Tanpa terasa, telah dua tahun, saya menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Padang. Tentu saja, di sekolah ini, banyak teman dari kalangan Muslim. Meski mereka tahu saya non Muslim, namun pertemanan kami berlangsung baik adanya. Mereka sering bercerita pada saya dan menanyakan perasaan saya terhadap agama Islam. “Kalau kami salat, saat adzan, apakah kamu merasa terganggu?” pernah ditanyakan kepada saya.

Terhadap pertanyaan tersebut, saya katakan tidak merasa terganggu. “Kalian kan beribadah! Bukan sekedar main-main,” ucap saya kepada mereka. Lain waktu, kepada saya pernah ditanyakan mengenai orang Muslim masuk gereja. Saya tanggapi, “Tentu saja tidak boleh, karena kalian Muslim!” Itulah sepenggal pengalaman saya bergaul dengan teman beda keyakinan di sekolah. Mereka orang baik dan punya toleransi kuat. Bahkan, saya punya hubungan sangat baik dengan guru-guru, tentu saja dominan Muslim.

Pernah suatu ketika terdengar nama saya disebut-sebut seorang ustad, tatkala mengajar di kelas, waktu mata pelajaran Tahfiz. Tatkala ustad mengajar di kelas dan ternyata ada masalah di antara teman Muslim, saat itulah pak ustad mulai cerita di kelas tersebut. Perkataan dan kalimat tersebut sampai ke telinga saya. Diucapkan pak ustad, “Kalian tahu nggak teman kalian yang Kristen itu. Dia orang nya baik, sopan, dekat dengan semua guru. Setiap ketemu ustad, dia selalu sapa dan salam. Kalian malah sebaliknya. Ustad lewat kalian cuekin saja. Ustad senang dengan dia.”

Setelah peristiwa tersebut, ada teman ‘melapor’ pada saya, “Imsal, Pak Ustad senang dengan kamu, karena baik dan ramah pada semua guru.” Saya merasa nyaman bersekolah di sini, meski berada di tengah lingkungan beda agama. Saya tetap setia sebagai penganut Katolik. Setiap Minggu, saya selalu mengikuti Misa Kudus di gereja. Suatu ketika di Gereja Katedral St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus Padang. Lain waktu, di Gereja Paroki Santo Fransiskus Assisi Padang. Selain itu, saya tergabung sebagai legioner di Presidium Ratu Surgawi Paroki Katedral Padang. Untuk kehidupan iman Katolik, saya teguh dan setia. Bukan sebagai pengecut.

Memang, pada awal masuk ke lingkungan sekolah ini (tahun pelajaran 2021-2022), sempat muncul pertanyaan dari teman Muslim kepada saya, terutama berkaitan dengan Tritunggal Mahakudus, Bunda Maria, dan sebagainya. Saya berusaha memberikan jawaban sebaik mungkin. Jujur, saat itu, saya agak kelabakan dan sempat bingung memberi jawaban. Syukurlah, teman-teman punya pengertian. Mereka minta saya agar tidak pusing sendiri kalau mengalami kesulitan jawab. “Kami hanya penasaran saja sehingga bertanya. Namun, kita tetap berteman. Jangan karena perbedaan agama, pertemanan kita rusak. Yakini agamamu dan kami yakini agama kami,” tutur mereka kepada saya.

Tentu saja, itu menjadi pengalaman membekas. Saya melihat cara mereka ‘memperlakukan’ teman beda keyakinan. Saya terdorong untuk lebih mendalami agama Katolik. Saya pun berprinsip untuk tetap percaya dengan keyakinan Katolik sedari lahir ini. Kalau memang ada keinginan pindah agama, bisa jadi ada kemungkinan besar terjadi setahun silam, saat kelas X. Memang, untuk hal ini terpulang pada keteguhan hidup beriman seseorang. Saat masuk ke sekolah ini (2021), terdapat dua pelajar Katoliki. Setahun kemudian (2022), terdapat empat pelajar Katolik di sekolah ini.  Pada tahun pelajaran 2022-2023, saya masuk dalam jajaran Bidang Olah Raga OSIS, sebagai Ketua Smansa Volley Ball Association/SVBA.

Imsal Mikael Siribere
Pelajar Rombongan Belajar XI MIA-1 SMA Negeri 1 Padang.
Berasal dari Stasi Limu Paroki Stella Maris Betaet, Siberut Barat, Kepulauan Mentawai. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *