Seksi Komsos di Paroki Santo Paulus Pekanbaru dibentuk enam tahun silam (2017). Doa yang langsung terucap adalah,” Tuhan, tolong kirimkan orang-orang yang …entahlah..…  untuk bisa bekerjasama.”  Sebuah doa yang aneh dan bingung. Persepsi pertama yang terlintas saat itu dalam pikiranku bahwa seksi ini harus berkomunikasi dengan orang lain! Padahal secara sadar diri, kemampuan itu sepertinya tidak ada. 

Maka dengan bantuan Mbah Google dan naskah yang diberikan  pastor paroki waktu itu, didapatkan keterangan bahwa tugas komsos adalah: (1) mewartakan keselamatan kepada umat, (2) mengusahakan  agar  warta  keselamatan   dapat  dibaca, didengar dan dilihat melalui alat-alat komunikasi sosial, (3) mengusahakan  agar umat dapat mempergunakan sarana komunikasi sosial demi perkembangan pribadinya sebagai orang beriman, (4) mengusahakan  pelatihan-pelatihan  bagi umat, (5) agar dapat mempergunakan alat-alat komunikasi sosial sebagai sarana untuk mewartakan kebenaran dan keadilan, (6) membina kesadaran umat untuk bersikap kritis dan bijak terhadap informasi media masa, (7) menyosialisasikan kegiatan paroki, (8) bertanggung  jawab atas pemanfaatan  media komunikasi sosial – seperti media   cetak, radio, televisi, sinema, internet (website, e-mail, Facebook, Twitter, Instagram), dan sebagainya – guna menyiarkan warta keselamatan, serta mengupayakan terjadinya komunikasi dan kerja sama dengan paroki-paroki  lain, kelompok-kelompok  lain atau keuskupan.

“Koq, banyak, Pastor?”

“Pilihlah mana yang dirasa cocok.”

Tahun pertama, direkrut beberapa orang yang “bertahan.”, direkrut pula kontributor dari setiap stasi yang juga sebagian besar “bertahan”. Doa “spontan bingung” itu serta-merta dijawab. Seksi Komsos itu keluarga. Ada kalanya berantem, berbaikan, berantem lagi, kerja bareng, kena tegur, having fun, berbagi tugas jekrekan (pengambilan gambar), ngopi bareng, berantem dan berbaikan lagi. Berantem dan berbaikan lagi itu merupakan anugerah yang dirasa besar. Mengapa? karena itu membuktikan suatu hal, bahwa bukan orang-orang yang punya kemampuan besar yang dibutuhkan, tapi orang-orang yang mau belajar dan sadar, bahwa proses belajar itu kadang nggak enak.

Karena tidak memiliki kemampuan diplomasi verbal, maka pendekatan ke umat paroki dilakukan dengan visual, atau bikin film melalui para kontributor stasi. Ada OMK juga dalam Seksi Komsos Paroki, dan mereka mau berkarya membuat film pertama untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia.  Ada juga yang bisa menggubah lagu. Film disebarkan ke stasi-stasi, dan dengan bantuan koordinator komsos/anggota/kontributor komsos di setiap stasi dan mengerahkan seluruh ketua stasi.

Tahun berikutnya, giliran Komsos Stasi yang menggerakkan umat di stasinya masing-masing, tentu dengan para pengurus lainnya, memerankan naskah drama untuk Hari Komsos Sedunia. Juga permainan kartu untuk Bina Iman Anak (BIA) untuk membuka mata mereka akan permainan tradisional dan bukan hanya pegang telepon pintar – sesuai pesan Bapa Paus saat itu.

Tahun berikutnya pandemi. Misa diadakan tanpa umat dan dimintakan live streaming. Kami kalang kabut saat itu. Live streaming? Apa itu? Seperti barang baru. Minggu pertama bikin alasan, bahwa Komsos Santa Maria Fatima Pekanbaru sudah mengadakan live streaming, maka melalui media sosial (medsos), umat Paroki Santo Paulus diarahkan ke sana. Sementara itu, setiap hari bahkan sampai lewat tengah malam sibuk gangguin Seksi Komsos Paroki Santa Maria Pekanbaru untuk belajar live streaming. Dan, sungguh mengagumkan: mereka begitu sabar mengajari tanpa pelit ilmu.

Live streaming pertama di Hari Raya Kabar Sukacita (25 Maret 2020) dengan menggunakan telepon pintar (HP). Setelah mulai perlahan menguasai trik live streaming, mulailah digunakan perangkat agak canggih. Pencarian dana untuk pengadaan peralatan live streaming pun dimulai: dengan ‘berjualan’. Untuk urusan cari dana, kesepakatan di Seksi Komsos Paroki St. Paulus Pekanbaru, bahwa tidak akan menyebarkan proposal. Mengapa? Karena saat pandemi, bantuan-bantuan dana disadari lebih teruntuk kepentingan sosial, pemeliharaan dan operasional gereja.

‘Membayar’ Sangat Lebih

Maka, Seksi Komsos membuat semacam goodie-bag, berisi souvenir, majalah Warta Paroki, topi, mug komsos dan ‘kartu himbauan’ berwarna. Masing-masing anggota Seksi Komsos Paroki menyebarkannya ke teman-teman yang dirasa bisa membantu. Ada yang tidak memberi, namun banyak yang ‘membayar’ sangat lebih, sehingga dalam satu bulan seluruh peralatan urgent untuk live streaming dapat dibeli. Peralatan yang waktu itu (sempat) dipinjamkan oleh umat Paroki Santa Maria Pekanbaru bisa dikembalikan dengan penuh syukur. Itulah beberapa ‘kisah bahagia’ di Komsos Paroki St. Paulus Pekanbaru. Begitu banyak yang mau membantu. Begitu banyak teman yang ingin berpartisipasi.

Seksi Komsos Paroki pernah ‘ditraktir” juga oleh Komisi Komsos KWI, sehubungan dengan menang Komsoslympic  (Olimpiade Komsos). Saat itu, sebagai juara pertama lomba jingle dan juara kedua pengurus Komsos terbaik se-Komsos Indonesia. Syukur kepada Allah.

Hingga kini, Seksi Komsos Paroki Santo Paulus Pekanbaru terdiri dari Tim Live Streaming yang juga koordinator masing-masing bidang, koordintor komsos/anggota komsos di stasi-stasi (setiap stasi minimal satu). Tentunya tidak lepas dari perkenan pengurus stasi yang luar biasa.

Belajar Bersyukur adalah moto yang dibawa Seksi Komsos Paroki St. Paulus Pekanbaru sejak awalnya. Belajar, karena disadari akan ada kemungkinan memegahkan diri, merasa bangga berlebih sehingga lupa bahwa keberadaan komsos murni karena anugerah kesempatan yang boleh diterima sebagai lahan untuk mengalokasikan syukur atas apa yang telah diterima dalam hidup, dan bukan kehebatan dan kemampuan diri sendiri. Bersyukur, karena dalam setiap langkah akan bertemu dengan kekecewaan, sakit hati bahkan mungkin putus asa. Syukur kepada Allah atas segala hal yang pernah kita terima adalah obat.

Firsty Rielia Renata
Koordinator Seksi Komunikasi Sosial Paroki Santo Paulus Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *