau mau dikatakan dalam bahasa kita sekarang, kita harus berangkat dari satu pengalaman baru yang sungguh-sungguh dihidupi, mengenai pengharapan, keterbukaan cakrawala, makna hidup yang semakin jelas, kekuatan kehidupan di atas kematian, kemenangan cinta yang melampaui kebencian, pengampunan alih-alih pembalasan dendam. Semua ini terpusat pada figur Yesus, pada kenyataan kemenangan-Nya bukan hanya atas kematian, tetapi juga untuk makna kematian itu.

Kardinal Martini mengakui bahwa semua ini harus dihayati secara pribadi dan diungkapkan berkali-kali seturut situasinya: “Saya sendiri tidak berhasil menyusun satu kamus, atau satu seri ungkapan yang sudah jadi. Namun, saya percaya bahwa setiap kali saya harus membiarkan diri ditantang oleh pengalaman Roh Kudus, oleh hidup baru yang ditandai oleh kehadiran Kristus dalam diri saya, oleh persekutuan dengan Kebangkitan Yesus melalui misteri sengsara dan wafat-Nya. Dari satu pihak, pertanyaan ini membuat saya malu, justru karena saya tidak percaya ada satu jawaban yang mudah atau yang sudah siap pakai; dari lain pihak, pertanyaan ini menantang saya, karena saya tahu bahwa saya dapat mengungkapkan pengalaman ini dengan banyak cara sebagaimana saya hayati secara pribadi.”

Kardinal Martini menambahkan, “Tentu, sering kali saya haus merasa puas mengulang rumusan yang saya anggap benar, tetapi kerap kali juga ketika saya mengungkapkannya, saya sadar kalau tidak berhasil merumuskan apa yang saya sendiri hayati, atau bahkan saya sendiri tidak menghidupi secara mendalam apa yang saya katakan. Kita ambil contoh, seseorang yang harus menghadapi bahaya maut dan ternyata selamat: orang ini mempunyai satu pengalaman shock yang menandai perjuangannya antara hidup dan mati, dari pengalamannya akan kesia-siaan dan kegagalan yang tak masuk akal yang sebenarnya siap menelannya, ternyata menjadi pengalaman akan sukacita yang memberi makna hidup. Hal ini dapat membantu dirinya memandang pengalaman antara hidup dan mati itu secara baru, bukan hanya sekedar pemahaman tentang seorang Yesus yang dulu wafat dan sekarang hidup, tetapi perubahan eksistensial itu, perjuangan mati dan hidup bersama Tuhan. Itulah kedatangan Kerajaan Allah dalam diri seseorang.”

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *