Umat Katolik Paroki St. Fransiskus Assisi Padang merayakan Minggu Palma menjelang pekan peringatan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan, Minggu (2/4). Perayaan Minggu Palma diawali dengan perarakan berlangsung di depan Gedung Laruffa RS Yos Sudarso menuju gereja.

Sebelum perarakan, pemimpin ibadah, P. Alfonsus Widhiwiryawan, SX mengatakan, “Kerinduan umat manusia berjumpa dengan Allah terwujud dengan kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Dan saat ini, Dia  – yang lahir dalam kesederhanaan – mulai menjalani detik-detik terakhirNya tingggal bersama kita. Dia ingin meninggalkan sebuah warisan yang sangat berharga bagi kita. Dialah Tuhan yang tinggal di tengah-tengah kita. Semoga kehidupannya menjadi inspirasi bagi kita untuk memperjuangkan kehidupan yang memang layak untuk diperjuangkan.”

Sesampai di dalam gedung gereja St. Fransiskus Assisi, berlangsung Perayaan Ekaristi. Pada kesempatan ini berlangsung pembacaan Kisah Sengsara Yesus oleh para petugas liturgi. Dalam homilinya, Pastor Alfonsus menegaskan, “Satu pengalaman iman kita. Dalam Pekan Suci, Gereja mengajak kita memulai suatu revisi pengalaman hidup. Mengingat bahwa kematian merupakan pintu bagi kita untuk berubah bersama Allah. Kematian juga jalan yang telah dilalui Kristus agar kita diselamatkan. Jangan takut memasuki pengalaman penderitaan bersama Tuhan, karena Tuhan selalu bersama umatnya.”

Sementara itu, dari F. Rielia Renata, kontributor GEMA di Paroki St. Paulus Pekanbaru, didapat gambaran suasana Minggu Palma (2/4). Sebelum pukul delapan pagi, umat berkumpul tertib di halaman Gereja Katolik Paroki Santo Paulus – sembari membawa daun palma dari rumah – untuk mengenangkan peristiwa penyambutan Yesus secara meriah di Yerusalem. Selain di gereja pusat paroki, Minggu Palma pun berlangsung di gereja stasi – dengan maupun tanpa imam.

Pemberkatan daun-daun palma pun dilakukan. Pastor Yulius Tangke Bandaso, SX berkeliling mereciki daun-daun palma yang ada di tangan umat sambil diiringi lagu Madah Bakti 394 (Terpuji Raja Kristus). Ibadah terus berlanjut dengan pembacaan Injil Matius. Dalam homili singkat di halaman gereja, pastor menyampaikan, “Perayaan Minggu Palma ini menandai pembukaan Pekan Suci. Suatu pekan saat Gereja merayakan misteri keselamatan dan kehidupan Kristus pada hari-hari terakhirNya.”

Pastor pun mengajak umat memasuki gereja. Umat masuk dengan tertib sambil bernyanyi.. “dikala Yesus disambut di gerbang Yerusalem…..”. Pada bagian doa pembuka oleh Pastor Yulius diserukan, “…. Engkau telah menyerahkan Juru selamat- PuteraMu – menjadi manusia … yang direndahkan, sampai wafat di kayu salib…”. Ada yang istimewa dalam perayaan ini, pada liturgi sabda dibawakan Kisah sengsara Tuhan Yesus dibacakan seutuhnya.

Dalam homili, Pastor mengingatkan kembali isi doa pembuka, “…. Engkau telah menyerahkan Juru selamat- PuteraMu – menjadi manusia … yang direndahkan, sampai wafat di kayu salib…” Pastor Yulius menandaskan, “Inilah inti pokok misteri iman kita. Karena begitu besar kasihNya, Allah memberikan dan mengutus Yesus, PuteraNya, menjadi manusia. Ia direndahkan namun taat sampai wafat di kayu salib. Ia pun dibangkitkan.  Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita tidak lepas dari penderitaan dan sengsara. Namun, Yesus telah memberi teladan. Sebab itu, dalam situasi apa pun, kita meneladani Yesus yang dengan segala kerendahan hati, walaupun dalam rupa Allah, taat. Jika segala masalah kita hadapi dalam terang iman, maka tidak akan putus asa dan lari.”

Sementara itu, berdasarkan pantauan GEMA di gereja pusat Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang, perayaan Kamis Putih (6/4) diikuti delapan ratusan umat yang memadati bagian dalam dan luar. Dalam tradisi Gereja Katolik, saat Kamis Putih berlangsung peringatan Perjamuan Malam Terakhir yang dipimpin Yesus. Di kesempatan ini, meneladani ‘perbuatan’ Yesus, imam membasuh kaki dua belas laki-laki dewasa, simbol pelayanan sesama. Saat Kamis Putih, umat Katolik memperingati sebagai penyerahan diri seutuhnya Yesus Kristus.

Perayaan Hari Kamis Putih di gereja paroki mulai pukul tujuh malam dipimpin Pastor Rekan, P. Philips Rusihan Sakti, Pr. Pada kesempatan ini, P. Philips mengatakan, “Pada Kamis Putih, kita rayakan perjamuan Tuhan sebagai pelaksana … Ini bukan soal tugas yang menyedihkan melainkan sebuah perjamuan yang menggembirakan, karena merupakan ungkapan cinta kasih yang luhur. Roti yang satu dan dialah yang satu, mempersatukan kita dalam cinta kasih. Sebagai murid-Nya, kita diajak untuk siap dan rela berkurban.”

Perayaan Ekaristi ditutup dengan perarakan Tubuh Kristus dari gereja menuju Aula Paroki serta dilanjutkan dengan tuguran tiap wilayah yang ada di paroki. Tuguran pertama dilakukan umat Wilayah Matius, dilanjutkan Wilayah Markus. Terakhir, tuguran oleh anggota Orang Muda Katolik (OMK) Paroki. Tuguran berlangsung khidmat dan tertib sampai umat pulang ke rumah masing-masing dengan hati sukacita. Hal yang sama juga berlangsung di Kapel Wilayah Paulinus Jondul-Villa Mega Paroki St. Maria Bunda Yesus. Ibadat dipimpin P. Bernard Lie, Pr. Umat tampak memadati bagian dalam dan pintu depan kapel ini.

Rasakan Kembali Kehadiran Tuhan

Dari perayaan Jumat Agung di Paroki Santa Maria A Fatima Pekanbaru, salah satu Seksi Komsos Paroki, Nina Suprapto mengabarkan, “Perayaan diawali Tablo Kisah Sengsara Yesus. Tablo berlangsung jam delapan pagi di halaman eks TK Santa Maria Pekanbaru. Tablo dipimpin Pastor Alex Sudarmanto. Para tokoh dalam Kisah Sengsara Yesus diperankan oleh Orang Muda Katolik (OMK) dan Bina Iman Remaja (BIR). Tablo yang dihadiri umat separoki berlangsung lancar.”

Seusai Tablo, rangkaian kegiatan ibadah berikutnya adalah Misa Jumat Agung jam tiga sore dipimpin Pastor Anton Konseng, Pr. Sesuai tradisi Gereja Katolik, terdapat tiga bagian Jumat Agung: Liturgi Sabda, Penghormatan Salib, dan Komuni. Liturgi Sabda berlangsung dalam suasana hening dan khusyuk. Pasio yang lazim saat Jumat Agung, dibawakan  penuh penjiwaan oleh Alexander O, Nelson M. S, dan Rhidonius.  

“Umat terhanyut dan seolah-olah kembali pada masa silam, saat peristiwa penyaliban Tuhan Yesus Kristus berlangsung. Pastor Anton menyampaikan pesan singkat tentang kasih sayang terhadap Bunda Maria. Sebagai murid dan pengikut Yesus, kita harus mencintai Bunda Maria. Dengan mencintai Bunda Maria sebagai Ibu Tuhan, kita pasti juga mencintai gerejaNya. Liturgi Sabda Jumat Agung ditutup dengan acapella yang indah dari Lingkungan VII A,” lapor Nina mengakhiri.

Sementara itu, Perayaan Sabtu Suci (Sabtu Sipunenan) atau Malam Paskah di Gereja Stasi Santo Agustinus Sagulubbeg Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Siberut, Mentawai berlangsung khidmat sekaligus meriah. Stasi ini menjadi pusat perhatian liturgi di antara enam stasi lainnya yang berada di Wilayah Sagulubbeg. Kontributor GEMA dari wilayah ini, Stepanus Sakakaddut, S.Pd. menyatakan enam stasi lainnya adalah Stasi Lumago, Mapinang, Mongan Tepuk, Masi, Buga dan Siribabak.

Pada Trihari Suci 2023, Wilayah Sagulubbeg dikunjungi/dilayani seorang pastor yakni P. Anton Wahyudianto, SX. Dalam rombongan, Pastor Anton datang bersama beberapa orang dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) serta seorang suster Konggregasi Puteri Reinha Rosari (PRR). Rombongan tiba pada 5 April 2023.  Keterbatasan jumlah imam di paroki ini tidak menjadi kendala bagi setiap stasi untuk tetap melaksanakan ibadat Trihari Suci.

Ibadat Sabtu Suci di Stasi Sagulubbeg misalnya, berlangsung khidmat, sesuai tata perayaan yang telah dilatih pada pertemuan seluruh ketua stasi sebelumnya di pusat paroki. Para petugas liturgi telah dilatih satu minggu sebelum pelaksaan ibadat. Ibadat Sabtu Sipunenan dipandu langsung Ketua Stasi (Baja’ Gereja), Marcellus Laijun. Ibadat semakin meriah dengan adanya koor/paduan suara Wanita Katolik – sudah disiapkan satu bulan sebelum Pekan Suci.

Perarakan Cahaya dimulai dari depan gereja dengan kondisi yang kondusif dikelilingi api unggun yang diberkati sebagai lambang Kristus yang hadir dan menang atas maut. Umat antusias dan bersemangat mengikuti perayaan ini. Kehadiran umat pun terlihat lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya. Ibadat dimulai jam delapan malam, sesuai dengan kebiasaan waktu liturgi di stasi ini. Ibadat berakhir sekitar jam sepuluh malam.

Dalam perayaan ini, umat diajak untuk merasakan kembali kehadiran Tuhan yang tersalib atas penebusan dosa manusia. Penekanan ini disampaikan Andreas Dandi, S.Pd., seorang Guru Agama Katolik salah satu sekolah dasar di wilayah ini, saat menyampaikan khotbahnya. “Pentingnya kesadaran atas makna perayaan ini, umat pun semakin termotivasi dan antusias melaksanakan pelayanan dan menggereja,” ungkapnya.

Katekis Wilayah Sagulubbeg ini mengakui ada yang ‘baru’ Pekan Suci 2023 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2023, imam hadir pada Pekan Suci. Tahun sebelumnya saat Prapaskah. Selain itu, adanya keterlibatan Wanita Katolik yang ikut memeriahkan Pekan Suci lewat paduan suaranya. Selain itu, yang turut membedakan adalah keterlibatan seluruh umat dalam tugas liturgi. Di waktu sebelumnya, terasa sulit bagi umat sebagai petugas liturgi. “Semoga buah-buah kebangkitan Yesus pada momen Paskah semakin terpancar di hati umat, sehingga iman umat pun semakin tumbuh dan berkembang,” ucap Stepanus.

Tuhan Yang Menyelamatkan

Dari pantauan GEMA di gereja Paroki Katedral St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Padang, pada Minggu Paskah (9/4), terlihat antusiasme umat mengikuti Perayaan Ekaristi. Misa Kudus berlangsung tiga kali. GEMA hadir pada misa kedua, jam sembilan pagi. Perayaan Ekaristi dipersembahkan Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin. Ibadat semakin meriah adanya iringan Koor Wilayah XI.

Dalam khotbahnya, Uskup Vitus mengatakan, “Yesus belajar dari namaNya sendiri, berarti Tuhan yang menyelamatkan. Pada titik puncak penderitaanNya, Yesus berpasrah. Logika dunia ini memang sungguh berbeda dengan Injil yang kita dengar pada Malam Paskah. Injil yang bukan terletak pada kepentingan, kekuatan, dan kemampuan diri sendiri; melainkan pada kekuatan Tuhan. Yesus tidak turun dari Salib. PerkataanNya di tiang salib “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” seakan mengambil jeritan kita dan serasa ditinggalkan Bapa. Namun, dalam kepasrahan kepada BapaNya, Yesus menyerahkan nyawaNya. Allah tidak membiarkan Yesus berada di antara orang mati dan tinggal dalam maut. Ia dibangkitkan.”

Di depan ratusan umat yang memadati bagian dalam gereja Katedral Padang, pada bagian lain homili, Bapa Uskup menyatakan, “Menjadi orang Katolik adalah orang yang penuh sukacita dan dalam kasih Tuhan. Kita diliputi oleh ‘lautan kerahiman Tuhan’. Itulah sebabnya kita tidak takut, karena Tuhan membela kita. Siapa yang bisa memisahkan kita, seperti kata Santo Paulus. Kematian dan pedang pun tidak bisa memisahkan kita dengan Tuhan.”

Uskup Vitus tidak memungkiri fenomena yang terjadi dengan orang Katolik yang suka dengan aturan-aturan. “Gereja kita sudah penuh dengan aturan. Alih-alih mau merayakan Minggu Kerahiman Illahi – berarti semua dosa kita diampuni dan mendapat indulgensi penuh – maka harus datang setiap hari selama Novena. Muncul pertanyaan, bagaimana kalau ‘bolong’ atau ‘hilang’ satu kali? Boleh tidak, pastor atau bapa uskup? Selalu muncul pertanyaan: boleh atau tidak boleh? Kita tidak lagi berpikir sukacita Paskah, melainkan berpikir dengan aneka aturan sehingga kerahiman Tuhan tersebut menjadi hilang, sebab kita adalah orang-orang yang selalu dipenuhi aturan, harus begini dan begitu! Lupa, bahwa Tuhan tidak mengharuskan apa-apa,” ungkap Bapa Uskup.

Di bagian akhir homili, Bapa Uskup mengingatkan umat – sebagaimana juga terdapat dalam Doa Syukur Agung, “Bukan semata-mata karena jasa-jasa kita, melainkan karena kelimpahan dan belaskasihan Tuhan”. Orang-orang yang mau menjadi ‘Rasul Kerahiman’, sambung Uskup, seharusnya menjadi orang yang bebas dan penuh sukacita. “Bukan menjadi orang munafik, diliputi berbagai aturan yang begitu menakutkan. Seolah-olah kita tidak (bakal) mendapat indulgensi penuh, kalau tidak melakukan ini atau itu. Pengampunan dosa semata-mata kerahiman dan belaskasihan Tuhan. Allahlah yang menyelamatkan kita,” ujar Uskup Vitus mengakhiri. (andika/benni/hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *