SURAT GEMBALA PASKAH PADA HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA 2023

Para Ibu dan Bapak, saudari dan saudara yang budiman, Para Pastor, Suster, Bruder, Frater, kaum muda, remaja dan anak-anak, seluruh umat Keuskupan Padang yang terkasih dalam Kristus.

Pada hari Minggu Paskah Keempat ini, kita mendengar bacaan Injil tentang Yesus Gembala yang Baik. Dua kali seruan Yesus ini diungkapkan oleh Penginjil Yohanes. Sesudah akhir bacaan Injil hari ini pada ayat 11, kita mendengar sekali lagi pada ayat 14: “Akulah gembala yang baik”. Terjemahan harfiah dari bahasa aslinya sebenarnya berbunyi “gembala yang elok,” atau dengan bahasa lebih gaul: “gembala yang” Jadi, maksudnya gembala yang istimewa, yang unggul. Kata sifat “baik” dalam sebutan umum “gembala yang baik” itu memang tidak sekedar menampilkan suatu kualitas moral, kebaikan hati, tetapi mau menggarisbawahi satu keindahan, satu keunggulan. Yesus mau mengatakan: “Akulah Gembala utama, satu-satunya, tidak ada yang lain!” Hanya Dialah Gembala yang “memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Orang bisa mempertaruhkan segala sesuatu untuk mempertahankan barang-barang miliknya dari bahaya, tetapi ketika hidupnya sendiri terancam, biasanya orang akan lari juga untuk menyelamatkan nyawanya. Berbeda dari lazimnya, sikap dan pilihan Yesus Gembala Baik itu unik. Di hadapan orang-orang yang datang untuk menangkap-Nya di Taman Getsemani, Yesus membela murid-murid-Nya dengan berkata: “Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi” (Yoh. 18:8), karena Gembala yang Baik takkan membiarkan seekor pun dari dombanya hilang binasa (lih. Yoh. 18:9 bdk. 6:39; 10:28-29). Tidak seperti dalam Injil-Injil Sinoptik, penginjil Yohanes tidak menceritakan bahwa murid-murid lari meninggalkan Yesus, tetapi Yesuslah yang menyerahkan diri-Nya untuk mereka.

Saudara-saudari terkasih, Yesus Gembala yang Baik itu punya style yang unik. Gayanya… tidak ada duanya. “Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar” (Yoh. 10:3). Bagi kita yang bukan dari budaya pastoral itu, tampaknya berlebihan latar belakang keakraban yang intim antara gembala dan domba-dombanya ini. Namun, saya pernah mendengar kisah seseorang di Mentawai yang mempunyai dua ratusan babi di ladangnya. Maksudnya, di hutan di mana banyak babi-babi berkeliaran. Babi-babi milik orang itu mengenali nada suara kentung yang dipukul tuannya untuk memanggil mereka makan. Suara dari orang lain tidak mereka ikuti. Walaupun demikian, tetap unik bagi kita, bahwa Yesus Gembala Baik itu memanggil domba-domba dengan nama mereka satu per satu. Inilah perwahyuannya. Bagi Yesus, masing-masing domba itu punya nama. Bagi Yesus, masing-masing pribadi yang terpanggil itu unik dan tak tergantikan. Hari Minggu Paskah keempat kita rayakan sebagai Hari Doa Panggilan Sedunia. Yesus memanggil kita apa adanya, dengan seluruh pengalaman masa lalu kita sekaligus cita-cita harapan di masa depan.

Saudara-saudari, khususnya rekan-rekan muda yang terkasih, Gembala Baik itu memanggil domba-domba dengan namanya dan menuntunnya ke luar. Gembala domba berjalan di depan dan domba-domba mengikutinya karena mengenal suaranya. Kita tidak mempunyai gembala yang hanya jaga kandang atau berjalan di belakang, dalam ungkapan yang lebih sering diucapkan: “bermain aman di luar pagar.” Kita punya Gembala yang berjalan di muka, yang membuka jalan, bukan gembala yang dari belakang berteriak-teriak dan mengacungkan tongkat atau cambuk, melainkan Gembala yang mendahului dan meyakinkan orang dengan keteladanan. Dengan ketenangan hatinya, orang-orang yang mengikutinya juga mampu merasa aman berjalan. Tuhan sendiri bahkan menarik kita ke luar dari rasa nyaman berlebihan untuk mengikuti-Nya karena Dialah Gembala yang senantiasa membuka ruang lebih luas untuk perjumpaan, Gembala kebebasan hati yang tidak takut-takut untuk mendorong kawanan untuk jalan ke luar, menyongsong cakrawala yang baru dengan iman, dengan inspirasi kehidupan dan kebijaksanaan.

Domba-domba itu mendengar suara-Nya. Cukup suara-Nya saja, tidak perlu perintah karena mereka mengenal-Nya dan mempercayakan diri mereka kepada-Nya. Jadi mengapa mereka mengikutinya? Sederhana jawabnya, karena mereka mau hidup, mereka mau dibebaskan dari bayang-bayang kematian dan kemandegan, mereka mau menemukan padang yang subur. Inilah kawanan domba yang tidak hanya puas dengan rumput “sisa kemarin” tetapi kawanan yang berani keluar, berjalan bersama dalam kepasrahan pada Sang Gembala, dalam kesadaran akan sejarah mereka yang sering kelam, penuh dengan pencuri dan perampok di padang, tetapi juga dalam optimisme akan jalan setapak yang cerah menuju ke sumber air. Dia yang berjalan di depan, yang memanggil nama masing-masing dengan penuh perhatian, bukanlah pencuri dan perampok kebebasan kita, sebaliknya masing-masing yang terpanggil itu akan masuk dan ke luar untuk menemukan masa depan, karena Dialah pintu ke padang gembalaan yang luas, ke dalam hidup yang lebih penuh, bahagia bersama Allah pemilih seluruh kawanan.

Jadi saudara dan saudari terkasih, kualitas kemuridan akan ditentukan dari caranya seseorang “mendengar” dan “mengenal” suara Sang Gembala utama. Kita diajak lebih optimis memandang perutusan Kabar Gembira yang tidak mengenal batas-batas geografis. Karena hal ini bukan semata-mata usaha manusiawi, melainkan “tangan Tuhanlah yang menyertai” kita yang dipanggil menjadi para pewarta Kabar Gembira ini. Kita sadar bahwa  perutusan itu milik Tuhan sendiri. Meskipun demikian orang beriman masih membutuhkan bahasa yang menunjuk identitas kelompok, seperti dikatakan dalam Kisah Para Rasul: “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kis. 11:26). Namun, kebanggaan itu bukan sekedar kartu Menjadi milik Tuhan itu lebih dari sekedar sebutan Kristen yang tercantum dalam KTP. Dengan keras Yesus berbicara kepada orang-orang Yahudi: “Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yoh.10:26-27). Itu berarti ada domba-domba yang bukan milik Tuhan, yang tidak mendengar suara Tuhan dan mengikuti-Nya. Ajakan Sang Juruselamat itu tidak pernah merupakan satu paksaan. Kabar Gembira itu propositif. Itulah sebabnya tanpa masuk dalam logika kerahiman Allah Bapa yang dinyatakan dalam wafat dan kebangkitan putera-Nya, tidak akan dapat dipahami arti pengorbanan yang harus dialami orang-orang yang disebut Kristen karena mengikuti Yesus.

Pada hari Minggu Paskah Keempat ini kita merayakan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang ke-60. Kita mau menghidupkan terus semangat doa untuk panggilan yang telah dicanangkan sejak Paus Paulus VI itu dengan berdoa untuk mohon kesuburan panggilan pelayanan dalam Gereja. Kita mau menyambut baik ajakan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk semakin menyadari keragaman panggilan Tuhan yang saling melengkapi dalam Gereja-Nya Seperti dikatakan dalam pesannya pada Hari Doa Panggilan Sedunia yang ke-59 pada tanggal 8 Mei tahun yang lalu: Dalam Kisah Panggilan Pemuda Kaya, Penginjil Markus menceritakan “Yesus memandang dia, mengasihi dia” (Mrk. 10:21). Tatapan Yesus ini, penuh kasih, bersandar pada kita masing-masing. Saudara dan Saudari, marilah kita membiarkan diri kita tergerak oleh tatapan ini untuk mengizinkan-Nya memimpin kita keluar dari diri kita sendiri! Marilah kita juga belajar untuk saling memandang sedemikian rupa sehingga semua orang yang hidup dan kita jumpai – siapa pun mereka – akan merasa disambut dan menemukan bahwa ada Seseorang yang memandang mereka dengan kasih dan mengundang mereka untuk mengembangkan potensi diri mereka sepenuhnya. Tatapan Allah yang penuh kasih dan kreatif bertemu dengan kita dengan cara yang sepenuhnya unik di dalam Yesus. Hidup kita berubah. Ketika kita menyambut tatapan ini, semuanya menjadi dialog panggilan antara diri kita dengan Tuhan, tetapi juga antara diri kita dengan orang lain. Dialog, yang dialami secara mendalam, membuat kita semakin menjadi diri kita sendiri. Dalam panggilan imamat mereka yang ditahbiskan, panggilan ini menjadi alat rahmat dan belas kasih Kristus. Dalam panggilan hidup bakti, terwujud pujian bagi Allah dan nubuat kemanusiaan baru. Dalam panggilan berkeluarga, pria dan wanita saling memberi dan menjadi guru kehidupan. Dalam setiap panggilan dan pelayanan gerejawi, kita melihat orang lain dan dunia dengan mata Tuhan, untuk melayani kebaikan dan menyebarkan cinta kasih dengan karya dan perkataan kita.”

Oleh karena itulah, reksa pastoral kaum muda yang semakin terbuka pada keragaman “realitas luar biasa” untuk melayani Tuhan harus terus menjadi keprihatinan kita semua. Seperti dikatakan oleh Bapa Suci dalam Seruan Apostolik Pasca Sinode Christus Vivit pada tanggal 25 Maret 2019: “Reksa pastoral orang muda tidak bisa tidak sinodal; yaitu mampu membentuk suatu “berjalan bersama” yang mencakup “pengembangan karisma-karisma yang diberikan Roh menurut panggilan serta peran setiap anggotanya, melalui sebuah dinamika tanggung jawab bersama. […] Dijiwai oleh semangat ini, kita dapat maju menuju Gereja yang partisipatif dan memiliki rasa tanggung jawab bersama, mampu mengembangkan kekayaan dari keberagaman yang dimilikinya, juga menerima sumbangan kaum awam dengan rasa syukur, termasuk diantaranya orang-orang muda dan perempuan-perempuan, kaum religius, juga kelompok-kelompok, perkumpulan-perkumpulan, dan gerakan-gerakan. Tidak ada seorang pun yang harus diasingkan atau mengasingkan diri. Dengan cara ini, dengan belajar satu sama lain, kita dapat merefleksikan dengan lebih baik bahwa aneka ragam realitas yang luar biasa itu adalah Gereja Yesus Kristus. Gereja bisa menarik orang muda justru bukan karena kesatuan teguh-tak-berubah (monolitik), melainkan suatu jalinan beragam anugerah yang tiada henti dicurahkan oleh Roh kepada Gereja, dengan membuatnya selalu baru kendati pun ada banyak penderitaannya. (Christus vivit, 206-207).

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *