TUHAN TIDAK PERNAH MENGECEWAKAN

HARI MINGGU PASKAH III (23 April 2023)
Kis. 2:14, 22-33; Mzm. 16:1-2a, 5,7-8,9-10, 11
1Ptr. 1:17-21

RASA KECEWA dengan seseorang terhadap orang lain akan membuat putus asa dan kehilangan kepercayaan. Terlebih kalau orang yang dipercaya itu diharapkan memberikan pertolongan atas kehidupan orang itu. Banyak orang kecewa dengan politikus dan pemimpin politik, karena hanya diberi janji-janji manis di saat kampanye. Mereka merasa diperdayai, hanya dijadikan alat untuk mencapai kedudukan dan jabatan. Mereka kecewa karena janji-janji politik sedikit bahkan tinggal janji belaka. Mereka merasa diberi harapan palsu atau dipehape.

Rasa kecewa dan putus asa itu juga dialami dua murid yang dalam perjalana ke Emaus. Mereka kecewa karena Yesus yang mereka harapkan, hidup-Nya berakhir tragis di tiang gantungan, salib. Saat berjalan, mereka tidak menyadari bahwa Tuhan Yesus bersama mereka. Tuhan Yesus sangat mengerti perasaan gundah yang dialami dua murid-Nya itu. Karena kedua murid itu juga tidak mengerti, Tuhan Yesus pun menjelaskan nunut Kitab Suci tentang  Mesias yang mati dan kemudian dibangkitkan Allah. Ketika dua murid itu menyadari kehadiran Tuhan Yesus saat memecahkan roti, mereka pun berkata, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Kekecewaan, kegagalan, penolakan dan kesulitan hingga berujung keputusasaan merupakan bagian yang tidak akan pernah terpisah dari perjalanan hidup seseorang. Namun pengalaman kedua murid ini menunjukkan bahwa keterbukaan diri untuk menerima Allah dalam setiap situasi, akan membawa untuk menemukan makna dan kebenaran dari setiap peristiwa.

Kita mungkin sering kecewa kepada Tuhan, karena doa dan permohonan kita tidak dikabulkan-Nya. Atau kita merasa usaha tidak lancar sehingga menganggap Tuhan memberkati. Atau kalah berperkara sehingga menganggap Tuhan tidak berpihak kepada kita. Atau gagal ujian, nilainya tidak bagus.

Menghadapi semua itu hendaknya kita mawas diri. Jangan mencari kambing hitam, apalagi menyalahkan Tuhan. Manusia berkat akal budinya diberi oleh Tuhan kemampuan untuk memahami semua hal yang dialaminya. Kebenaran dalam memahami ditentukan oleh sumber fakta dan cara berpikir. Pemahaman yang tidak benar membuat sikap, tindakan dan kata-kata menjadi ngawur, tidak terkontrol dan membuat diri merasa paling benar. Yakin dan percayalah bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan. Pahamilah Tuhan berkehendak apa atas segala persoalan hidup yang kita alami. Percayalah selalu ada rencana indah dari Tuhan, bahkan di balik kegagalan sekalipun. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *