JADI SAKSI KEMULIAAN TUHAN

HARI RAYA PENTAKOSTA (28 Mei 2023)
Kis. 2:1-11 atau Kis. 1:12-14; Mzm. 104:1ab, 24ac, 29c-30, 31, 34;
1Kor. 12:3b-7, 12-13; Yoh. 20:19-23

PENTAKOSTA adalah hari yang dijanjikan Tuhan Yesus. Roh Kudus akan turun kepada para murid dan kini juga kepada kita. Roh Kudus adalah sebuah senjata; yang memberi semangat baru, penghiburan, pengharapan dan keberanian. Roh Kudus turun ke atas para rasul, dan seketika itu juga mereka semua berbicara dan mewartakan semua perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah dalam berbagai bahasa.

Roh Kudus yang juga kita terima waktu Baptis dan Krisma. Roh yang sama membimbing hidup kita. Namun, daya Illahi itu sering tertidur di dalam diri kita, karena kita tidak menyadari kehadiran dan kekuatannya sehingga dalam kita sering kehilangan daya. Sejatinya, hal seperti yang terjadi pada para rasul seharusnya terjadi pada kita. Roh Kudus tidak semata mata hanya turun dan mendiami kita tanpa ada usaha, melainkan bersama Roh Kudus kita berani untuk keluar dari diri kita, keluar dari zona aman lalu pergi untuk bersaksi dan mewartakan Yesus.

Dalam Injil hari ini kita akan menemukan kata-kata Yesus, “ Jika penolong yang Aku utus dari Bapa datang, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.” Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri dan membiarkan Roh Kudus hanya tinggal dalam diri kita. Ironisnya adalah kita sering berdoa—novena Roh kudus atau doa-doa lainnya—memohon agar Roh Kudus hadir dalam hidup kita, tetapi yang terjadi adalah kita hanya sampai pada menjadikan Roh Kudus sebagai alat untuk melindungi kepentingan diri kita. Di dalam kepentingan diri itu, kita justru menyembunyikan atau tidak mempedulikan apa yang seharusnya kita lakukan setelah Roh Kudus memasuki hati kita. Kita seolah-olah memonopoli Roh Kudus untuk diri kita sendiri dengan melupakan apa yang seharusnya kita lakukan yaitu keluar dan pergi menyaksikan kemuliaan Allah kepada semua orang.

Perlu diingat,  bahwa kita tidak harus bersaksi dalam hal-hal yang luar biasa atau spektakuler, tetapi bisa bersaksi mulai dari hal-hal kecil atau sederhana dalam kehidupan sehari-hari,  entah dalam keluarga, komunitas, tempat kerja  dan dalam kehidupan bermasyarakat. Sukacita dan kebenaran yang sesungguhnya adalah apabila kita berani bersaksi kepada orang lain tentang kemuliaan Tuhan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *